Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Kenapa Diam?!


__ADS_3

"Gimana kalau pelayan rumah?" Tawar Bryan lagi.


Mia kembali menggeleng


"Nggak usah mas, aku sendiri aja. Lagian aku juga mau istirahat" Mia beralasan.


Bryan pun mengangguk mengerti.


Bryan pun segera keluar dari kamar rawat Mia dan mulai melajukan mobil nya menuju mobil.


Sesampai nya dikantor, ia di tanya i oleh sang asisten, Rafa.


"Kenapa anda tiba tiba langsung pergi pak?" Tanya Rafa.


"Istriku kecelakaan" jawab Bryan.


"Hah? Kok bisa? Bagaimana keadaan nya?"


"Yang punya istri aku kok yang heboh kamu" cibir Bryan.

__ADS_1


Rafa hanya terkekeh canggung dengan sang bos.


...


Setelah kepergian Bryan, Mia menghubungi sang ayah dan ibu agar menjenguk nya.


Beberapa saat kemudian, ayah johan dan ibu kandung Mia, Lia datang menjenguk Mia.


"Bagaimana keadaan mu nak?" Tanya ayah Johan.


"Mia nggak papa yah, Mia cuma kaget aja tadi" jawab Mia.


"Nggak papa gimana? Kata nya sampe pendarahan" omel ibu Lia.


"Yah, sampe kapan ayah menyembunyikan ini semua? Cepat atau lambat mereka semua akan tau yang sebenar nya. Bahkan aku yakin penyebab kecelakaan ini adalah Rama. Karna tadi aku sempat melihat dia mengikuti mobil yang kutumpangi. Bahkan dia dengan sengaja berhenti di depan mobilku hingga supir banting setir" jelas Mia.


"Benarkah? Ini belum saat nya. Ayah masih belum terlalu yakin. Nanti jika sudah saat nya ayah akan mengatakan yang sebenar nya pada mereka"


"Tapi yah, kau tak bisa terus terusan begini. Lihatlah, dia selalu mengincar nyawa ku. Aku tidak masalah jika suatu hari nanti nyawa ku terenggut. Namun sekarang kondisi nya beda. Sekarang ada nyawa di perut ku yang harus aku lindungi" teriak Mia kesal.

__ADS_1


Emosi nya meluap berapi api. Sudah terlalu banyak beban yang ia pikul selama ini.


"Apa kau selemah itu sampai kau membutuhkan waktu 20 tahun hanya untuk mengungkap kejahatan Rama?!"


"Bukan itu saja nak masalah nya. Kamu tau kan seberapa parah penyakit ayah. Ayah tidak mau mereka sedih saat tau kondisi ayah" jawab Johan.


"Tapi bukankah kau melihat siapa yang paling menderita disini yah? Aku!! Akulah yang menderita disini. Aku mendapatkan cacian, hinaan bahkan kebencian mereka selam 20 tahun lama nya. Tapi apa?! Kau masih saja berkata tak ingin menyakiti Dilla dan ibu nya. Apa kau tidak ingat bahwa aku disini yang kau korban kan?!" Mia beteriak meluapkan emosi nya.


Ibu Lia tau betul bagaimana kondisi anak nya. Sebagai seorang dokter, ia tau kondisi mental anak nya sedang tidak baik baik saja.


Ia tau selama ini anak nya selalu ke psikiater untuk memperbaiki kondisi mental nya.


Ibu Lia mengusap usap pundak anak nya.


"Sudah, jangan emosi, jangan terlalu stress juga. Kau harus memikirkan anak yang dikandung mu juga" Lia menasehati.


"Bu, kenapa kau diam saja selama ini?! Kau tau kan rasanya dihina dan ditindas. Tapi kenapa kau diam saja? Tidak kah kau berfikir bahwa aku yang terimbas dari semua rencana kalian?" Mia kembali emosi.


"Baiklah, secepat nya ayah akan berkata yang sejujurnya pada mereka semua" ucap Johan.

__ADS_1


"Secepatnya?! Bukankah dari beberapa tahun yang lalu kau juga bilang secepat nya?" Sinis Mia.


"Kalian pergilah dari ruangan ini" titah Mia dengan nada dingin.


__ADS_2