Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Resikonya Kematian


__ADS_3

Beberapa saat kemudian pendarahan yang dialami Mia telah berhenti.


Dokter keluar dari ruangan Mia.


"Bagimana keadaan istri saya dok?" Tanya Bryan.


"Syukurlah istri anda baik baik saja. Janin nya pun juga baik baik saja. Pendarahan yang dialami nyonya Mia disebabkan karna nyonya Mia mengalami stress sebaiknya lebih diperhatikan lagi karna hal seperti ini bisa berbahaya untuk janin dan ibu nya" ucap dokter itu.


Bryan mengangguk mengerti


"Bolehkah saya melihat istri saya di dalam?" Tanya Bryan.


"Boleh tuan, tapi nyonya Mia masih belum sadar. Harap jangan mengganggu istirahat pasien"


Bryan pun mengangguk mengerti.


Ia segera melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu ia menarik kursi untuk nya duduk di samping ranjang tempat Mia berbaring.


Ia mengusap telapak tangan istrinya. Tangan nya beralih mengusap perut istrinya.


"Nak, apa kau sudah terlalu candu dengan cairan infus? Lihatlah, setiap hari mama mu selalu bergantung pada cairan itu. Apa kau tidak kasihan?" Ucap Bryan mengusap perut istri nya itu.


Mia mengerjapkan mata nya bangun.


"Minum" pinta nya.


Bryan pun segera mengambil air putih di atas nakas. Ia membantu istrinya untuk meminum air itu.


"Mana yang sakit?" Tanya Bryan.

__ADS_1


Mia hanya menggelengkan kepala nya.


"Kamu nggak balik ke kantor mas?" Tanya Mia.


Bryan menggeleng


"Urusan kantor bisa nanti. Yang penting bisa nemenin kamu disini"


"Kamu balik aja ke kantor mas, aku ngga papa. Biar Dinda yang nemenin aku" ucap Mia.


"Enggak, mending aku temenin kamu di sini"


"Udah ngga papa mas, biar aku di temenin Dinda. Nanti kalau ada apa apa aku bakal langsung hubungin kamu"


Bryan masih terdiam


"Ya udah deh, aku balik ke kantor. Lagian juga ada meeting penting hari ini" kini Bryan memutuskan.


"Ya udah buruan berangkat. Nanti kalau aku udah boleh pulang sama dokter aku bakal telpon kamu" ucap Mia.


Bryan pun mengangguk


"Boleh aku cium disini dan disini?" Tanya Bryan menunjuk pada dahi dan perut Mia.


Mia mengangguk


"Ini semua milikmu mas" jawab nya.


Bryan segera mencium dahi dan perut Mia lembut.

__ADS_1


Cupp


Cupp


Bryan mengusap perut Mia.


"Papa ke kantor dulu, kamu jangan nakal" ucap nya lalu keluar dari ruangan Mia.


Beberapa saat kemudian Dinda yang tadi sudah dihubungi Bryan datang ke ruangan Mia.


"Bagaimana keadaan nyonya?"


"Aku tidak apa apa Din, boleh aku minta sesuatu?" Tanya Mia.


Dinda mengangguk


"Antar aku ke ruangan dokter untuk konsultasi"


"Bukankah lebih baik memanggil dokter agar datang ke ruangan ini nyonya?" Tanya Dinda.


Mia pun mengangguk setuju


Beberapa saat kemudian dokter datang ke ruangan Mia.


"Dok, sebenarnya apa yang terjadi dengan saya?" Tanya Mia.


"Anda mengalami pendarahan nyonya. Sebenarnya hal ini sangat berbahaya untuk diri anda dan juga janin anda. Apalagi pendarahan ini terjadi pada awal kehamilan anda. Setelah saya melakukan pengecekan tadi, ternyata pendarahan yang dialami anda sangat berbahaya. Jika kehamilan ini diteruskan maka resiko terbesar nya adalah kematian. Karna kasus kematian pada ibu melahirkan paling banyak disebabkan karna pendarahan" ucap dokter itu.


"Lalu apa solusi nya dok?" Tanya Mia takut takut.

__ADS_1


__ADS_2