
Kehidupannya berubah saat ia menikah.
Yaa walaupun ia menikah dengan orang yang tak mencintainya, namun tetap saja Mia mencintai suaminya.
Seorang kakak tiri yang ia cintai dari dahulu kala namun slalu tak bisa digapainya kini telah menjadi suaminya.
Semenjak menikah, Mia merasa hidupnya lebih tenang. Ia merasa ada yang mengayomi hidupnya.
Kecelakaan maupun teror tetap ada walupun sudah jarang terjadi.
Mia mengambil tasnya kembali. Ia melangkahkan kakinya keluar menuju psikiater tempatnya konsultasi.
Mia menggunakan motornya sendiri. Ia tak mau orang lain tau bahwa dia adalah wanita depresi. Ia tak mau hinaan untuknya bertambah, ia tak ingin disebut wanita gila oleh orang lain.
Cukup sudah sebutan anak pelakor dan gadis malam melekat dalam dirinya.
Beberapa saat kemudian, Mia telah sampai di tempat konsultasi.
Mia memasuki sebuah ruangan bernuansa serba putih.
"Apa yang kau rasakan akhir akhir ini?" Tanya sang psikiater.
"Aku merasa aman dan damai walaupun teror itu terus menghantui ku. Aku bahagia saat suami ku ada disampingku walau hanya karna anak yang ku kandung. Tapi, beberapa waktu lalu dokter kandungan ku mengatakan bahwa aku akan mati karna melahirkan anak ku. Dia memberiku pilihan, hidup ku atau hidup anak ku. Jelas saja aku memilih hidup anakku. Aku ingin anak ku disayangi orang orang disekitar nya. Tapi jujur saja dalam hati kecil ku takut, aku masih belum siap menerima takdir ini....." Mia menceritakan keluh kesahnya.
Psikiater itupun memberi saran atas keluh kesah pasien nya.
__ADS_1
Ia memberikan resep obat dosis rendah yang aman untuk ibu hamil.
Mia segera pamit undur diri. Ia melajukan kembali motor nya menuju mansion sang suami.
Ia segera merebahkan tubuh nya yang lelah di atas ranjang kamar itu.
memejamkan matanya tidur
sore hari,,
Mia mengarjapkan mata nya bangun. Tangan nya meraba ke samping tempat tidur nya.
Kosong
Mia baru ingat kalau Bryan sedang keluar kota untuk bertemu kekasih nya.
Ia melihat ada satu pesan dari suami nya, Mia segera membuka nya.
"Mia, Lisa mengajak ku jalan jalan. Kemungkinan aku akan pulang besok. Jika ada sesuatu kabari saja aku" tulis Bryan di pesan itu.
Mia tersenyum miris, hati nya berdenyut sakit.
Ia segera bangkit dari pembaringan nya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.
Setelah selesai, Mia turun ke lantai bawah dan berjalan menuju taman rumah.
Ia mendudukan diri nya di kursi taman itu.
__ADS_1
Dinda yang melihat sang nyonya sedang melamun pun berinisiatif untuk menghampiri nya.
"Nyonya" sapa Dinda.
Mia hanya tersenyum lembut
"Apa ada masalah?" Tanya Dinda.
Mia hanya menggeleng
Dinda merasa heran dengan sang nyonya yang hanya diam saja.
"Nyonya, mari masuk rumah. Sudah mau magrib, nggak baik ibu hamil magrib magrib diluar rumah" ucap Dinda.
Mia menurut
Ia segera beranjak dari duduk nya dan segera berjalan masuk ke rumah.
Kaki nya membawa nya menuju dapur.
Mia duduk di salah satu kursi disana dan melihat lalu lalang para pelayan yang akan menyiapkan makanan untuk makan malam.
"Nyonya kenapa di dapur?" Tanya salah satu pelayan.
"Suami ku sedang keluar kota, aku bosan sendirian di kamar" jawab Mia.
Pelayan itu hanya mengangguk mengerti.
__ADS_1