TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Bahagia Bersamamu


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian


"Kau yakin sudah siap ikut bersamaku ke Sydney?" Tanya Drick ragu.


"Em..aku yakin sayang. Kenapa kau meragukanku?" Jawab Raina dan kembali bertanya.


"Tidak. Hanya saja jika kau masih ingin bersama keluargamu, aku tidak akan memaksa. Aku akan menjemputmu lagi setelah selesai mendaftarkan pernikahan kita nanti." Sahut Drick yang sedari tadi sibuk menyusun dokumen kenegaraan milik Raina yang akan mereka bawa kembali ke Sydney.


"Aku ingin ikut bersamamu. Kau tega mengijinkan istri dan anakmu jauh darimu?" Tanya Raina memelas.


Drick menghentikan kegiatannya.


Ia mendekati Raina dan menarik Raina ke dalam pelukannya.


"Mana mungkin aku sanggup berjauhan dari kalian. Kau adalah racun sekaligus penawar ku, sayang." Jawab Drick dan langsung menyambar bibir ranum Raina.


Raina membalas tak kalah panas.


Drick kini mengangkat tubuh Raina dan membaringkan Raina di atas ranjang dengan berhati-hati.


"Uhm..." Raina mendesah tertahan saat Drick mulai mencumbu leher jenjangnya.


"Boleh aku melakukannya?" Tanya Drick dengan suara beratnya dan menghentikan cumbuannya sejenak untuk menatap wajah Raina.


Raina mengangguk dengan tatapan sayu.


Drick tersenyum dan kembali melahap bibir ranum Raina dengan rakus.


Ciuman mulai turun lagi ke leher Raina, dan satu tangan Drick menelusup masuk ke dalam baju Raina.


"Kau nakal sayang." Bisik Drick dengan suara sensual saat merasakan dua gundukan kenyal Raina yang ternyata tidak dilindungi penutup.


Drick memberi rangsangan dengan lembut pada kembar kenyal Raina sedangkan bibirnya masih terus menikmati leher jenjang Raina.


"Uhm..Drick..ah.." Raina mencengkram punggung Drick merasakan sensasi luar biasa yang Drick berikan kepadanya.


Drick mengeluarkan tangannya dan menghentikan pemanasan yang ia buat.


"I love you." Ucap Drick dan mengecup singkat bibir ranum Raina.


Drick turun dari ranjang dan kembali melanjutkan pekerjaannya tadi.


"DRICK!" Bentak Raina dengan suara melengking karena Drick menghentikan permainannya sedangkan dirinya sudah terpancing.


"Tidak sekarang sayang! Nanti saja jika urusan kita sudah selesai. Aku akan memberikan kepuasan untukmu." Ucap Drick serius menyusun semua dokumen kenegaraan milik Raina.


Raina mendengkus kesal.


"Sekarang cepatlah bersiap! Bukankah malam ini kita akan kembali ke Sydney?" Titah Drick lembut.


"Baiklah!" Raina menjawab dengan malas dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri.


Setengah jam kemudian Raina keluar dengan hanya berbalut handuk.

__ADS_1


Drick yang sudah selesai dengan pekerjaannya, menelan kasar ludahnya saat melihat penampilan Raina yang begitu menggoda.


"Kau menginginkannya, sayang?" Tanya Raina dengan suara menggoda.


"Tidak sekarang! Aku akan memakan dirimu sepuas hatiku nanti dan membuatmu menjerit hingga suaramu habis!" Sahut Drick tegas.


Raina terkekeh pelan.


Raina segera memilih pakaian dan mengenakannya.


"Biar aku bantu!" Ucap Drick saat Raina hendak merias wajahnya.


"Jangan selalu memakai riasan tebal! Itu akan menutupi kecantikan natural wajahmu." Ucap Drick dengan telaten merias wajah Raina dengan riasan tipis.


"Kau tahu tentang make up?" Tanya Raina kagum.


"Aku mempelajari dari internet." Jawab Drick santai.


"Ayo, aku tidak ingin kita terlambat. Ini sudah sore dan aku takut jalanan macet." Ajak Drick mengenggam tangan Raina dan tangannya yang lain membawa tas yang berisi semua dokumen kenegaraan milik Raina tadi.


Mereka pun keluar dari kamar bahkan dari markas Dave.


Drick meminta seorang bawahannya untuk mengantarkan mereka menuju ke bandara.


Drick dan Raina akan kembali ke Sydney menggunakan pesawat umum sedangkan jet pribadi milik Dave sudah terbang kembali ke Sydney di hari yang sama setelah Drick sampai di London.


Mereka kini telah sampai di bandara.


"Santai bos. Semoga kalian selalu bahagia dan keponakanku selalu sehat." Sahut anak buahnya.


Drick mengangguk sebagai jawaban.


Mereka sudah berpamitan dengan Jack dan Liz tadi pagi-pagi sekali, jadi Jack dan Liz tidak lagi mengantar mereka sedangkan Derex dan Alice sudah kembali ke Italia beberapa hari lalu.


"Ayo sayang." Ajak Drick menggenggam tangan Raina.


Mereka pun berjalan masuk ke dalam bandara.


"Raina.." Terdengar seorang pria memanggil Raina dari arah belakang.


Drick dan Raina serentak berbalik.


"Velano?" Gumam Raina tak percaya dan otomatis ia berlindung di belakang Drick.


"Boleh aku bicara sebentar dengan Raina?" Tanya Velano sopan.


"Jika istriku ingin." Jawab Drick singkat.


"Raina, hanya sebentar." Pinta Velano.


Raina akhirnya keluar dari tempat perlindungan.


Velano menarik Raina sedikit menjauh dari Drick.

__ADS_1


"Raina, aku minta maaf untuk semua kekacauan yang membuat kita berpisah. Maafkan untuk semua kebodohanku. Aku akhirnya sadar, lima tahun bersamamu tapi bukan cinta yang aku berikan, melainkan hanya obsesi ingin memilikimu. Maafkan aku pernah mengikat mu dan membuang waktumu. Semoga kau bahagia bersama orang yang tepat." Ucap Velano tulus.


"Aku sudah memaafkan dirimu. Velano, jangan sakiti istrimu meski kau mungkin belum mencintainya. Dia adalah wanita yang baik dan hebat. Jaga dia dengan baik dan hargai dia dengan tulus. Aku yakin kau bisa." Sahut Raina tulus.


Velano tersenyum dan merentangkan tangannya.


"Boleh aku memelukmu untuk terakhir kali?" Tanya Velano tanpa niat apapun.


Raina menoleh ke arah Drick dan mendapatkan anggukan dari Drick.


Raina menerima pelukan hangat yang sudah sering ia rasakan namun sudah tidak senyaman dulu.


"Terima kasih untuk semuanya." Ucap Velano lagi.


"Em..aku juga terima kasih untuk segalanya." Sahut Raina.


Velano pun melepaskan pelukannya.


"Pergilah! Semoga kau bahagia." Ucap Velano.


"Kau juga, semoga bahagia." Ucap Raina sambil melangkah ke arah Drick.


Velano tersenyum tulus dan melambaikan tangannya.


Drick merengkuh erat tubuh Raina seolah menghapus jejak pelukan Velano.


"Cih..posesif sekali." Raina berdecih pelan.


"Tentu saja!" Sahut Drick bangga.


Mereka pun segera melakukan check-in dan pengesahan administrasi lainnya.


Setelah selesai, mereka langsung di tuntun masuk ke dalam pesawat untuk kalangan VIP.


Tak lama kemudian, pesawat mereka pun lepas landas.


"Istirahatlah! Perjalanan kita masih lama." Titah Drick pada Raina.


Raina mengangguk dan memejamkan matanya..


Drick setia menatap wajah cantik Raina yang berbeda dengan saat pertama bertemu dengan nya.


Wajah Raina saat ini cantik alami tanpa riasan tebal. Raina selama ini memang sering menggunakan riasan tebal karena profesinya sebagai model.


"Aku bahagia Raina. Bahagia karena telah bersamamu." Gumam Drick tersenyum.


...~ TO BE CONTINUE ~...


######


...___ YANG BELUM MAMPIR, YOKK MAMPIR ___...


__ADS_1


__ADS_2