
Mia dan Bryan pun segera mengganti baju nya ke baju yang kedua.
Mia kembali dirias setipis mungkin sesuai permintaan Bryan.
Kecantikan Mia bertambah bersinar kala ia mengenakan jilbab nya.
Bryan menggandeng tangan Mia dan membawa nya mendekat ke rekan bisnis nya untuk memperkenalkan sang istri.
"Istri anda sangat cantik tuan Bryan"
"Anda pintar mencari istri"
"Semoga lahiran nya lancar"
"Semoga sehat sampai lahiran"
"Semoga lahiran nya di mudahkan"
Dan masih banyak lagi doa doa dari para tamu undangan.
Acara telah selesai, para tamu undangan sudah pulang ke kediaman nya masing masing.
Mia dan Bryan mengistirahatkan badan nya di dalam kamar.
Bryan mengusap usap pinggang sang istri karna dari tadi Mia mengeluh pinggang nya terasa ngilu.
"Mas ngusap nya yang cepet, pegel banget" pinta Mia.
__ADS_1
Mia menambah kecepatan usapan nya di pinggang Mia.
"Gimana kalo pake minyak urut aja?" Tawar Bryan.
"Nggak mas, kata dokter nggak boleh asal pakek minyak kayak gitu"
Bryan pun mengangguk mengerti. Ia kembali mengusap pinggang sang istri.
"Mas, panggilin Dinda dong" pinta Mia.
"Emang nya kenapa?" Tanya Bryan.
"Mau aku minta i tolong buat pijit kaki aku, pegel banget seharian berdiri" pinta Mia.
"Kamu nggak bisa pijit sendiri?" Tanya Bryan.
"Mana bisa mas, liat kaki sama pegang kaki aja nggak bisa apalagi mijit mas, liat nih perutku udah segede ini" gerutu Mia.
"Lah kan aku juga nggak tau" jawab Bryan.
"Loh kok kamu yang mijat mas?" Tanya Mia.
"Udah nggak papa, lagian kan ada aku. Masak harus nyuruh Dinda sih"
Mia pun mengangguk mengerti
Malam pun semakin larut dan akhir nya sepasang manusia itu tertidur pulas.
Pagi hari, mereka semua beraktifitas seperti biasa nya.
Hari ini Mia tak datang ke kantor Sang suami karna badan nya masih lelah karna acara kemarin.
__ADS_1
Siang hari, tidak seperti biasa nya.
Kini Mia makan siang berdua hanya dengan sang mertua.
Biasanya Mia selalu makan berdua dengan Bryan karna ia selalu datang ke kantor Bryan saat menjelang makan siang.
"Tumben tidak ke kantor suami mu" ucap mama Gita tiba tiba.
Mia sempat tertegun karna tak biasa nya mertua nya mengajak nya bicara lebih dulu.
"Mi mia kelelahan karna acara kemarin ma" jawab Mia gugup.
"Ingat lah, kau wanita hamil. Kau tidak boleh terlalu kelelahan" mama Gita memperingatkan.
"Ma, boleh aku bertanya?" Tanya Mia ragu ragu.
"Tanyakan saja"
"Apa mama menyesal karna mas Bryan menikahi ku?"
"Jangan tanyakan sesuatu yang kau sudah tau jawaban nya"
"Jika seandai nya, hanya seandai nya aku mati saat melahirkan nanti apa mama akan menyayangi anak ini walaupun anak ini terlahir dari rahim ku?" Tanya Mia.
Mama Gita menatap mata Mia
"Kau menyembunyikan sesuatu?" Selidik mama Gita.
Ia bukanlah anak kecil lagi, mama Gita tau betul menantu nya sedang menyembunyikan sesuatu.
Mia menggeleng
__ADS_1
"Tidak ada ma" jawab nya meyakinkan.
"Mau bagaimanapun dia cucu ku, Anak dari Bryan. Otomatis dalam diri nya mengalir darah ku. Walaupun dia lahir bukan dari wanita yang ku ingin kan tapi tetap saja aku akan menyayangi nya"