Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Masih Trauma


__ADS_3

Ia segera membayar belanjaan sang istri yang bernilai ratusan juta namun seakan tak berarti apa apa bagi seorang Bryan hendrawan.


Setelah selesai berbelanja, mereka kembali ke mansion Bryan.


"Mamaaa" si kecil Zio langsung berlari menghambur sang mama yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Kenapa? Hem?" Tanya Mia yang sudah menggendong sang anak.


"Angen" cicit bocah itu.


"Jadi Zio kangen nya cuma sama mama doang nih? Sama papa nggak kangen?" Bryan beralih ke mode cemburu.


Zio menggelengkan kepala nya, ia merentangkan tangannya pada sang papa.


Dengan cepat Bryan mengambil Zio dari gendongan sang istri.


"Angen papa" Zio menyembunyikan kepalanya diceruk leher sang papa.


"Zio wants to buy a toy?"


(Zio ingin membeli mainan?) Tanya Bryan.


Zio menggeleng dalam pelukan Bryan.


"No, i just want to sleep and hug papa"


(Tidak, aku hanya ingin tidur dan dipeluk papa) cicit bocah itu.


Are you serious? do you really not want to buy a toy car?


(Apakah kamu serius? apakah kamu benar-benar tidak ingin membeli mobil mainan?)

__ADS_1


"may i have both"


(Bolehkah aku meminta keduanya?) Tanya Zio menatap sang papa.


Bryan hanya terkekeh dengan sikap anaknya itu. Zio memang pintar.


Kalau bisa dua kenapa harus satu? Mungkin itu prinsip bocah itu.


"Oke boy, sekarang kita beli mainan" ucap Bryan menggendong sang putra menuju mobil.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di toko mainan.


Bryan menggandeng tangan anaknya memasuki toko itu.


Ia membiarkan Zio memilih mainan kesukaan nya.


Mata Bryan tak sengaja menatap seseorang yang dikenalnya.


"Hay bro, kamu disini juga?" Tanya Bryan menyapa.


"Eh, iya. Aku sedang menemani anakku membeli mainan. Katanya ada lego terbaru"


Bryan mengangguk mengerti


"Kau sendirian kesini?" Tanya Rifqi.


"Tidak, aku juga sedang mengantar putraku membeli mainan, itu dia sedang memilih" tunjuk Bryan pada sang putra yang sibuk memilih mainan.


"Bukankah Ara (istri Rifqi) sudah saatnya melahirkan?" Tanya Bryan.


Rifqi mengangguk

__ADS_1


"Iya, Hpl nya tinggal 1 minggu lagi. Oh ya, kau tak berencana launcing anak kedua?"tanya Rifqi.


"Belum ada sih, aku masih trauma melihat istriku kontraksi dulu. Apalagi dulu Mia sempat pendarahan. Aku masih belum siap jika melihatnya kesakitan untuk kedua kalinya" cicut Bryan.


Merekapun mengobrol sembari menunggu anak anak mereka selesai memilih maiannya.


"Papa" bocah kecil itu menarik narik celana sang papa.


"Kenapa? Kau sudah mendapatkan pilihanmu?" Tanya Bryan.


Zio kecil mengangguk, ia menyerahkan satu mobil remot kesukaan nya pada sang papa.


"Hanya ini?" Tanya Bryan lagi.


Zio mengangguk


Bryan menghembuskan napasnya. Ia menarik anaknya menuju rak mobil mobilan lagi.


"Zio, pilihlah lagi mobil mobilan kesukaan mu. Masak kau hanya membeli satu"


Mata Zio berbinar, ia menunjuk satu buah mobil mobilan yang dari tadi ia idamkan.


Sebuah mobil mobilan yang besar yang pastinya bisa dikendarai sendiri maupun di remot.


"I want this" ucap Zio memegang mobil mobilan besar itu.


Bryan mengacak rambut anak nya.


"Okey, kita beli ini dan itu" ucap Bryan menunjuk mobil mobilan ditangan Zio dan mobil besar yang ditunjuk sang putra.


"Bial cama kaya punya papa" tunjuk Zio.

__ADS_1


Bryan pun mengangguk, ia meminta pelayan toko untuk mengirimkan mobil itu kerumahnya.


__ADS_2