
Ia terus saja mengecup dahi sang istri berusaha menguatkan Mia.
"Apapun yang terjadi nanti kamu harus tetep kuat dan bertahan demi aku dan anak kita. Kamu inget kan sama janji kamu" Bryan mengingatkan.
Mia hanya mengangguk lemas
Beberapa saat kemudian, dokter memberi instruksi Mia agar mengejan.
Arghhh
Arghhh
Dua kali Mia mengejan bayi nya masih belum keluar.
Dokter memperkirakan karna bayi nya yang besar. Saat usg terakhir kali berat bayi itu sudah 3,9 kilogram.
Arghhh
Mia mengejan ke tiga kalinya.
Nafasnya terengah engah. Ia mencengkram tangan sang suami untuk membagi sakit nya.
Keringat dingin mengucur di dahi Mia.
"Mas, aku nggak kuat" lirih Mia dengan wajah pucat nya.
Bryan semakin dibuat kebingungan dengan ini semua.
Mata Bryan terus saja mengalirkan cairan nya.
Mulutnya terus saja menyemangati sang istri.
"Sayang, aku yakin kamu kuat. Kamu inget kan janji kamu" Bryan kembali mengingatkan sang istri.
"Ayho nyonya sekali lagi" dokter menginstruksi.
Arghhhh
Oekkk
Oekkk
Oekkk
__ADS_1
Bayi itu terlahir.
"Laki laki tuan" ucap dokter itu.
Bryan tak henti hentinya mengecup kening sang istri.
"Makasih sayang"
Mia hanya tersenyum dengan wajah pucat nya. Ia sudah kehabisan tenaga nya saat ini.
Hanya air mata yang mampu.menggambarkan perasaan Mia saat ini.
Dokter itu menyerahkan bayi itu agar di adzani oleh Bryan, selaku ayah sang bayi.
Mia nampak meneteskan air mata nya.
Dokter kembali mengambil bayi itu dan menyerahkan nya pada Mia.
Dengan sigap nya bayi itu mencari sumber minum nya.
Mia hanya tersenyum lemas saat bayinya menyusu pada nya.
Setelah dirasa anak itu kenyang, dokter mengambil bayi itu dan memasukan nya ke box bayi.
"Mas" panggil Mia.
Mia menggeleng lemah
"Tugas ku sudah selesai mas" ucap Mia lirih.
Degg
"Siapa bilang? Tugasmu masih banyak. Kamu harus merawat dan membesarkan anak kita" ucap Bryan panik.
"Dok, nyonya Mia mengalami pendarahan" ucap salah seorang suster yang menangani Mia.
Deg
Deg
Jantung Bryan semakin terhujam
"Kamu harus tetap kuat, oke? Kau ingat kan dengan janjimu"
__ADS_1
"Aku ingin istirahat mas, aku lelah" ucap Mia lirih.
Mata nya perlahan tertutup rapat.
"Sayang, sayang, Mia" panggil Bryan pada sang istri yang sudah menutup mata nya.
Air mata Bryan sudah tak terbendung lagi.
"Dokter, kenapa istri saya menutup matanya?" Bryan panik.
"Anda jangan panik dulu tuan, silahkan anda keluar dahulu. Kami akan menangani istri anda"
Tittttttt
Tiba tiba alat detak jantung Mia berbunyi yang menandakan detak jantung Mia telah hilang.
Bryan langsung melebarkan matanya.
Ia menepuk nepuk pipi sang istri
"Mia, sayang, bangun. Kamu kenapa?" Bryan kaget.
"Anda silahkan keluar dahulu tuan"
Mau tidak mau Bryan meninggalkan istrinya.
Ia menunggui Mia diluar ruangan itu. Semua keluarga panik melihat Bryan yang keluar dengan air mata.
Bryan langsung menutupi wajahnya dengan telapak tangan nya.
Ia masih belum siap dengan semua nya.
Kenapa alat pendeteksi jantung nya tadi berbunyi.
'apa Mia ku akan meninggalkan ku?'
'baru aku akan menghirup kebahagiaan namun dengan tidak adilnya tuhan mengambilnya secara paksa'
'bagaimana denganku dan putraku'
Batin Bryan
Ia sudah berasumsi buruk dengan semua nya.
__ADS_1
Para keluarga menanyakan apa yang terjadi, namun Bryan hanya diam menatap kosong kedepan sambil meneteskan air mata nya.
Hal buruk yang Mia katakan dulu tentang kematian nya terngiang ngiang di otak nya.