Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Bolehkah Aku Ikut?


__ADS_3

Bryan segera membersihkan tubuhnya dan bersiap menuju kantor.


Siang harinya,


Mia memutuskan untuk ke kantor sang suami. Ia ingin menjelaskan tentang masalah tadi pagi.



Ceklek, Mia membuka ruang kerja Bryan.


"Mas" panggilnya.


Bryan mendongak


"Duduklah terlebih dahulu"


Mia mengangguk, ia duduk disofa ruangan itu. Beberapa saat kemudian Bryan menutup laptopnya dan berjalan mendekati sang istri.


"Mas, aku pengen jelasin yang tadi pagi"


"Maaf karna aku telah membentakmu tadi pagi" ucapnya menunduk.


"Udahlah nggak usah dibahas lagi" Bryan menenangkan.


"Enggak bisa mas, se sebenarnya a aku mengalami depresi mas. Aku sudah mengalaminya bertahun tahun sejak aku sma. Untuk masalahnya apa, kurasa aku masih belum siap untuk menceritakan semuanya padamu mas. Pada intinya, aku hanyalah wanita gila yang mendapat keberuntungan bisa menikah denganmu" ucap Mia menunduk dengan air matanya.


Bryan mengusap punggung sang istri


"Tidak, ini semua sudah takdir dari tuhan untuk kita" ucapnya bijak.


"Apa kau menyesal karna menikah dengan wanita gila sepertiku?"


"Stt, kamu nggak gila. Lagi pula kata dokter kan kamu udah lebih baik kan?"

__ADS_1


"Darimana kamu tau mas"


"Itu rahasia" jawabnya terkekeh.


....


ke esokan hari nya, Bryan dan Mia menjalankan aktifitas sehari hari nya.


Hari ini Mia memutuskan untuk tidak ke kantor sang suami karna badan nya terasa letih semua.


Ceklekk


Pintu kamar Mia terbuka.


"Mas Bryan?" Kaget Mia saat melihat suami nya pulang kerja jam segini.


Padahal jam masih menunjukan pukul 11 siang.


"Kamu ngapain mas? Ini baru jam 11 lho" ucap Mia yang masih berbaring diranjang.


"Aku mau ngomong sesuatu" ucap Bryan.


"Ngomong apa memang nya?"


"Aku besok ada kerja di luar kota selama 3 hari" ucap Bryan.


"Ke kota mana mas?" Tanya nya.


"Di Bali"


Degg


"Bukankah kota itu sama tempat Lisa dipindah tugas kan?" Batin Mia.

__ADS_1


"Bolehkah aku ikut mas?" Tanya Mia.


"Aku disana kerja Mia. Lagi pula kamu sedang hamil, masak harus perjalanan jauh sih" jawab Bryan.


"Pokok nya aku pengen ikut titik" putus Mia tak bisa di ganggu gugat.


Bryan menghela napas nya.


Sungguh susah memang mengatasi marah nya ibu hamil. Ia lebih memilih menangani proyek besar yang hanya menghabiskan pikiran nya saja.


Menghadapi wanita hamil membutuhkan otak, tenaga, dan juga energi.


"Baiklah, aku mau mengurus berkas keperluan untuk besok. Jika kau mencari ku aku ada di ruang kerja" ucap Bryan meninggalkan kamar.


Sepeninggal Bryan, Mia langsung melebarkan senyum nya.


Suami nya mau membawa nya ikut untuk kerja di luar kota. Walaupun bukan Bryan yang meminta nya, tetapi setidak nya ia bisa mengawasi sang suami agar tak terlalu dekat dengan Lisa sesuai perjanjian mereka.


Mia langsung mengambil sebuah koper dan memasukan beberapa lembar baju nya dan baju Bryan.


Tak lupa ia juga menyisakan ruang untuk tempat berkas berkas Bryan nanti.


Ia sungguh bersemangat untuk esok hari.


Jam menunjukan pukul 2 siang,


Bryan membuka pintu kamar nya. Ia melihat istri nya sedang tidur dengan memeluk sebuah boneka.




Kemarin, sepulang dari butik Mia merengek pada Bryan agar membelikan nya boneka ice bear.

__ADS_1


Tapi Bryan tidak membelikan nya yang berakhir Mia menangis di dalam mobil.


__ADS_2