
Hal buruk yang Mia katakan dulu tentang kematian nya terngiang ngiang di otak nya.
Bayangan Mia saat mengatakan pesan pesan nya agar Bryan bahagia dan melanjutkan hidupnya masih teringat jelas di memori Bryan.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar.
Bryan langsung mendekat.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
Dokter itu menghela napas nya
Bryan semakin dibuat takut. Ia takut dengan kenyataan di depan nya.
"Maaf, nyonya Mia tak selamat. Tuhan lebih dulu menjemputnya" ucap dokter itu.
Duarr
Rasanya Bryan ingin mati sekarang juga. Kenyataan yang pahit ada dihadapan nya.
Sebuah peristiwa yang ia takutkan dari beberapa waktu lalu.
'kenapa tuhan mengambilnya secepat ini?'
Pertanyaan pertanyaan yang menyudutkan tuhan muncul di kepala Bryan.
Tangis Bryan sudah tak dapat dibendung lagi. Air mata nya sudah membasahi wajah tampan nya.
Ia masuk ke ruangan itu dengan langkah berat nya.
__ADS_1
Tatapan nya kosong menatap depan.
Istri yang baru saja ia cintai kini telah bersanding dengan sang pencipta.
Istri yang baru saja melahirkan darah dagingnya telah dipanggil kembali ke pangkuan tuhan.
Perpisahan terberat adalah kematian
Karma paling ringan adalah kematian, dimana seseorang tak lagi merasakan penderitaan karna ia hanya akan dihadapkan dengan pertanggungjawabannya dihadapan tuhan.
Kematian, ada orang yang menunggu waktu itu tiba. Ada pula yang berusaha menghindar berharap kematian menjauh dari dirinya.
Kematian, sebuah takdir tuhan yang tak dapat dihindarkan. Sesuatu yang mungkin menyakitkan bagi beberapa orang, namun juga membuat beberapa orang lega karna tak lagi merasakan sebuah Luka dan kerasnya hidup didunia.
Tuhan memiliki berjuta cara untuk makhluknya. Sebuah takdir yang tak bisa di ganggu gugat.
Sebuah kenyataan yang tak bisa ditawar. Tuhan tau kapan waktu tepat untuk sebuah kematian hinggap dalam dirimu.
Surga, neraka... Tidak ada yang tau kita akan dimana. Hanya tuhan yang berhak tau, dan saat kita tau bahwa kita terjerumus dalam api yang berkobar, yang tersisa hanya sebuah penyesalan.
Kata maaf pun seakan sudah tak ada gunanya lagi. Hanya ketaatan mu pada tuhan yang bisa menyelamatkanmu.
...
"Sayang" Bryan berucap lirih.
Ia mengusap dahi sang istri. Ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah pucat sang istri.
tubuh Mia kini sudah dingin kaku.
__ADS_1
"Sayang, bangun. Anak kita membutuhkan mu" Bryan berucap lembut.
"Sayang, bukankah kau ingat janjimu?"
"Ayolah, jangan bercanda seperti ini. Ini sama sekali tidak lucu" ucap Bryan.
Semua keluarga menatap iba pada lelaki tampan itu.
"Bryan, sabarlah nak" ayah Johan menguatkan sang anak.
"Apa yang perlu aku sabari ayah? Istriku akan kembali sebentar lagi. Dia sudah berjanji hanya akan istirahat sebentar" ucap Bryan tersenyum yakin.
Semua semakin sedih menatap Bryan.
"Bryan, sadarlah nak. Istrimu telah tiada" mama Gita mengingatkan.
"Tidak ma, istriku masih ada. Dia hanya istirahat sebentar" ucap Bryan kembali.
Dokter disana pun ikut meneteskan air mata nya.
"Sayang, aku hitung sampai tiga, kamu harus kembali ya? Bukankah kau ingat janjimu padaku?" Bryan mengusap dahi istrinya yang sudah dingin itu.
"Satu"
"Dua"
"Tiga"
Tidak ada respon dari tubuh Mia.
__ADS_1
"Ayolah sayang, aku sedang malas bercanda. Bangunlah, aku dan anak kita menunggumu"
Bryan begitu yakin bahwa istrinya akan kembali bangun dan menemani nya menghabiskan sisa umurnya didunia.