TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Kegundahan Velano


__ADS_3

"Aku ingin menggugurkan janin ini!" Ucap Raina dengan sorot mata penuh kebencian.


"Kau gila Raina!" Bentak Velano tidak setuju.


"Dokter, berikan aku resep vitaminnya!" Pinta Velano kepada sang dokter yang sedang melongok mendengar permintaan Raina.


Segera sang dokter menuliskan resep vitamin untuk Velano.


Velano langsung menarik Raina keluar dari ruangan dokter tersebut dan langsung membawa Raina masuk ke dalam mobil.


"Jangan menghalangiku Velano! Aku tidak menginginkan bayi ini!" Bentak Raina dengan amarah memuncak.


"Jangan gila Raina! Bayi ini tidak bersalah sampai kau harus membunuhnya!" Velano juga tak kalah membentak.


"Aku tidak menginginkan bayi ini!" Ucap Raina lagi namun dengan suara yang melemah.


Raina menangis terisak, menekuk dan memeluk kedua lututnya.


"Aku benci! Aku benci diriku! Aku benci hidupku! Aku benci dirimu! Aku benci semuanya!" Gumam Raina menangis tersedu.


"Sayang, aku mohon jangan berkata seperti itu! Jangan menyalahkan bayi ini! Salahkan aku! Aku yang menyebabkan semua kekacauan ini! Aku yang membuat hidupmu tersiksa, jadi jangan menyalahkan orang lain apalagi bayi yang tidak berdosa ini. Jangan melakukan kesalahan yang akan kau sesali nantinya." Ucap Velano berusaha membawa Raina ke dalam pelukannya.


Raina masih saja terisak.


"Kita akan rawat dan besarkan dia bersama-sama." Ucap Velano lagi setia mengusap lengan Raina.


"Tapi dia bukan bayimu! Bukan darah daging mu." Sahut Raina pilu.


"Jangan permasalahkan itu sayang. Asal dia lahir dari rahimmu, hal lain tidak menjadi persoalan." Bujuk Velano.


Velano sakit mengetahui Raina harus hamil darah daging pria lain, tapi lebih sakit baginya jika calon istrinya sampai melakukan aborsi dan membunuh nyawa yang tidak berdosa itu.


Sudah cukup ia menjadi sumber rasa sakit Raina, setidaknya ia bisa mengubah rasa sakit itu menjadi sedikit kebahagiaan.


"Sudah, jangan bersedih lagi! Aku akan marah jika kau sampai berbuat nekat." Titah Velano lembut dan mengusap air mata Raina setelah ia melepaskan pelukannya.


"Aku jahat Velano. Aku membiarkan pria lain menyentuhku dan sekarang aku bahkan hamil dari pria itu." Ucap Raina menunduk.


Velano menangkup wajah Raina dengan lembut dan menatap tepat ke dalam sepasang mata yang menyiratkan luka itu.


"Salahkan aku! Salahkan kebodohanku sendiri! Aku yang membuat keadaanmu seperti ini! Aku yang bersalah." Ucap Velano menenangkan Raina.


"Tapi aku ... "


"Sudah! Jika kau mencintaiku, maka jangan pernah berpikir untuk membunuh bayi yang tidak berdosa ini. Kita akan merawatnya bersama-sama nanti." Bujuk Velano lagi.


Raina akhirnya mengangguk pelan.

__ADS_1


"Sudah, jangan bersedih lagi!" Ucap Velano kembali membawa Raina ke dalam pelukannya.


"Wanita itu..apa yang dia lakukan di sini?" Batin Velano saat melihat seorang wanita masuk ke dalam rumah sakit tempat Raina tadi di periksa.


"Tidak! Tidak mungkin jika dia hamil juga! Wanita ular seperti itu pasti sudah menuntut tanggung jawab dariku jika memang dia hamik setelah malam terkutuk itu!" Batin Velano lagi berusaha menepis pikiran buruknya.


Pikiran Velano menjadi bercabang kemana-mana namun ia berusaha untuk fokus.


Dua hari lagi adalah hari pernikahannya Raina, apapun yang terjadi mereka harus menikah. Velano tidak ingin kehilangan seorang Raina, cinta pertamanya, wanita itu segalanya dalam hidupnya.


"Ayo kita pulang." Ajak Velano setelah melepaskan pelukannya.


Ia kemudian membantu Raina mengenakan seat beltnya, dan setelah itu mereka pergi begitu saja dari rumah sakit itu.


Velano mencoba sekuat tenaga untuk memperbaiki kesalahan yang ia ciptakan akibat kebodohannya sendiri, meski ia akui sangat sulit.


Kebodohan pertama adalah ia begitu lalai hingga dijebak oleh beberapa rekannya dengan minuman yang dicampur obat perangsang hingga berakhir ia menghabiskan malam panas bersama seorang gadis yang ia kenal namun tidak ia inginkan.


Kebodohan keduanya adalah ia berusaha menjebak Raina karena terlalu sulit mendapatkan maaf dari Raina, hingga berakhir Raina menghabiskan malam panas bersama Drick dan kini Raina bahkan harus mengandung benih pria brengsek itu.


Velano sangat berharap tidak akan ada lagi kesalahan akibat kebodohannya.


Tapi perempuan yang ia lihat tadi, gadis yang sudah ia renggut kesuciannya karena pengaruh obat sialan itu. Velano benci mengakui, tapi perempuan itu masih perawan saat Velano meniduri nya malam itu. Velano adalah yang pertama baginya.


Gadis itu cukup ia kenali, karena ia adalah salah satu pegawai di klub malam miliknya. Namun sejak kejadian malam itu, perempuan itu menghilang begitu saja seolah ditelan bumi. Dan sekarang muncul tiba-tiba di rumah sakit.


Ingin rasanya berteriak kencang meluapkan segalanya.


Bagaimana jika perempuan itu benar-benar sedang hamil?


Bagaimana jika buruknya lagi anak yang ada di dalam rahim perempuan itu adalah benihnya?


Apakah Velano harus bertanggung jawab?


Apakah Velano harus menikahi wanita itu dan merelakan Raina?


Tidak, Velano tidak akan bisa kehilangan Raina. Raina adalah nyawanya, hidupnya.


Tapi bayi itu? Apa dia akan menjadi pria brengsek yang menelantarkan darah dagingnya sendiri?


Argh..tapi semuanya belum terbukti.


Bisa saja perempuan itu sudah menikah dan hamil dari suami sahnya. Kesalahan satu malam tidak akan seampuh itu kan? Tapi kenyataannya, Raina juga sedang hamil dari pria brengsek itu karena kesalahan satu malam.


Sungguh, Velano frustasi namun harus tetap tenang demi Raina. Demi hari bahagia mereka yang sudah di depan mata.


Apakah Velano egois? Egois karena lebih mementingkan kebahagiaan dirinya daripada tanggung jawabnya?

__ADS_1


"Masa bodoh. Aku yakin malam itu dia juga sudah bersekongkol dan dibayar mahal untuk ikut menjebakku." Batin Velano.


Meski ia sangat penasaran dengan kenyataan yang ada, egonya memenangkan segalanya.


"Tidak ada yang boleh merusak kebahagiaanku bersama Raina." Batinnya lagi.


Velano berusaha keras untuk fokus menyetir meski beberapa kali ia hampir menabrak pengguna jalanan lain.


Mereka akhirnya sampai di kediaman Jack.


Raina langsung turun dari mobil tanpa mengatakan apapun dan masuk ke dalam rumah.


Velano tentu saja langsung turun dan mengikutinya.


"Princess? Kau darimana?" Tanya Jack yang ternyata sudah ada di rumah dan sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya.


"Dad..a aku tadi dari rumah sakit." Jawab Raina gugup.


Jack mengernyit bingung.


"Ada apa? Kau sakit?" Tanya Jack dan memutuskan untuk menghampiri putri sulungnya.


Jack meraba-raba kening putrinya itu dan merasa badan putrinya dalam suhu yang normal.


"Um..tidak. Tadi kata dokter aku hanya masuk angin." Jawab Raina berbohong.


Raina dan Velano memang tidak pernah menceritakan apapun perihal masalah dalam hubungan mereka.


"Kau ini..kau harus jaga dirimu dan kesehatanmu dengan baik. Dua hari lagi adalah hari bahagiamu, jadi jangan sampai kau kenapa-kenapa." Ucap Jack memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang.


"A aku tahu Dad. Dad, aku ingin istirahat sekarang. Nanti saja kita mengobrol lagi." Ucap Raina beralasan.


Jack pun melepaskan pelukannya.


"Baiklah." Ucap Jack.


Raina langsung berlari menuju kamarnya tanpa menghiraukan yang lainnya.


"Hei, kau kenapa di sini? Bukankah aku melarangmu untuk bertemu putriku selama tiga hari sebelum pernikahan?" Tanya Jack menggoda Velano.


"Um..iya Dad. Tapi aku sangat merindukan Raina dan aku tidak sanggup menahan itu semua." Jawab Velano menggaruk kecil tengkuknya, salah tingkah.


"Ya sudah, karena kau sudah datang, ayo kita perang catur lagi." Ajak Jack kepada calon menantunya.


Velano mengangguk. Barangkali bisa menghilangkan kegundahan di hatinya, pikirnya.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2