
"Tapi kalau aku nggak narik Dilla saat itu mungkin sudah terjadi sesuatu dengan nya" bela Mia.
"Tapi tetap saja, yang kau lakukan membahayakan anak kita" tegas Bryan.
Mia hanya menunduk menangis
"Maaf" hanya kata itu yang mampu ia ucap kan.
Bryan segera menelpon sang adik guna memastikan keadaan nya.
Sungguh, Mia kecewa.
kecewa karna dirinya sendiri yang sangat ceroboh dan kecewa pada sang suami yang seolah tak mengkhawatirkannya.
Kenapa suami nya tak menanyakan tentang kondisi nya saat itu.
Ia berharap suami nya seperti suami orang pada umum nya yang mengkhawatirkan kondisi nya.
Namun itu hanya angan Mia. Nyatanya pernikahan nya tak seharmonis kelihatan nya.
Bryan menghembuskan napas nya lega saat tau adik nya tidak kenapa napa.
Ia melirik sang istri yang masih menangis.
Ia menghembuskan napas nya pelan. Ia mendekat ke arah Mia. Ia merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukan nya.
"Udah, jangan nangis. Yang penting anak kita tidak apa apa" Bryan menenangkan.
Lagi lagi Mia kecewa, kenapa suami nya hanya mengatakan tentang anak.
__ADS_1
Tak adakah sedikit pun rasa cinta untuk dirinya, batin nya.
Bryan mengusap usap punggung sang istri agar kembali tenang.
Beberapa saat kemudian, Mia sudah tak menangis.
"Kita sarapan ya?" Tawar Bryan.
Mia mengangguk
Mereka berdua turun ke lantai bawah dan memulai sarapan bersama mama Gita.
Tidak ada pembicaraan sama sekali di meja makan itu.
Semua nya hening
Kini terjadi kecanggungan antara Mia dan sang mertua.
"Mia masuk kamar dulu ya ma" pamit Mia lalu beranjak meninggalkan meja makan itu.
Ia sudah membuat janji dengan dokter kandungan.
Ia segera memakai dress kotak kotak dengan panjang dibawah lutut.
Ia berjalan menuju lantai bawah dan segera meminta supir untuk mengantar nya ke rumah sakit.
"Pak, anter Mia ke rumah sakit ya"
__ADS_1
"Baik nyonya"
Mobil pun melaju menuju rumah sakit.
Setelah sampai, Mia langsung menemui dokter dan mulai memeriksakan kandungan nya.
"Usia nya memasuki minggu ke 23. Bayi nya sehat dan aktif nyonya. Berat badan nya oke, tapi mengingat anda sering mengalami pendarahan dan kram perut, sebaik nya jangan terlalu stress karna dapat mempengaruhi kandungan anda" dokter menasehati.
"Mau tau jenis kelamin nya?" tanya dokter itu.
"Mau dok" jawab Mia antusias.
"Laki laki nyonya" jawab dokter itu
Mata Mia berbinar saat tau anak nya laki laki. Setidak nya jika sutu hari Bryan tak menyayangi anak nya, anak itu dapat pergi dari sang ayah tanpa beban.
(karna kalau anak cewek kan butuh wali nikah kan?)
"Dok, apakah diagnosa dokter tentang saya benar? Maksud saya apakah bisa dipastikan saya akan mengalami pendarahan saat melahirkan nanti?" Tanya Mia.
"Sebenar nya ada sedikit peluang untuk tidak pendarahan nyonya. Namun melihat dari gejala yang ada seperti kemungkinan itu tak akan terjadi"
"Apakah ada cara lain untuk saya tetap bisa bertahan hidup?"
"Sebenarnya kita bisa menempuh dengan operasi caesar. Tapi itu juga tidak menutup kemungkinan bahwa tidak terjadi pendarahan. Sebaiknya anda menjalani operasi caesar saja untuk mengurangi resiko yang lebih besar" ucap dokter itu.
Mia menggeleng
"Saya tidak ingin operasi dok, saya ingin melahirkan normal" tolak Mia.
__ADS_1