Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Air Mata Bryan


__ADS_3

"Sayang, kamu operasi aja ya?" Tawar Bryan pada sang istri.


Mia menggeleng


"Nggak mau mas" tolak Mia.


"tapi nanti bakal bahaya kalau terlalu lama"


"pokoknya aku nggak mau operasi mas" tolak Mia kesekian kalinya.


Bryan mengusap wajahnya kasar, ia bingung bagaimana caranya membujuk sang istri agar mau dioperasi.


lagi pula kata dokter jika dipaksakan takutnya Mia sendiri yang ketakutan yang bisa membuat tensi darahnya naik yang otomatis tidak bisa dioperasi, bahkan bisa menimbulkan akibat buruk lainnya.


Sudah berkali kali Dilla dan mama Gita menghubungi Bryan menanyakan keadaan Mia.


Namun jawaban yang sama


'pembukaan nya belum sempurna' jawab Bryan


hanya itu yang menjadi jawaban Bryan. Sejujurnya Bryan sendiri takut sekaligus kasihan melihat istrinya yang terus saja meringis kesakitan.


Bryan dikagetkan dengan kedatangan mama Gita, Dilla dan juga Aldy.


"Loh kalian kenapa kesini?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Bryan.


"Menjenguk istrimu lah, apa lagi?" Sinis Aldy.


"Gimana keadaan kak Mia kak?" Tanya Dilla.


"Dia masih pembukaan tujuh" ucap Bryan.


Dilla menatap iba kakak ipar nya itu. Mama Gita terus saja mengusap perut sang menantu sambil meramalkan doa nya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, ayah Johan dan Lia, ibu Mia datang menjenguk Mia.


Mia hanya tersenyum dengan wajah pucat nya saat melihat antusias para keluarga menunggu kelahiran anak nya.


Mia hanya memiringkan tubuh nya sambil memegang kuat tangan sang suami.


Kontraksi yang dirasakan nya terus saja berlangsung.


Bryan meminta semua untuk pulang terlebih dahulu.


Ia tau istrinya tak bisa mengeluh dihadapan orang lain.


Ibu Lia berpesan pada anak nya agar tetap kuat dan bertahan. Mama Gita selalu memberi semangat pada menantunya itu.


Tak terasa waktu bergulir kembali.


Hari sudah kembali malam,


Jam sudah menunjukan pukul 8 malam


Pembukaan yang Mia hadapi sudah pembukaan tujuh.


Air ketuban Mia sudah pecah beberapa jam lalu.


dokter terus saja memberi saran pada Mia agar melakukan tindakan operasi karna resiko yang Mia alami sangatlah besar. apalagi ditambah dengan kondiai kehamilan Mia yang sering pendarahan membuat dokter menyarankan agar operasi, namun nyatanya Mia selalu menolaknya.


Mia terus saja meringis kesakitan. Wajah nya sudah pucat. Rasanya ia sudah ingin menyerah dengan semua.


Tak henti hentinya Bryan mengucapkan kata kata untuk menyemangati sang istri.


Hatinya selalu meramalkan doa untuk kelancaran kelahiran sang istri.


Bryan melantunkan ayat suci Alqur'an tepat disamping Mia.

__ADS_1


Mia meneteskan air mata nya, antara menahan rasa sakit dan terharu mendengar suara indah sang suami.


Setelah selesai membacakan ayat suci Alquran untuk Mia, Bryan kembali mendekat ke samng istri.


Kini mata Bryan tak bisa dibohongi.


Mata indah milik lelaki itu bahkan sudah beberapa kali mengeluarkan air mata.


"Kok kamu nangis sih mas" ucap Mia mengusap air mata sang suami.


"Kamu operasi aja ya, nanti aku temani" tawar Bryan dengan suara serak karna tangis nya.


Mia terus saja menggeleng


"Kurang dikit lagi udah bisa lahir mas anak kita" ucap Mia menenangkan sang suami.


Semakin lama rasa sakit yang dialami Mia semakin mendera.


Esok hari,


Tepat pukul 7 dokter memeriksa keadaan Mia.


Ternyata sudah pembukaan sembilan.


"Jika 4 jam lagi pembukaan nya belum sempurna, maka terpaksa kami mengambil tindakan operasi agar nyonya Mia tak kehabisan energi nya" ucap Dokter itu.


Tepat 3 jam setelah dokter mengatakan hal itu, pembukaan Mia telah lengkap.


58 jam sudah Mia merasakan kontraksi nya.


Mia terus saja merintih kesakitan dihadapan sang suami.


"Mass sakit," cicit Mia.

__ADS_1


"Iya, kamu tenang ya. Bentar lagi anak kita bakal lahir. Kan pembukaan nya udah lengkap" Bryan berusaha menenangkan padahal dia sendiri telah beruraian air mata.


__ADS_2