Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Tidak Ada Yang Berlebihan


__ADS_3

Ia menggandeng tangan sang istri keluar dari kamarnya.


Ia membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Mobil pun melaju membelah jalanan padat kota itu.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai disebuah restoran mewah yang sudah ia pesan jauh jauh hari yang tentunya dikosongkan khusus untuk Bryan.


Bryan menggenggam tangan sang istri yang sedang duduk di hadapannya.


Ia mencium punggung tangan sang istri dengan lembut.


"Kamu inget ini hari apa?" Tanya Bryan.


"Inget lah mas, aku ngga akan lupa dengan hari bersejarah ini"


"Hari apa memangnya?" Tanya Bryan.


"Aniv kita yang ke 2 tahun" ucap Mia.


Bryan tersenyum saat istrinya mengingat hari bersejarah bagi mereka.


"Kamu mencintaiku?" Kini Bryan bertanya serius.


"Tanpa aku menjawabnya kau pasti telah tau jawabannya" ucap Mia tersenyum.


Senyum Mia begitu teduh dihati Bryan. Sangat lembut menembus relung hati Bryan.


"Katakanlah secara jelas, aku ingin mendengarnya"


"Aku mencintaimu mas, sangat. Aku, ragaku, dan hatiku hanya milikmu" ucap Mia.


Bryan menepuk pahanya.


"Kemarilah"


Mia berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Ia langsung mendudukan tubuhnya di paha sang suami.


"Aku juga sangat mencintaimu Mia Asyalia Hendrawan. Semua ini milikmu, hatiku, ragaku, cintaku semuanya milikmu seorang"


"Aku juga sangat mencintaimu tuan Bryan hendrawan"


Cupp


Satu kecupan diberikan Mia pada bibir manis sang suami.


Bryan tersenyum, momen seperti ini memang sering terjadi.


Mia merupakan istri yang pengertian. Ia bisa memposisikan dirinya sebagai istri maupun ibu yang baik.


Ia selalu memberi sang suami perhatian sama rata dengan putranya.


2 laki laki itu merupakan prioritasnya. Mereka berdua memiliki ruang masing masing dihati Mia.


Bryan menangkup wajah sang istri. Ia ******* lembut bibir sang istri.


Bryan memberi isyarat pada pelayan disana.


Beberapa saat kemudian, pelayan itu membawa sebuah nampan berisi sebuah kotak beludru merah besar.


Bryan menerima kotak itu. Ia membukanya dihadapan sang istri.


Mata Mia berbinar kala melihat isinya.


Sebuah kalung berlian impian semua wanita. Kalung berlian yang pastinya berharga puluhan milyar.



Bahkan kaum artis pun masih berfikir duakali untuk membelinya karna harganya hampir seratus milyar itu.


"Mas, ini untukku?" Tanya Mia.


"Untuk istriku yang paling cantik"

__ADS_1


"Bukankah ini terlalu berlebihan mas? Kalung ini mahal" ucap Mia.


"Tak ada kata 'berlebihan' untuk wanita yang kucintai" ucap Bryan sungguh sungguh.


Ia mengambil kalung itu dan memasangkannya dileher putih sang istri.


"Cantik" puji Bryan.


"Apanya?"


"Kamu" jawaban Bryan sungguh membuat Mia tersipu malu.


Mereka pun melanjutkan makan malam lalu melajukan mobilnya menuju hotel mewah hang telah dipesan Bryan.


Presidential Suite, tipe kamar pilihan Bryan yang pastinya berharga fantastis karna memang pemandangan luar hotel yang mewah sekaligus merupakan hoter ternama disana.


Mereka berdua menghabiskan malam dihotel itu.


Pagi hari,


Bryan terbangun dari tidurnya.


Ia melihat wajah istrinya yang masih terpejam. Ia menggerakan tubuhnya semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.


Mia yang merasa tidurnya terusik pun membuka matanya.


"Tidurlah lagi, aku masih mengantuk" ucap Bryan.


Mia menurut, lagi pula Zio telah ia titipkan dengan sang mertua.


Dan juga hari ini adalah hari libur Bryan.


"Aku ambil cuti satu minggu" ucap Bryan dengan mata tertutup.


Mia mendongak


"Buat apa mas?" Tanya Mia.

__ADS_1


__ADS_2