
"Kau sudah siap sayang?" Tanya Dave semangat.
Meski tadi pagi Ia bangun dan masih muntah-muntah dengan cukup hebat, namun hal itu tidak membuatnya mengeluh.
Seharian kemarin Arvina memaksanya untuk istirahat karena ia selalu muntah setiap kali selesai menyantap sesuatu.
"Em..tapi aku sangat gugup." Jawab Arvina sambil memoles bibirnya dengan lipstik.
"Jangan gugup! Aku selalu bersamamu." Ucap Dave memeluk erat istrinya dari belakang.
"Terima kasih, sayang." Sahut Arvina lalu mengecup pipi suaminya.
"Ayo, kita sebaiknya berangkat sekarang." Ajak Dave melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Arvina.
Mereka pun keluar dari kamar mereka.
"Dave, Vina, kalian mau pergi?" Tanya Jeymian lembut.
Ia tengah bersantai bersama Ken yang ia jemput kemarin.
"Iya Dad. Kami akan ke rumah sakit untuk memeriksakan perkembangan kondisi istriku." Jawab Dave sopan.
Dave kini sudah sangat menghormati dan menghargai Ayahnya karena Jeymian benar-benar menunjukkan perubahan yang baik dan memberikan semua perhatian yang tidak pernah ia berikana pada Dave.
"Baiklah! Kalian hati-hati." Timpal Jeymian.
Dave dan Arvina mengangguk pelan.
"Semoga hasilnya positif dan aku bisa cepat gendong keponakan." Ucap Ken.
"Cih..jangan sok mau menggendong keponakan! Anak kembarmu diurus dulu." Ledek Dave pada kakak tirinya itu.
"Hei, aku sudah mulai mengurusnya dengan mengirimkan uang bulanan untuk Ibunya meski tidak sebanyak yang bisa Ayah tirinya berikan." Ketus Ken kesal.
"Sudah, sudah! Kalian ini setiap bertemu selalu saja berdebat! Dave, segera pergi sana!" Titah Jeymian sedikit jengkel dengan tingkah kedua putranya.
Dave menurut dan akhirnya pergi membawa Arvina meninggal Jeymian dan Ken.
Mereka sudah membuat janji temu dengan dokter Akila kemarin.
Dave mengendarai mobilnya dengan santai dan satu tangannya setia menggenggam tangan istrinya.
Entah kenapa senyumannya selalu terlukis di wajah tampannya, padahal sampai ke rumah sakit saja belum.
"Dave, kenapa senyum terus?" Tanya Arvina bingung.
"Tidak. Entah kenapa aku rasanya bahagia." Jawab Dave lalu mengecup punggung tangan istrinya berulang kali.
Arvina terkekeh dibuatnya.
"Semoga saja hasilnya tidak mengecewakan." Gumam Arvina penuh harap.
"Tenang saja sayang. Aku yakin hasilnya tidak akan mengecewakan." Sahut Dave optimis.
__ADS_1
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit dan turun dari mobil setelah Dave memarkirkan mobilnya dengan benar.
Mereka masuk ke dalam dan langsung menemui bagian informan.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" Tanya seorang wanita yang bertugas di bagian informan.
"Kami sudah membuat janji temu atas nama Nyonya Arvina dengan dokter Akila." Jawab Dave.
"Oh, dokter Akila sudah menunggu kedatangan Tuan dan Nyonya di dalam ruangannya. Mari saya antarkan." Ucap wanita itu dan keluar dari tempatnya lalu menuntun Dave dan Arvina menuju ke ruangan dokter Akila.
"Silakan masuk!" Ucap wanita itu dengan sopan.
Dave dan Arvina mengangguk dan tersenyum kecil.
"Silakan duduk, Tuan dan Nyonya Alexon!" Ucap dokter Akila mempersilakan Dave dan Arvina.
Keduanya menurut dan duduk di dua kursi berhadapan dengan dokter Akila.
"Kali ini apa keluhannya?" Tanya dokter Akila lembut.
"Ehm..sebenarnya kami datang ingin memeriksa, dokter. Apakah sudah ada hasil atau belum?" Jawab Arvina gugup.
Dokter Akila tersenyum lembut.
"Mari, kita lakukan pemeriksaan dulu." Ajak dokter Akila kemudian menuntun Arvina ke dalam ruangan pemeriksaan yang masih menyatu dengan ruang kerjanya.
"Silakan berbaring dulu!" Titah dokter Akila sopan.
Arvina pun berbaring di atas ranjang yang sudah tersedia.
"Bagaimana dokter?" Tanya Arvina gugup karena sedari tadi dokter Akila hanya diam.
"Sudah selesai. Ayo kita keluar dan bicarakan bersama Tuan Dave juga." Ajak dokter Akila.
Dokter Akila pun beranjak terlebih dulu meninggalkan Arvina yang menyusul di belakang.
"Bagaimana dokter?" Tanya Dave bingung saat melihat wajah cemas Arvina yang kini sudah duduk di sampingnya bahkan langsung memeluk dirinya.
Hah...
Dokter Akila menghembuskan nafas kasar.
"Kalian yakin ingin mendengarnya?" Tanya dokter Akila dengan memasang tampang serius.
"Katakan saja dokter! Apapun hasilnya, kami siap." Jawab Dave yakin.
"Baiklah. Akan ku katakan." Ucap dokter Akila kemudian kembali diam.
"Hasilnya adalah, Nyonya Arvina sedang mengandung dan usia janinnya sudah masuk minggu ke-enam." Ucap dokter Akila tersenyum.
"Benarkah?" Tanya Dave sendu.
"Tunggu! Apa katamu? Istriku hamil?" Tanya Dave bahagia sekaligus tak percaya.
__ADS_1
"Benar. Arvina sudah hamil." Jawab dokter Akila.
"Sayang, kau hamil dan kita akan segera punya anak." Ucap Dave bahagia dan memeluk erat istrinya.
Arvina hanya mengangguk dan terisak haru.
"Ba bagaimana kondisi anak kami dokter?" Tanya Dave kini gugup.
"Semuanya baik. Kalian tidak perlu khawatir." Jawab dokter Akila.
"Tapi kenapa tidak ada tanda-tanda istriku hamil? Hanya aku yang mual dan muntah dua hari ini." Tanya Dave penasaran.
"Itu artinya kau mengalami Sindrom Simpatik. Kau yang merasakan gejala kehamilan istrimu, atau terkadang kalian bisa merasakannya bersamaan. Semua itu karena ikatan batin yang kuat antara kalian." Jelas dokter Akila.
Dave mengangguk mengerti.
"Ini resep vitamin yang perlu di konsumsi Ibu hamil." Ucap dokter Akila memberikan selembaran kertas resep kepada Dave.
"Terima kasih." Ucap Dave lalu menuntun Arvina keluar dari ruangan dokter Akila.
"Sayang, kau hamil!" Ucap Dave bahagia dan langsung mengangkat Arvina dan berputar bahagia setelah keluar dari ruangan dokter Akila.
Banyak pasang mata memandang takjub kepada sepasang suami-istri itu.
"Iya, Dave. Aku hamil, aku akhirnya hamil." Sahut Arvina tak kalah bahagia.
"Terima kasih, sayang." Ucap Dave menghentikan kegiatan berputarnya dan membawa Arvina dalam pelukannya.
"Terima kasih, Dave. Terima kasih karena kau tidak meninggalkan diriku dan setia mendampingiku hingga hari ini." Balas Arvina terharu.
"Aku suamimu, sayang. Dan sudah seharusnya aku ada di sampingmu dan mendampingimu dalam kondisi apapun." Sahut Dave tulus dan tak lupa mengecup beberapa kali puncak kepala istrinya.
Arvina hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia sungguh tidak menyangka, pria angkuh dan gila yang tengah memeluknya saat ini, pada akhirnya adalah pria yang menjaga dan selalu mendukung serta mendampingi dirinya disaat titik terendah dalam hidupnya.
Pria gila yang menghalalkan segala cara untuk memilikinya, pada akhirnya adalah pria yang tidak kenal kata lelah untuk meyakinkan dirinya akan segala sesuatu pasti ada jalannya.
"Ayo, kita pulang! Kita umumkan kepada semua keluarga kita tentang kehamilanmu." Ajak Dave setelah melepaskan pelukannya.
Arvina mengangguk patuh.
Dave pun menarik lembut Arvina dan mereka keluar meninggalkan rumah sakit itu.
Sepanjang perjalanan Dave begitu bahagia, bahkan ia sesekali bersenandung ceria.
"Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?" Tanya Arvina bahagia.
"Terserah saja. Tapi jika boleh meminta, aku ingin perempuan agar menambah tugasku untuk menjaganya dan dirimu." Jawab Dave sambil mengelus rambut istrinya dengan satu tangannya.
Mereka berbicara ini dan itu tentang anak mereka yang masih di dalam kandungan Arvina hingga tak terasa kini mereka sudah sampai di mansion.
Mereka segera turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion.
"Akh..pelan-pelan Ken.."
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...