TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Luka Hati yang berbeda


__ADS_3

"Kau yakin ingin tetap ikut pulang denganku?" Tanya Aston ragu.


Hari ini Arvina sudah diijinkan untuk keluar dari rumah sakit setelah tiga hari dirawat.


Arvina hanya mengangguk tanpa menatap Aston.


"Jika ragu lebih baik kembali saja ke tempat mu seharusnya berada." Ujar Aston dingin.


Aston sedang mencoba untuk melepaskan Arvina meski sakit rasanya. Ia sangat tahu kalau Arvina hanya menjadikannya pelarian.


"Baiklah! Aku akan pergi sendiri. Kau bisa pergi!" Titah Arvina pelan


"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin melihatmu terus menyiksa diri seperti ini. Apa kau merasa kau lebih pintar untuk mendiagnosa sakitmu? Apa kau bahkan merasa kau lebih besar dari Tuhan dan segala keajaibannya?" Aston sedikit meninggikan suaranya.


Entah kenapa Aston merasa Arvina menjadi sangat keras kepala.


Arvina tanpa berkata langsung turun dari ranjang dan berjalan keluar meninggalkan Aston.


Aston tentu tidak ingin jika sampai Arvina kenapa-kenapa, jadj ia segera mengejarnya.


Meski lemah, Arvina masih mampu berjalan dengan sangat cepat hingga Aston sedikit susah mengejarnya.


BUKK


Aston tidak sengaja menabrak seseorang. Seorang gadis yang mengenakan jas kedokteran terduduk di lantai sambil mengelus keningnya yang bertubrukan dengan dada Aston.


"Maaf Nona, aku sedang buru-buru jadi tidak melihat ada orang di depanku." Ucap Aston mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu.


"Tidak apa-apa. Aku yang salah ... "


"Liza?" Aston menghentikan ucapan gadis di depannya.


"Tuan Aston? Kenapa bisa disini?" Tanya Liza dengan wajah berbinar.


"Aku mengantar temanku berobat. Ah iya temanku..maaf aku buru-buru. Lain kali aku akan mentraktir mu makan malam sebagai permintaan maaf ku." Ucap Aston lalu pergi setelah mengacak pelan rambut Liza.


Liza hanya menatap kepergian Aston dengan senyuman manis.


"Dia pria idamanku." Guma Liza berjingkrak pelan.


Liza segera merapikan penampilannya dan memasang tampang datar untuk menjaga image nya sebagai seorang dokter magang yang berwibawa.


Beberapa minggu terakhir Liza memang dipindahkan ke rumah sakit di Sydney untuk melanjutkan magangnya yang sebelumnya adalah di London.


"Astaga, kemana wanita itu pergi?" Gumam Aston frustasi.


Aston memilih untuk mencari Arvina menggunakan mobilnya.


•••••••••


Arvina kini berjalan sendirian di trotoar dengan kaki telanjang bahkan mulai lecet.

__ADS_1


Matanya sembab, penampilannya sangat memprihatinkan.


"Dave, maafkan aku!" Gumam Arvina lagi.


"Hei, sweetheart! Kenapa kau berjalan seperti itu?" Suara kemayu seorang pria memanggil Arvina, namun tidak Arvina indahkan.


"Hei, kenapa?" Tanya pria itu kini berada di depan Arvina.


"Angie?" Arvina langsung memeluk pria di depannya yang ternyata adalah Angelo, atasan di tempat magangnya.


"Ada apa?" Tanya Angelo lembut sambil mengusap punggung Arvina.


Arvina tidak menjawab dan hanya menangis.


"Apa? Dave menyakitimu? Kenapa? Ada apa?" Tanya Angelo khawatir.


Arvina kini menggeleng.


"Aku yang menyakitinya. Aku yang melukai hatinya." Ucap Arvina semakin erat memeluk pria kemayu itu.


"Bagaimana bisa? Ceritakan padaku. Aku akan ... "


Belum selesai Angelo berbicara, Arvina sudah ditarik oleh Aston hingga pelukan mereka terlepas.


"Arvina, kau berkhianat?" Tanya Angelo tak percaya.


"Dia tidak berkhianat! Dia sakit!" Jawab Aston ketus dan langsung membawa Arvina masuk ke dalam mobilnya.


"Siapa pria tadi?" Tanya Aston penasaran.


Arvina tidak menjawab dan hanya memandang keluar jendela mobil.


"Apa dia juga mengenal suamimu?" Tanya Aston dan dengan segera Aston tersadar ia menyebut Dave adalah suami Arvina.


Arvina juga tidak menjawab.


"Apa kau sekarang juga bisu?" Tanya Aston kesal.


Arvina kini menutup telinganya dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya erat.


"Terserah saja!" Geram Aston dan langsung menambah kecepatan mobilnya.


Tak lama kemudian mereka sampai di kediaman Aston.


Aston turun dulu dari mobilnya diikuti Arvina.


"Shhh..." Arvina meringis saat merasakan perih di kakinya.


Aston yang melihat kaki Arvina lecet pun segera menggendongnya.


Aston menggendong Arvina hingga ke kamarnya dan mendudukkan Arvina dengan hati-hati di atas ranjang.

__ADS_1


Setelah itu Aston segera mengobati kaki Arvina tanpa berkata apapun.


"Istirahatlah!" Titah Aston dan langsung keluar dari kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Arvina.


Arvina memilih berbaring dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Sudah bisa di pastikan jika Arvina menangis lagi.


••••••••••••••


"Arvina..ARVINA.."


Lain hal dengan Arvina yang selalu merasa bersalah karena penyakitnya, Dave menggila sendirian selama tiga hari ini.


Ia terus dan terus saja memanggil dan meneriakkan nama Arvina.


"Arvina, aku benci padamu! Aku mencintaimu! Aku merindukanmu!" Ucap Dave dengan suara parau.


Penampilan Dave sangat kacau. Baru tiga hari, wajahnya sudah terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


Ia tidak pernah melangkahkan kakinya keluar dari mini barnya. Hanya minuman keras yang seolah mengerti kekecewaan dan rasa sakit hatinya.


"Kenapa kau tega melukaiku seperti ini? KENAPA?" Teriak Dave frustasi.


"Aku tahu aku tidak baik, aku sangat tahu banyak kesalahan yang aku lakukan padamu. Tapi aku mencoba, aku mencoba untuk menjadi lebih baik demi dirimu, demi pernikahan kita. Tapi kenapa kau malah mengkhianatiku? Kau lebih memilih rivalku?" Dave tak henti-hentinya berbicara sendiri sambil menenggak minuman keras di tangannya.


"Dave, keluarlah! Ada yang harus aku beritahukan kepadamu!" Titah Hansen sambil mengetuk pintu ruangan mini bar Dave.


"PERGI! AKU TIDAK INGIN MENDENGAR APAPUN!" Dave menjawab dengan bentakan menggelegar.


"Ini tentang istrimu! Dia sakit Dave." Hansen kembali berbicara berharap Dave akan mendengarnya.


"PERGI! AKU TAHU KALIAN HANYA MEMBUJUKKU. AKU PERCAYA PADANYA SEKALIPUN DIA MENGATAKAN DIA TIDAK MENCINTAIKU LAGI!" Teriak Dave lagi.


"Dave, dengarkan aku! Keluar dan dengarkan aku baik-baik. Arvina sakit, dokter yang menanganinya sudah menjelaskan keadaannya. Kemungkinan besar dia tidak ... "


"PERGI!" Dave berteriak sekali lagi untuk mengusir Hansen.


"Baiklah, aku pergi. Tapi ingat satu hal Dave, jika kau memang mencintainya, harusnya kau mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. Jangan menelan mentah-mentah apa yang kau dengar dan kau lihat. Itu semua yang akan menjadi penyesalanmu nantinya." Ucap Hansen langsung pergi meninggalkan mansion Dave.


"Sakit? Sakit apa? Dia wanita yang sehat. Bilang saja mau mengatakan dia sedang mengandung bayi orang lain." Gumam Dave kembali meneguk minumannya.


"Tunggu Arvina! AKU PASTI AKAN MEMBALASKAN SEMUANYA KEPADAMU HINGGA KAU MEMOHON UNTUK KEMATIANMU! PASTI AKAN!"


BRANGG


Dave kembali melemparkan botolnya hingga pecah berantakan.


...~ TO BE CONTINUE ~...


.#######

__ADS_1


Ingin menghujat Dave/Aston/Arvina atau aku? Silahkan dah..terserah


__ADS_2