Tuan Arogan Suamiku

Tuan Arogan Suamiku
Terbiasa Dengan Semuanya


__ADS_3

"Perkenal kan ini Mia istriku tuan Darwin" Bryan memperkenal kan Mia.


"Istri anda sangat cantik tuan Bryan"


"Terimakasih" jawab Bryan.


"Istri anda ikut anda bekerja?" Tanya Darwin.


"Tidak, dia sedang hamil muda makan nya dia sedikit manja kepada saya" jawab Bryan terkekeh.


Mia hanya menundukan wajah nya malu.


"Seperti itu biasa tuan Bryan. Dulu saat istri saya hamil bahkan dia selalu mengikuti saya seperti ekor saja. Bahkan ke kamar mandi pun dia menunggui saya di depan pintu"


Darwin terkekeh mengingat tingkah manja istrinya dulu saat hamil.


"Ah saya beruntung istri saya tidak berlebihan seperti itu" Bryan berucap.


"Tapi yakinlah tuan, jika nanti sudah melahirkan para istri akan sibuk dengan anak anak hingga dia melupakan kita. Dan satu lagi anda pasti akan rindu dengan sikap manja istri anda kala hamil"


"Oh ya sudah, kalau begitu hamil terus saja" ucap Bryan tekekeh.


Mia memukul pelan lengan suami nya itu


"Saya dulu juga pernah berpikir seperti itu. Tapi saat saya melihat istri saya kesakitan saat akan melahirkan anak kami aku jadi takut untuk memiliki anak lagi" Ucap tuan Darwin.


"Apakah itu penyebab anak anda hanya satu?"


Tuan Darwin mengangguk


Obrolan itu pun mengalir dengan penuh canda dan tawa. Tuan Darwin menceritakan betapa merepotkan nya istri nya saat hamil.


Ingin itu, ingin ini, mau itu, mau ini, marah marah tidak jelas dan tiba tiba manja seperti kucing yang butuh belaian.

__ADS_1


Hari sudah sore,


Mia dan Bryan memutuskan untuk pulang.


"Mas, ke mall nya besok saja ya? Kayak nya badan ku udah nggak kuat jalan jauh" pinta Mia.


"Kamu dirumah aja biar aku yang membeli susu nya" tawar Bryan.


Mia menggeleng


"No! Aku mau ikut pokok nya"


Bryan mendesahkan napas nya pasrah


"Iya deh terserah kamu" jawab Bryan.


Sesampai nya dirumah, Mia langsung menyiapkan air untuk mandi Bryan dan pakaian nya.


Hoekkkk


Hoekkk


Mia kembali muntah muntah seperti biasanya.


Bryan membantu Mia dengan memijit tengkuk istri nya itu.


"Sudah mendingan?" Tanya Bryan saat Mia sudah berhenti muntah.


Brukkk


Mia jatuh pingsan di pelukan Bryan.


Bryan pun membopong Mia ke ranjang lalu segera menelpon dokter untuk datang mengecek keadaan Mia.

__ADS_1


Dokter pun kembali meng infus Mia.


"Dok, apa tidak berbahaya jija setiap hari menggunakan infus?" Tanya Bryan khawatir.


" Tidak apa tuan, infus ini berisi nutrisi agar nyonya Mia bisa mengembalikan energi tubuh nya. Jika tidak di infus justru akan berbahaya untuk janin dan juga ibu nya karna HG (singakatan hiperemesis gravidarum) yang dialami nyonya Mia sudah masuk ke dalam kategori berat" ucap dokter itu.


Bryan pun mengangguk mengerti.


Bryan pun berangkat bekerja tanpa menunggu Mia sadar.


Ia sudah menitipkan Mia pada sang mama.


Mia sudah bangun dari pingsan nya.


Ia sudah terbiasa dengan ini semua.


Tidak ada seorang manusia pun yang menemani nya.


Hanya sebuah tiang infus beserta cairan yang mengalir di tubuh nya.


Ceklekk


Pintu kamar terbuka


Mia mengira yang datang adalah Dinda.


Ia sudah tersenyum merekah, namun senyum nya tiba tiba berangsur hilang kala melihat orang yang masuk ke kamar nya.


"Mama?"


"Kenapa wajah kamu gitu? Kamu nggak suka saya disini?" Ketus mama Gita.


Mia menggeleng

__ADS_1


__ADS_2