Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Pengen Susu


__ADS_3

Hati mama Gita merasa tercubit saat mendengar ucapan sang menantu.


Apa dirinya sudah keterlaluan?


Apakah sikap nya sudah kelewatan?


Apakah dugaan nya selama ini pada sang menantu salah?


Ia sungguh bingung dengan situasi seperti ini.


Apakah menantunya benar benar haus akan kasih sayang nya?


Batin mama Gita bertanya tanya.


Mama Gita segera menarik tangan nya paksa dan segera berjalan menuju kamar nya.


Di dalam kamar itu, mama Gita menumpahkan tangis nya.


Hati nya sakit saat mengingat penghianatan johan dulu, tak bisa dipungkiri. Rasa cinta nya terhadap Johan masih tertata rapi di hati nya.


Tak ada yang berubah sama sekali. Hati nya tetap sama, hanya Milik Johan seorang.


Mia tersenyum tipis melihat ekspresi sang mertua nya.


Bryan segera mendekat ke arah Mia.


"Aku yakin mama akan menyayangi anak kita mas" ucap nya dengan senyum lebar.


Bryan hanya mengangguk sebagai jawaban.


Ia menuntun sang istri menuju kamar nya.


Mas," panggil Mia pada sang suami saat Bryan akan keluar kamar.


"Kamu mau kemana?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku mau keruang kerja"


" Mas Aku pengen susu" pintanya.


"Hah?!" Bryan bingung dengan kata kata yang sedikit ambigu itu.


"Aku pengen susu"


"Aku mana punya Mia" kesal Bryan.


"Hah? Maksudku susu hamil mas bukan susu itu. Kamu mah pikirannya mesum terus" kesal Mia.


Bryan hanya terkekeh


"Buatin ya mas, kayaknya anak kita lagi pengen dibuatin susu sama kamu"


"Mau rasa apa?"


"Stroberi aja mas" Bryan mengangguk, ia berjalan menuju dapur diikuti sang istri dibelakangnya.


"Aku mau liat aja mas"


Bryan pun mengalah membiarkan sang istri mengikutinya menuju dapur.


Bryan mulai menyendokan beberapa sendok bubuk susu lalu menuangkan air hangat.


"Minumlah" Bryan menyodorkan gelas itu.


Mia langsung meminumnya hingga tandas.


"Makasih mas" ucapnya tulus yang diangguki sang suami.


Bryan pun mengantarkan Mia ke kamar. Ia ikut berbaring diranjang.


Rasanya ia malas lembur hari ini.

__ADS_1


'masih ada hari esok kan?' batinnya.


"Mas, usap usap pinggangku dong, pegel nih" pinta Mia.


Bryan menuruti permintaan istri nya dan mulai mengusap pinggang sang istri dengan lembut.


Bryan melihat sang istri yang mulai terlelap.


Mata Bryan tak sengaja menatap sebuah botol obat berwarna putih diatas nakas.


Bryan memastikan istrinya telah tertidur lelap. Ia mengambil botol itu dan mengamatinya.


Ia menelpon temannya yang berprofesi dokter untuk menanyakan tentang obat itu.


Pasalnya, obat dari dokter kandungan Mia bukan didalam kemasan botol namun dalam kemasan kaplet.


Beberapa saat kemudian, teman Bryan tadi kembali menelpon.


"Setauku kalau dilihat dari ciri ciri dan kandungan zatnya aku rasa itu adalah obat untuk orang yang depresi. Lagi pula obat seperti itu hanya bisa didapatkan dari psikiater. Memangnya siapa yang minum obat itu bro?" Tanya diseberang.


"Istriku, aku tak sengaja melihat diatas nakas"


"Boleh aku tau siapa nama istrimu? Aku akan mencoba mencari tau pada temanku"


"Namanya Mia asyalia"


"Baiklah, tunggulah 10 menit lagi, akan kupastikan aku mendapatkan kebenarannya"


Panggilan pun berakhir


Beberapa saat kemudian, ponsel Bryan kembali berdering.


"Jadi gimana?" Tanya Bryan.


"Istrimu sudah menjadi pasien di psikolog selama 7 tahun terakhir sejak ia masuk bangku sma. Kata temanku istrimu mengalami depresi berat selama 6 tahun terakhir dan beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Namun kondisinya berangsur membaik saat dia menikah denganmu. Hanya itu informasi yang kudapat. Temanku enggan menjelaskan lebih detail karna privasi pasien" papar teman Bryan.

__ADS_1


__ADS_2