
Bryan begitu yakin bahwa istrinya akan kembali bangun dan menemani nya.
"Baiklah, aku akan menghitung tiga kali lagi"
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
"Sayang, bangunlah" nada bicara Bryan mulai naik satu oktaf.
"Sayang, bukanlah kau berjanji akan tetap bersama menemaniku dan anak kita?"
"Sayang jangan menakuti ku dengan cara seperti ini"
Mama Gita memeluk tubuh putranya yang masih sibuk mengusap usap jenazah istrinya itu.
"Bryan, sadarlah nak. Mia sudah tiada, biarkan dia tenang disisi tuhan" mama Gita mengusap usap punggung sang anak.
"Bagaimana aku bisa rela ma?! Dia meninggalkanku ma! Dia pergi!! Bagaimana dengan aku dan anakku?! Aku tak bisa hidup tanpanya ma,!! Tidak bisa!! Mia bangunlah!!!" Bryan mulai histeris.
semua nampak meneteskan air matanya melihat kondisi kacau Bryan.
Bryan tersenyum, ia mengusap air matanya begitu saja.
"Dulu kau bilang mencintaiku, tapi nyatanya apa? Kau meninggalkan aku dan anak kita. Mana cinta yang dulu slalu kau banggakan? Kau bilang jika kau meninggalkanku aku harus tetap menatap kedepan. Lalu apa artinya hidupku tanpamu? Bagaimana aku bisa menatap kedepan kalau hatiku sudah kau bawa pergi bersamamu?"
Bryan tersenyum getir
"Kembalilah, jika kau mencintaiku kembalilah padaku. Jika kau tak mencintaiku, maka pergilah aku akan mencoba ikhlas" sungguh berat bagi Bryan untuk mengucapkan kata itu.
Bryan menggoyang goyangkan tubuh sang istri
__ADS_1
"Bangunlah Mia!! Katakan bahwa kau mencintaiku!"
"Mia, kembalilah jika kau mencintaiku" lirih Bryan kehabisan tenaganya.
tak disangka, tangan Mia bergerak. Dokter kaget melihat tubuh tak bernyawa itu kembali bergerak.
"Kalian lihatkan? Istriku masih ada" ucap Bryan tersenyum.
Dokter itu langsung memasang kembali alat pendeteksi detak jantung.
Dan benar saja, Alat itu menunjukan pergerakan statistik yang menandakan ada nya detak jantung.
"Sungguh kuasa tuhan. Ini pertama kalinya saya melihat seperti ini" ucap dokter itu.
Semua bernafas lega
Mereka semua bersyukur atas kembali nya Mia.
"Bagaimana keadaan istri saya dok??"
"Walaupun detak jantung nyonya Mia sudah kembali, namun kesadarannya sepertinya tidak akan ada diwaktu dekat ini"
"Apa maksudmu dok?!" Bryan mulai kesal pada dokter itu.
"Nyonya Mia mengalami Koma"
Degg
Cobaan apalagi ini?' pikir Bryan.
"Kau bohong kan dok?"
Dokter itu menggeleng
__ADS_1
"Memang seperti itu tuan Bryan.
Bryan tersenyum getir
Ia kembali mendekati sang istri yabg masih terbaring lemah.
"Tidak apa, walaupun kau koma, setidaknya kau masih ada disampingku dan anak kita. Berjuanglah sayang, aku akan membantumu dengan doa" ucap Bryan mengecup dahi sang istri.
Bryan memberi isyarat pada semua orang agar meninggalkannya.
"Kalian pergilah!" Titahnya tanpa bisa dibantah.
Sepeninggal semua orang, Bryan mengajak bicara istrinya.
Disini ia bagaikan orang yang sudah kehilangan kewarasannya.
Mama Gita menangis kala sudah keluar dari ruangan Bryan.
Ia menyesal telah memperlakukan menantunya dengan buruk.
Jika ia tak membuat Mia stress saat masa kehamilannya pasti hal seperti ini tak akan terjadi.
Ia sungguh miris melihat kondisi sang menantu yang terbujur lemah seperti tadi.
Apalagi ditambah kondisi Bryan yang seakan kehilangan semangat hidupnya.
1 minggu kemudian,
Anak Bryan masih dirumah sakit. Bahkan bayi itu ditempatkan satu ruangan yang sama dengan sang mama.
"Sayang, sudah satu minggu kamu lari dari tanggung jawabmu. Apa kau tidak bosan?" Ucap Bryan membelai wajah sang istri.
"Bangunlah, anak kita menunggumu"
__ADS_1