
Mama Gita langsung berdiri dari duduk nya.
"Kamu gimana sih Bry, seharusnya istri kamu cepet cepet kamu bawa ke rumah sakit" mama Gita marah.
"Mia sendiri yang minta buat nanti aja"
"Kamu gimana sih Mi, nanti kalau sampai brojol dirumah gimana?" Omel mama Gita.
"Masih belum sakit banget ma, Mia masih bisa tahan. Mia mau sarapan dulu abis itu baru kerumah sakit" suara lembut Mia mampu neredam emosi mama Gita.
"Ya udah kalau gitu cepet abisin sarapan nya, biar cepet kerumah sakit" ucap mama Gita.
Bryan pun segera mengambilkan makanan untuk istri nya.
Semenjak usia kandungan Mia menginjak usia 7 bulan, ia tak lagi mengambil makanan nya sendiri ataupun mengambilkan makanan untuk sang suami.
Justru Bryan lah yang mengambilkan nya makanan karna ngeri sendiri melihat perut buncit Mia tertekan pinggiran meja makan.
"Makasih mas" ucap Mia yang diangguki Bryan.
Mia sendiri segera menghabiskan makanan nya sambil menahan rasa sakit yang terus saja datang.
Setelah selesai, Mia berdiri dari duduk nya.
"Auhhh" ringis nya saat merasakan sakit yang lebih dari tadi.
"Aku gendong aja ya?" Tawar Bryan.
__ADS_1
Mia menggeleng
" Aku masih bisa jalan mas" ucap Mia.
Ia berjalan sambil memegang lengan sang suami. Sata sampai di teras, Mia kembali merasakan rasa sakit itu.
Ia menghentikan langkah nya dan mencengkram tangan sang suami.
Bryan paham dengan sakit yang dialami Mia.
Mereka segera masuk mobil dan melajukan nya menuju rumah sakit.
Setelah sampai, Mia langsung ditangani dokter
"Sejak kapan anda merasakan sakit?" Tanya dokter itu.
"Sudah pembukaan empatnyonya, sebaiknya anda banyaklah bergerak. Sampai saat ini belum ada tanda tanda terjadinya pendarahan awal. Sebaiknya berdoa semoga tidak terjadi hal seperti itu"
Bryan menyuruh mama Gita untuk kembali pulang.
Hanya tinggal Mia dan Bryan sendiri lah yang ada diruangan itu. Mia masih saja berjalan jalan ditemani oleh Bryan.
Langkahnya sering terhenti saat merasakan kontraksi lagi.
Bryan sudah mengabari adik nya bahwa Mia akan lahiran, namun ia memberitahu sang adik untuk jangan datang dulu kerumah sakit.
Tak terasa jarum jam berputar sangat cepat.
__ADS_1
Tak terasa 14 jam setelah Mia dinyatakan pembukaan 4 kini Mia baru mengalami pembukaan lima.
Sangat lambat memang, bahkan jauh lebih lambat dari proses Dilla saat melahirkan dulu.
Malam itu, Bryan maupun Mia sama sekali tak tidur.
Mia tak bisa tidur karna merasakan sakit yang mendera nya. Sedangkan Bryan tak tidur karna menemani istri nya.
Mia selalu saja makan buah dan meminum air putih untuk menjaga tubuh nya agar tetap kuat.
Entah sudah berapa botol infus yang masuk ke tubuh Mia.
Kini tepat pukul 7 pagi, dokter kembali mengecek pembukaan Mia sekaligus mengganti infus Mia.
"Sudah masuk ke pembukaan tujuh" ucap dokter itu.
"Apakah kelahiran nya masih lama?" Tanya Bryan.
"Kelihatan nya masih tuan, nyonya Mia mengalami pembukaan yang lambat" ucap dokter itu.
"Apa tidak ada cara lain? Istriku sudah kesakitan dari tadi"
"Jalan satu satu nya hanya operasi tuan" ucap dokter itu lalu pamit undur diri.
"Sayang, kamu operasi aja ya?" Tawar Bryan pada sang istri.
Mia menggeleng
__ADS_1
"Nggak mau mas" tolak Mia.