Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Hamil?!!


__ADS_3

"Ish tumben banget jam segini belum bangun kamu" gerutu Bryan.


"Daripada kamu banyak komen mending peluk aku sini mas" kesalnya dengan mata terpejam.


"Aku mau mandi yang, udah malem"


"Bentar doang mas, 5 menit aja"


Bryan mengalah, ia kembali membaringkan tubuhnya dan memeluk sang istri.


Mia langsung memeluk erat sang suami. Ia bahkan menduselkan wajahnya di ketek Bryan.


"Ih yang jorok banget masak dusel dusel diketek sih"


"Nggak papa mas, lagi pula ketekmu wangi" ucap Mia tambah mendusel duselkan wajahnya.


Tangan Mia tak tinggal diam, ia memasukan tangannya kedalam baju sang suami dan mulai mengusap dada berotot milik Bryan.


"Yang jangan gini" suara Bryan mulai memberat.


Mia mendongak


"Mas sekali aja ya" pinta Mia mengiba pada sang suami.


"Tapikan tadi malem udah"


"Itukan tadi malem mas, beda ini udah pagi" kesal Mia.


"Iya deh terserah kamu" Bryan pasrah.


Mendengar Persetujuan sang suami membuat mata Mia berbinar sempurna.


Ia segera memulai aksinya.


1 jam kemudian, Mia sudah lemas diatas tubuh sang suami.


"Udah gitu aja?" Tanya Bryan.


Mia mengangguk malu malu


Bryan segera menggendong sang istri menuju kamar mandi. Merekapun membersihkan dirinya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukan pukul 8,


Bryan baru saja berangkat kerja karna ulah istrinya tadi pagi.


Ia begitu heran dengan para karyawan yang menatapnya sambil tersenyum aneh.


Saat meeting pun para kolega bisnis Bryan terlihat seperti menahan senyum.


Jam sudah menunjukan pukul 11 siang, Bryan kembali keruangan nya.


Tok


Tok


Tok


Pintu ruangannya diketuk


"Ada apa?" Tanya Bryan pada asistennya.


Asisten Rafa malah menyodorkan sebuah foundation dengan shade paling putih seperti kulit Bryan.


Bryan mengernyit


"Hei apa kau bodoh, itu produk wanita. Lagipula kenapa aku harus memakainya"


"Karna lehermu bos"


"Hah?" Bryan bingung asisten Rafa menyerahkan cermin untuk sang bos.


Wajah Bryan memerah saat melihat banyak tanda merah dileher putihnya.


"****, jadi mereka semua menatapku aneh gara gara ini" gumamnya.


Bibirnya tersungging senyum saat membayangkan adegan panasnya tadi pagi bersama sang istri.


"Istriku memang yang terbaik" gumamnya.


"Anda mengatakan sesuatu bos?" Tanya asisten Rafa mendengar sedikit sedikit ucapan sang bos.


"Enggak, kamu keluar sana" usir Bryan pada sang asisten.

__ADS_1


Asisten Rafa pun keluar dari ruangan Bryan.


Sore hari, Bryan pulang dari kantor.


Ia segera membersihkan tubuhnya yang sudah lelah beraktifitas seharian ini.


"Mas" panggil Mia saat Bryan sedang duduk disofa kamar.


"Kenapa?"


Mia menyerahkan sebuah alat yang sama sekali tak Bryan ketahui.


"Ini apa memangnya? Termometer? Memangnya Siapa yang demam?" Tanya Bryan.


"Ish mas, itu bukan termometer, itu testpack"


"Oh tespack, terus ngapain kamu kasih ke aku?" Tanya Bryan.


"Liat dulu dong garisnya" kesal Mia pada sang suami.


"Iya aku tau, garisnya dua. Maksudnya apa?"


"Aku hamil mas" kesal Mia.


Bryan membelalakan matanya


"Hah? Hamil?" pekik Bryan kaget.


"Kamu nggak suka aku hamil lagi?" Selidik Mia


"Enggak yang, aku justru malah seneng banget. Perasaan baru kemarin kita nikah eh ini udah mau punya dua anak aja" ucapnya sambil terkekeh.


Bryan memeluk tubuh istrinya itu


"Ya udah yuk kebawah makan malam" ucap Bryan yang diangguki Mia.


Merekapun makan malam dengan tenang.


"Ma, yah" paggil Bryan.


Kedua orang paruh baya itu mendongakan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2