TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Pengakuan


__ADS_3

Keesokan harinya


London, Inggris


Keanu dan Si kembar sudah sampai dirumah Darvin dan Zevina.


Karena hari masih subuh dan Keanu tidak memberitahu sebelumnya kepada Darvin dan keluarganya, jadi mereka saat ini sedang menunggu seorang pelayan membangunkan kedua orang tua si kembar.


"Uncle, bagaimana aku harus bercerita?" Tanya Arvina sedikit gugup bercampur takut.


"Jangan takut! Ceritakan semua yang terjadi tanpa melewatkan satu pun. Uncle akan melindungi kalian jika Dad kalian marah." Ucap Keanu mengelus kepala kedua anak perempuan itu.


Keanu duduk diantara mereka.


Tak lama kemudian Darvin dan Zevina keluar dari kamar mereka dan tergesa-gesa menghampiri ketiga orang itu.


"Twins." Darvin dan Zevina memanggil putri mereka bersamaan dan langsung memeluk mereka bergantian.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu kurus?" Tanya Zevina cemas.


"Kami baik-baik saja Mom. Hanya saja memang sedikit terjadi masalah." Jawab Arvina menunduk.


"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Darvin dengan nada yang tak bisa diartikan.


Arzena yang sedari tadi memeluk Mommy nya pun melepas pelukannya dan sedikit menjauh dari kedua orang tuanya. Mereka berhadapan dengan kedua orang tua mereka sedangkan Keanu berdiri disamping Arvina.


"Aku..aku hamil Mom." Ucap Arzena tertunduk.


"What?" Tanya Darvin geram.


Darvin mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan, namun Keanu segera menahannya.


"Jangan menyakiti putri mu tanpa tahu kebenaran Darv! Beri waktu untuk mereka menceritakan yang sebenarnya terjadi!" Titah Keanu melindungi kedua gadis kembar itu.


Darvin menurunkan tangannya dan duduk di sofa.


"Baik! Ceritakan semuanya!" Titah Darvin menahan geram.


Mereka masing-masing pun duduk kembali di tempat mereka.


Arvina pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


Namun sebelum bercerita, Arzena membisikkan sesuatu kepadanya.


"Twins, please jangan ceritakan tentang Dave yang meniduri ku. Aku tidak ingin hubunganmu dan dia dapat masalah dari Daddy nantinya." Pinta Arzena.


Arvina menatap dalam adiknya, hingga akhirnya ia mengangguk.


Arvina pun mulai menceritakan segalanya, termasuk bagaimana Dave membuat Arzena kecanduan Devil. Dan segalanya tentang perbuatan Ken pada mereka hingga akhirnya bagaimana Dave juga yang menjaga mereka beserta Hansen dan Drick. Tak lupa juga tentang Ken yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya.


Hah..


Darvin menghembuskan nafas kasar.


"Bagaimana semuanya bisa seperti ini?" Gumam Darvin lirih.


Ia mengusap kasar wajahnya lalu mengacak rambutnya. Frustasi, itulah yang ia rasakan.


"Lalu dimana pria tidak tahu terima kasih itu?" Tanya Darvin geram. Ia bertanya tentang Ken.

__ADS_1


Arvina dan Arzena menggeleng tanda tidak tahu.


"Terakhir kali kami mendengar kalau dia bawa kabur barang yang akan diekspor oleh Dave." Arvina menjawab.


"Dad, Mom. Maafkan aku. Aku tahu aku sudah salah dan mengecewakan kalian. Tapi aku berjanji aku akan berubah." Pinta Arzena yang entah sejak kapan sudah bersimpuh di kaki kedua orang tuanya.


Arvina dan Keanu pun terkejut melihat semua itu.


"No sayang, jangan seperti ini!" Titah Zevina membawa anak perempuan nya berdiri.


"It's okay darling. Mom dan Dad memaafkan mu. Setiap orang juga pasti punya salah, tapi bukan berarti orang lain mempunyai hak untuk menghakimi mereka." Ujar Zevina menghapus air mata Arzena.


"I'm so sorry Mom." Arzena memeluk Mommy.


"It's okay darling. Berjanjilah pada Mommy, jangan berbuat bodoh dengan menyakiti bayimu. Dia tidak bersalah." Ucap Zevina.


"I promise Mom." Arzena berjanji.


Mendapatkan dukungan dari keluarganya membuatnya sedikit lebih tenang dan bersemangat.


"Oh wow..jadi aku akan menjadi uncle sebentar lagi?" Tanya Arzevin yang baru turun dari kamarnya.


Rupanya ia mendengar semuanya dari atas.


"I'm sorry brother. Aku sudah mengecewakanmu." Ucap Arzena menunduk setelah melepaskan pelukannya dari Mommy nya.


Takk


Arzevin menjitak pelan kepala adik bungsunya.


"Kenapa berbicara seperti itu? Itu bukan kesalahan mu." Ujar Arzevin memeluk kedua adiknya kiri dan kanan.


"Berjanjilah untuk hidup lebih baik setelah ini." Arzevin menasehati kedua adiknya.


"Baiklah, aku rasa tugasku sudah selesai. Jadi aku harus pamit." Ujar Keanu.


"Tidak tidak, hari masih gelap bung. Kau pasti lelah. Beristirahatlah sejenak." Ucap Darvin menghentikan pergerakan Keanu.


"Benar Ke, kau sudah bekerja sangat keras satu bulan ini untuk membantu kami." Zevina menimpali.


"Baiklah jika kau yang memintanya Zev. Aku akan tinggal." Ujar Keanu tersenyum pada Zevina namun niatnya adalah menggoda Darvin.


Ia tahu sampai hari ini pun Darvin masih sangat posesif pada istrinya.


"Singkirkan tatapan mu itu dari istriku!" Benarkan? Darvin masih sangat posesif.


Keanu mengangkat kedua tangannya dan tersenyum meremehkan pada Darvin.


"Ayo uncle Ke, aku tunjukkan kamar untukmu." Ajak Arzevin setelah melepaskan pelukannya dari kedua adiknya.


Arzevin pun menuntun Keanu ke kamar tamu.


"Dad, Mom." Panggil Arvina lirih.


Darvin bangkit dari duduknya dan memeluk kedua putrinya.


"Istirahatlah. Jangan banyak pikiran lagi. Jaga baik-baik kandungan mu." Ucap Darvin kemudian mengecup sayang puncak kepala kedua putrinya.


Keduanya pun menurut dan naik kekamar mereka.

__ADS_1


Arzena memilih bergabung dengan kakaknya.


"Hah, aku akan segera menjadi seorang kakek kah? Jadi tidak sabar ingin bertemu dengan kedua pria itu." Gumam Darvin dan yang dimaksud adalah Dave dan Hansen.


"Sudahlah, ayo kita kembali istirahat." Ajak Zevina dan Darvin menurut.


•••••••••••


Sydney, Australia


"Bagaimana? Sudah mendapatkan lokasi tempat dia berada?" Tanya Dave geram.


Mereka kesulitan mencari lokasi tempat Ken berada, seolah Ken dilindungi oleh seseorang.


"Belum Tuan." Jawab seorang anak buahnya yang padahal adalah peretas handal.


"Bangsat! Kemana dia pergi sebenarnya?" Geram Dave menjambak kasar rambutnya.


"Jika sampai aku bertemu dengannya, aku tidak akan segan lagi membunuhnya." Hansen menimpali.


"Got it! Tuan, aku sudah mendapatkan nya. Lihat ini!" Anak buah Dave memberikan laptopnya.


Tampak di layar monitor Ken seperti bertemu seseorang, hanya saja wajah orang tersebut ditutupi masker dan ia mengenakan hoodie beserta kepalanya ditutupi topi hoodie nya.


Mereka sedang berada di sebuah gedung tua dan kumuh.


"Tato itu?" Gumam Dave melihat tato yang ada di punggung telapak tangan pria yang bertemu dengan Ken.


"Kelompok lawan. Dia adalah salah satu anggota Dark Bone." Hansen menimpali.


Kelompok Dark Bone adalah kelompok pesaing dari kelompok Dave, namun selalu berhasil Dave lumpuhkan.


"Cari mati rupanya. Tidak kapok mereka." Kini Drick yang bersuara.


"Baik jika itu mau kalian. Lihat bagaimana aku menghabisi kalian semua." Geram Dave mengeratkan rahangnya.


"Jangan beri dia celah untuk lolos! Kita kepung mereka malam ini juga." Titah Dave langsung beranjak menuju ruang senjata mereka diikuti Hansen dan Drick.


"Aku harus segera menyelesaikan semuanya agar bisa secepatnya bertemu dengan wanita ku." Gumam Hansen sambil menyiapkan senjatanya.


"Hah, yang ada di otak kalian hanya si kembar. Apa tidak kasihan melihatku sendirian." Gerutu Drick yang juga sedang menyiapkan senjatanya.


"Siapa yang menyuruhmu mempunyai kekasih gila dulu?" Ketus Dave membuat Ken mendengus kesal.


"Ayo berangkat!" Geram Dave.


Merekapun keluar dari ruangan senjata mereka.


Tidak ada niatan membunuh Ken, hanya saja mereka ingin memberi pelajaran pada Ken.


Merekapun segera masuk kedalam mobil, kali ini Hansen yang mengemudi.


Mereka juga membawa belasan orang anak buah mereka.


Tak lama merekapun sampai ditempat tujuan.


Sangat sepi membuat Dave dan Hansen serta Drick merasa curiga.


Mereka tetap menyerang dalam diam dan masuk kedalam ruangan tertutup tersebut.

__ADS_1


"Menyerahlah kalian!" Teriak Hansen mengacungkan senjatanya berasamaan dengan Dave dan Drick pada Ken dan seorang lainnya.


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2