TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Pendamping masing-masing


__ADS_3

"Sayang.." Panggil Dave yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Bryn tanpa mengetuk pintu.


Bryn segera melepaskan pelukannya dari Arvina.


"Maaf..tadi aku hanya ... "


"Kami sudah menunggumu." Ucap Dave lembut dan menarik Arvina ke dalam pelukannya.


Dave langsung saja merakus bibir Arvina tanpa aba-aba.


Bryn memalingkan wajahnya yang terasa panas.


"Jangan bermain dengan api sayang, kau bisa terluka." Ucap Dave lembut namun terdengar menakutkan.


Arvina tersenyum.


"Tentu. Hanya saja entah kenapa apinya suka sekali mengejarku!" Sahut Arvina terkekeh dan mengalungkan tangannya pada leher Dave.


Dave tertawa kecil.


"Ya sudah, ayo kita ke ruang makan. Tidak sopan membiarkan orang tua dan tamu kita menunggu terlalu lama." Dave sigap menggendong Arvina.


"Dave, aku bisa jalan sendiri." Pinta Arvina dengan wajah merona malu.


"Ini hukuman untukmu karena sudah mengijinkan pria murahan memelukmu. Jangan terlalu nakal sayang!" Ucap Dave kembali mengecup bibir Arvina.


"Cih..posesif sekali." Sahut Arvina bahagia.


Bryn yang sedari tadi mendengar obrolan mereka dari belakang, hanya bisa mengelus dada menahan kesal karena perkataan Dave.


"Sabar Bryn! Inilah cobaannya jika kau menaruh hati pada istri orang lain." Batin Bryn menguati dirinya sendiri.


"Dave, Vina, Bryn, ayo cepat kemari!" Titah Jeymian lembut.


Dave pun segera mendudukkan Arvina di tempatnya kemudian Dave di samping Arvina.


Bryn duduk di kursi kosong samping Jeymian.


Mereka pun mulai menyantap sarapan mereka.


"Ehm..bolehkah aku berbicara sebentar?" Tanya Bryn sopan.


"Silakan!" Dave mempersilakan sambil mengunyah makanannya.


"Ehm..mulai hari ini aku akan mempercepat proses penyembuhan Tuan Jeymian. Setelah selesai, maka urusanku di sini selesai." Ucap Bryn sendu.


"Itu urusanmu! Jika kau menyelesaikan tugasmu dengan baik, aku juga akan membayarmu mahal!" Timpal Dave.


Bryn hanya mengangguk pelan, tidak tahu harus melanjutkan apa lagi karena sikap dingin Dave yang seakan melarang anggota keluarga lain untuk berbicara.


Mereka pun segera menyelesaikan sarapan mereka.


Setelah selesai mereka berkumpul sejenak sebelum masing-masing akan melakukan pekerjaan masing-masing.


"Oh ya, malam ini aku diundang ke acara penghargaan Dokter Terbaik tahun ini. Dave, temani aku!" Pinta Hansen.


"Kenapa harus aku? Ajak saja saudaramu! Ingat, secara status, aku adalah majikan kalian!" Sahut Dave dibuat sombong.

__ADS_1


"No! Kedudukan kita sama sekarang! Berkat istri-istri kita!" Drick menimpali.


"Ayolah Dave! Sejak kau menikah, kau jarang sekali berkumpul seperti saat masih lajang. Vina, boleh aku membawa Dave? Malam ini saja." Pinta Hansen kemudian bertanya pada Arvina.


"Silakan saja. Aku tidak se-cemburu itu pada seorang pria." Jawab Arvina terkekeh sambil membantu Bryn menangani Jeymian.


"Ayolah!" Ajak Hansen lagi.


"Baiklah, baik! Istrimu titipkan saja pada istriku!" Jawab Dave menyanggupi.


"Aku dan Raina akan pulang sekarang!" Ucap Drick tersenyum licik.


Drick menarik Raina dengan lembut untuk mengikutinya, sayangnya langkah mereka terhenti saat melihat dua insan berlawanan jenis sedang berjalan masuk ke dalam mansion Dave.


"Liza?" Pekik Raina bahagia.


"Kakak?" Liza tak kalah antusias dan langsung berlari memeluk kakaknya.


"Kenapa bisa di sini kak? Oh ya, maaf aku belum bisa pulang saat hari pernikahanmu kemarin." Liza bertanya dan meminta maaf sekaligus.


"Sayang, kenalkan ini adikku, Liza. Liza, ini kakak ipar mu, Drick." Ucap Raina mengenalkan kedua orang itu bergantian.


"Maksudmu? Kau tidak menikah dengan Velano?" Tanya Aston yang datang bersama Liza tadi.


Raina menggeleng.


"Takdir membawa kami untuk berpisah dan menemukan kami dengan orang lain yang lebih tepat." Jawab Raina memeluk Drick.


"Tuan buruk rupa, sepertinya sebentar lagi kita akan menjadi keluarga yah? Aku sarankan kau perbaiki wajahmu dan matamu." Ucap Drick mengejek.


"Cih..menjijikkan! Liza, jangan sampai kau hanya dimanfaatkan saja!" Timpal Dave ketus.


"Dave.." Arvina melotot tajam pada Dave.


"Aston, Liza, duduklah!" Titah Arvina sopan.


Drick dan Raina mengurungkan niat mereka untuk pergi.


"Baiklah, aku benar-benar harus pamit sekarang. Kalian teruskan mengobrol. Sayang, aku pamit dulu!" Ucap Hansen beruntun kemudian berpamitan dengan Arzena dan mengecup singkat bibir Arzena.


Setelah berpamitan, Hansen pun beranjak meninggalkan mansion Dave.


Suasana Mansion tampak lebih ramai dan ribut karena orang-orang yang berkumpul itu.


"Baiklah, sepertinya aku dan Raina benar-benar harus pergi kali ini. Masih banyak hal yang harus kami selesaikan." Ucap Drick di sela-sela obrolan mereka.


Semuanya mengangguk perlahan.


"What? Tidak ada yang ingin mencegahku?" Tanya Drick tak percaya.


"Jika kak Raina yang mengatakannya, mungkin kami akan mencegah!" Sahut Liza menggoda kakak iparnya.


"Dasar anak kecil!" Drick melemparkan bantal sofa ke arah Liza namun disambut Aston dengan cepat.


"Ya sudah, kami pergi dulu!" Pamit Drick membantu Raina berdiri.


Mereka pun pergi setelah mendapatkan persetujuan.

__ADS_1


"Ehm....Aston, aku ingin bicara!" Ajak Dave gugup.


"Aku juga." Sahut Aston datar.


"Ikut aku! Kita bicarakan di ruangan kerjaku saja." Titah Dave lalu berdiri meninggalkan ruang keluarga diikuti Aston.


"Apa mereka akan berkelahi lagi?" Tanya Arzena khawatir.


"Tidak akan. Tenang saja." Sahut Arvina yang sudah selesai membantu Jeymian latihan.


"Vina, bolehkah aku ijin keluar sebentar?" Tanya Bryn tidak enak hati.


"Silakan!" Jawab Arvina singkat.


Bryn pun keluar meninggalkan mansion Dave dengan mengendarai mobilnya.


"Dad, apa Daddy mau istirahat? Biar aku antar ke kamar!" Tanya Arvina sopan.


Jeymian mengangguk.


"Tapi Daddy bisa sendiri." Ucap Jeymian tersenyum lembut dan berdiri secara perlahan lalu melangkah secara perlahan tapi pasti.


Arvina setia mengamati dengan gelisah, namun nyatanya Jeymian berhasil sampai di kamarnya tanpa jatuh sedikitpun.


"Liza, jadi sekarang kau sudah resmi menjalin hubungan dengan Aston?" Tanya Arvina girang.


Liza mengangguk bahagia.


"Ehm..aku benar-benar tidak menyangka dia akan menyatakan perasaannya dengan begitu romantis." Jawab Liza bahagia.


"Apa selama ini dia pernah mengasarimu?" Tanya Arvina khawatir mengingat bagaimana sikap Aston yang naik turun padanya beberapa waktu lalu.


Liza menggeleng.


"Dia selalu mengalah dan lembut padaku, kak. Dia benar-benar pangeran dalam mimpiku." Timpal Liza.


"Syukurlah." Gumam Arvina lega.


"Dan kau tahu kak? Dia juga sudah menghancurkan taman buatan bawah tanah yang pernah kau kunjungi itu. Dia melakukannya sendiri tanpa ku minta." Lanjut Liza.


"Sepertinya dia memang menemukan orang yang tepat sekarang." Gumam Arvina semakin lega.


Arvina, Liza, dan Aston memang sudah bertukar cerita beberapa waktu lalu saat Aston memutuskan untuk mengejar Liza dengan meminta berbagai saran dari Arvina.


"Aku lega. Pada akhirnya semua orang menemukan kebahagiaan mereka masing-masing." Batin Arvina tersenyum bahagia.


Mereka bertiga pun kembali mengobrol seru hingga teriakan seseorang membuat obrolan mereka terhenti.


"TOLONG AKU!!!"


...~ TO BE CONTINUE ~...


#######


Ijin beberapa hari gak Up..ada acara keluarga.


Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2