TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Meninggalnya Rexa


__ADS_3

"Hans, bagaimana?" Tanya Arvina panik.


Arvina, Dave, Ken, dan Darvin baru saja sampai di rumah sakit.


"Maaf, aku gagal menyelamatkan Nyonya Rexa. Sesaat setelah aku menghubungimu, dia mengalami pendarahan otak secara mendadak dan itu yang menjadi penyebab kematiannya." Jelas Hansen.


"Maksudmu bagaimana? Kenapa bisa tiba-tiba Hans?" Tanya Arvina bingung, pasalnya tadi saat ditelpon pun Hansen hanya mengatakan Rexa sedang di rumah sakit dan kritis.


"Nyonya Rexa mengalami kecelakaan. Mobilnya ditabrak dari depan dan juga dari belakang sekaligus. Dia pun sudah terluka parah saat dilarikan ke sini." Jelas Hansen.


Dave dan Ken hanya memasang ekspresi datar.


Arvina terduduk lemas di kursi tunggu depan ruangan operasi.


"Kenapa bisa seperti ini? Ini semua salahku. Harusnya aku bisa menghentikan dan membujuknya sebelum dia pergi." Gumam Arvina menitikkan air mata.


"No, it's not your fault. Mungkin ini sudah jalan dan hukumannya." Bujuk Dave langsung duduk di samping istrinya dan memeluk Arvina.


"Aku jahat Dave, aku menyebabkan Mommy mu meninggal dunia." Ucap Arvina terisak.


"Sttt..jangan menangis! Semua itu sudah takdirNya. Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Bujuk Dave lagi.


"Hans, tolong segera urus pemakamannya." Pinta Darvin kepada Hansen.


Mereka memutuskan untuk langsung memakamkan Rexa meski hari sudah malam.


"Baik Dad." Hansen pun berlalu dari hadapan mereka untuk mengurus segalanya.


Darvin mendekati putrinya dan ikut menenangkan putrinya.


"Sudahlah, jangan menangis. Semua ini bukan salahmu." Ucap Darvin mengelus kepala Arvina.


Arvina masih terisak dalam pelukan Dave.


Ken kini duduk agak jauh dari mereka, ekspresinya susah dijelaskan namun tidak ada raut kesedihan di sana.


"Aku suruh mengurus semuanya. Satu jam lagi jasadnya bisa di makamkan." Jelas Hansen yang kini sudah di depan mereka.


"Terima kasih Hans." Ucap Dave lirih.


Hansen hanya mengangguk.


"Biar aku pergi untuk menjemput Zena dan Mommy Zevina, dan juga uncle Jey. Kalian bisa mengikuti petugas rumah sakit menuju ke taman pemakaman." Ucap Hansen lalu memutuskan untuk beranjak dan pergi ke mansion Dave untuk menjemput istri dan Ibu mertuanya serta Ayah Dave.


"Sudah babe, jangan menangis lagi." Titah Dave lembut.


Darvin memutuskan untuk menamani Ken meski ia masih kecewa kepada pria itu.


"Jangan bersedih! Mungkin ini memang sudah jalan takdirnya." Ucap Darvin meremas pelan pundak Ken.


Ken menatap Darvin yang sedang menatapnya hangat.

__ADS_1


"Aku tidak bersedih. Mungkin memang aku tidak layak mempunyai orang tua." Ucap Ken getir.


"Kau masih punya aku dan Mommy Zevina. Kau lupa? Kami adalah keluargamu." Darvin kemudian duduk di samping Ken.


Ken kini menunduk sedih.


"Maafkan aku Tuan Darvin. Aku mengecewakan kalian semua. Aku menyakiti kedua putrimu bahkan merusak masa depan Zena." Pinta Ken dengan suara tercekat karena menahan tangis.


"Ken, tentu aku ingin sekali menyalahkanmu. Tapi sekalipun aku membunuhmu, keadaan tidak akan bisa kembali seperti semula. Jadi yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki yang sudah rusak." Ucap Darvin tulus.


Ken terdiam.


"Butuh pelukan? Meski kau seorang pria, menangis terkadang sangat diperlukan." Tawar Darvin.


Ken hanya menunduk namun air matanya mulai menetes.


"Sudah, jangan bersedih lagi." Bujuk Darvin merangkul Ken dengan tulus.


Ken hanya mengangguk pelan.


Keempat orang itu tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga seorang petugas mengarahkan mereka agar mengikuti dari belakang untuk menuju ke taman pemakaman.


Darvin memutuskan untuk menyetir bersama Ken di sampingnya, Dave dan Arvina di belakang.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah taman pemakaman. Hansen dan yang lainnya juga sudah sampai. Zevina mendorong kursi roda Jeymian.


"Dad, maafkan aku. Aku yang menyebabkan Mommy Rexa meninggal." Pinta Arvina bersimpuh di kaki Jeymian.


Dave segera memaksa istrinya untuk berdiri.


Proses pemakaman mulai dilaksanakan.


Semuanya mengikuti prosesi pemakaman dengan kusyuk hingga selesai.


Tak ada yang menitikkan air mata selain Jeymian dan Arvina selama proses pemakaman berlangsung hingga selesai.


Kini, tinggal Ken, Dave, dan Arvina yang masih bersimpuh di depan makam yang masih basah itu.


"Mom, maafkan aku. Seharusnya aku bisa mencegahmu pergi tadi sore." Pinta Arvina.


"Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri." Titah Ken tegas.


"Maaf mengganggu waktunya Tuan dan Nyonya." Seorang petugas kepolisian menghampiri ketiga orang itu.


"Ada apa?" Tanya Dave bingung.


"Sewaktu kami memeriksa mobil Nyonya Rexa tadi, kami menemukan ini. Setelah kami memeriksanya ternyata ini adalah obat pelumpuh syaraf terutama kaki. Obat ini tidak membunuh, tapi jika dikonsumsi terus menerus dan dalam jumlah yang banyak obat ini akan menyebabkan kelumpuhan total." Jelas petugas kepolisian itu sambil menyerahkan sebotol obat di dalam kantong plastik klip kepada Dave.


"Tugas kami sudah selesai, jadi kami pamit undur." Pamit petugas kepolisian itu dan berlalu dari hadapan ketiga orang itu.


Dave menatap lama obat yang ia pegang.

__ADS_1


"Dave, apa mungkin obat itu yang Mommy Rexa berikan pada Daddy Jey?" Tanya Arvina tiba-tiba.


"Aku rasa begitu." Jawab Dave datar.


Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke mansion.


Menempuh jarak hampir dua jam akhirnya mereka sampai di mansion.


Dave segera menghampiri Jeymian.


"Dad.." Lirih Dave saat melihat Ayahnya sedang menatap foto Rexa di ponselnya.


"Oh..Dave m, ada apa?" Tanya Jeymian lembut dan segera menyembunyikan ponselnya.


"Apa selama ini Daddy tahu tentang tentang obat ini?" Dave menyerahkan obat yang diberikan oleh petugas kepolisian tadi.


"Ini obat Daddy. Mommy mu selalu membawanya kemanapun kami pergi." Jawab Jeymian tersenyum.


"Itu adalah penyebab sakitmu Dad. Obat itu yang menyebabkan kelumpuhan mu." Sahut Dave.


"Apa maksudmu? Bagaimana mungkin?" Tanya Jeymian tak percaya.


"Tapi kenyataan memang begitu Dad. Obat ini adalah obat pelumpuh syaraf." Timpal Arvina.


"Bagaimana mungkin Rexa tega melakukan ini? Dia adalah wanita yang lembut terlepas dari semua kesalahannya. Bagaimana bisa dia melakukan hal sekeji ini?" Tanya Jeymian tak percaya.


"Dad, aku yakin pasti ada jalan untuk Daddy bisa sembuh." Ucap Dave spontan memeluk Ayahnya.


Ken menatap pemandangan itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Ken, kemarilah." Jeymian melambaikan tangannya lalu merentangkan nya.


Ken menurut dan ikut masuk ke dalam pelukan Jeymian.


"Aku janji akan menebus segala kesalahan Rexa kepadamu. Maafkan aku." Ucap Jeymian mengecup Ken seperti putranya sendiri.


"Te terima kasih." Ucap Ken gugup.


Arvina tersenyum kecil melihat pemandangan di depannya. Ia memutuskan untuk pergi dari sana dan masuk ke dalam kamarnya dan Dave.


"Semoga setelah ini keadaan akan lebih baik." Gumam Arvina mengelus cincin pernikahan dengan Dave.


"Sayang.." Suara Dave membuyarkan lamunan Arvina.


"Em.." Arvina tersenyum manis melihat suaminya.


"Aku ingin bicara sesuatu denganmu." Ucap Dave duduk di samping istrinya.


"Ada apa?" Tanya Arvina bingung.


"Aku ingin ...

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2