TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Melatih Ken


__ADS_3

"Cepatlah Ken!" Titah Dave dengan suara lantang sambil menunggu kakak tirinya itu bersama Drick dan Hansen.


Mereka sudah mengenakan pakaian olahraga agar lebih leluasa bergerak nantinya.


"Aku datang." Ken sedikit berteriak sambil berlari dari arah kamarnya.


"Ayo, aku sudah siap!" Ajak Ken optimis.


"Pertama, kau harus menguatkan fisikmu dan Drick yang akan melatihmu!" Ucap Dave menunjuk ke arah Drick.


"Ayo, Tuan cabul! Kau harus bisa kuat secara fisik juga! Jangan hanya milikmu di bawah sana yang kuat." Ucap Drick merangkul Ken dan kedua sahabatnya tertawakan terbahak mendengar ucapannya.


"Brengsek!" Maki Ken tertahan.


Drick, Dave, dan Hansen menuntun Ken menuju markas mereka yang tak jauh dari mansion mereka. Markas yang sering mereka gunakan untuk latihan menembak, bela diri, dan sebagainya.


"Wow....." Ucap Ken takjub dengan apa yang ia lihat.


Deretan senjata api dan senjata tajam tersusun rapi dan berkilau.


"Jangan sembarangan menyentuh! Itu koleksi kami yang langka. Jika kau merusaknya sedikit saja, nyawamu pun tidak akan cukup untuk menggantinya." Ancam Hansen agar Ken tidak sembarangan menyentuh.


"Dasar pelit!" Umpat Ken kesal.


Yang diumpat hanya tertawa meledek.


Mereka berempat berjalan masuk ke dalam ruangan khusus dengan berbagai alat fitnes.


"Kemarilah! Kita akan mulai latihanmu!" Drick melambaikan tangannya kepada Ken sedangkan ia segera menghidupkan mesin treadmill.


"Mulai dari yang paling ringan dulu! Aku yakin kau pasti tidak pernah olahraga." Titah Drick mengarahkan Ken agar naik ke atas mesin treadmill yang sudah menyala.


Ken menurut dan naik ke atas mesin treadmill itu.


"Gerakan kakimu sesuai kecepatan mesin ini! Jangan berhenti sebelum aku menyuruhmu berhenti!" Titah Drick mengulum senyumnya.


Ken hanya mengangguk curiga. Ia pun perlahan mulai menggerakkan kakinya mengikuti kecepatan mesin treadmill tersebut.


Dave dan Hansen juga latihan menggunakan alat lainnya.


"Hem...sepertinya kau cepat belajar. Aku akan menambah kecepatannya." Ucap Drick.


Tanpa aba-aba, Drick langsung menekan tombol untuk menambah kecepatan mesin treadmill itu hingga kecepatan maksimal.


"Drick..pe pelankan! Pelan..." Ken kewalahan mengimbangi pergerakan kakinya dengan kecepatan mesin treadmill, namun ia tetap berusaha.


BUKKKK


Akhirnya Ken jatuh terperosot dari mesin treadmill itu.

__ADS_1


"Si sialan kau...kau mau membunuhku?" Umpat Ken merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Cih...itu belum seberapa Tuan cabul! Tidak sebanding dengan kecabulanmu!" Ucap Drick tersenyum puas.


"Sekarang kita latihan angkat beban!" Drick menarik Ken bangun dari posisinya dan menyeret Ken ke arah berbagai alat untuk latihan angkat beban.


"Angkat itu!" Titah Drick menunjuk sebuah besi barbel berukuran sekitar dua meter dan sudah dilengkapi dengan dua buah plate besi di masing-masing ujung besi itu.


Dengan ragu Ken mengangkat barbel tersebut.


"Ini ringan. Aku kira benar-benar akan berat seperti yang selalu aku tonton di televisi." Ungkap Ken meremehkan.


"Tentu saja ringan. Yang berat itu beban hidupmu!" Sahut Drick.


"Angkat itu dan tahan selama sepuluh menit!" Titah Drick lagi.


Ken mengangguk semangat, sedangkan Dave dan Hansen sedang mengulum senyum saat melihat Drick mengambil plate besi tambahan.


Setelah mendapatkan plate besi yang diinginkan, Drick memasang plate besi tersebut pada masing-masing ujung besi barbel itu tanpa pemberitahuan kepada Ken.


"Drick..a apa yang kau lakukan?" Tanya Ken gelagapan berusaha menahan barbel yang ia angkat agar tak jatuh.


"Menambah bebannya agar lebih berat!" Jawab Drick santai setelah selesai memasang plate-plate yang ia pilih tadi pada ujung tongkat besi barbel tersebut.


Ken masih berusaha menahan barbel itu agar tidak jatuh.


Ken akhirnya tak sanggup dan langsung melempar barbel itu ke depan agar tidak menimpanya.


"Baru seperti itu kau sudah kewalahan? Bagaimana kah biss menjadi kuat untuk memperjuangkan wanitamu?" Ledek Hansen tersenyum meremehkan.


"Aku minta diajari untuk menjadi kuat, bukan untuk disiksa seperti ini. Aku tahu aku memang banyak salah pada kalian, tapi bukan seperti ini cara kalian untuk membalasku. Jika aku bisa lakukan sendiri, aku tidak akan meminta bantuan kalian!" Geram Ken dan langsung pergi meninggalkan ketiga pria itu.


"Dia marah?" Tanya Drick santai.


"Baru permulaan saja kau sudah keterlaluan! Bagaimana dia tidak marah?" Ledek Hansen pada sahabatnya itu.


"Biar aku yang membujuknya!" Usul Dave dan segera berlari menyusul Ken.


•••••••••••••


"Apa-apaan mereka? Apa mentang-mentang karena aku lemah, maka aku bisa dikerjai begitu?" Ken menggerutu kesal sepanjang memasuki mansion Dave.


"Ken, tunggu!" Dave berhasil mengejar Ken dan merangkul kakak tirinya itu.


"Lepaskan tanganmu!" Ken melepas kasar tangan Dave dari pundaknya.


"Wooo...slow man! Kita bicarakan baik-baik!" Bujuk Dave.


"Tidak perlu! Aku bisa mencari sendiri pelatih yang ikhlas dan tulus untuk melatih diriku, daripada meminta tolong pada keluarga sendiri dan hanya dikerjai!" Ketus Ken dan mendudukkan dirinya dengan kasar di sofa ruang keluarga.

__ADS_1


Dave merasa bersalah dengan ucapan Ken.


"Well, aku minta maaf atas kelakuan Drick tadi. Bagaimana jika aku sendiri yang melatih dirimu? Aku janji tidak akan nakal dan mengerjai dirimu, tapi aku tetap memberikan syarat untukmu!" Usul Dave tersenyum manis.


"Apa?" Tanya Ken kesal sekaligus curiga.


"Biar aku bisikkan!" Dave mendekatkan bibirnya pada telinga Ken dan membisikkan sesuatu.


"Kau yakin hanya itu?" Tanya Ken ragu setelah mendengar syarat dari Dave.


Dave mengangguk yakin.


"Aku setuju!" Ken segera meraih tangan Dave dan menjabatnya.


"Baiklah, kita mulai lagi latihannya besok! Tapi kau harus berusaha keras agar segera menyelesaikan proses latihanmu! Kau tentu tidak ingin kan jika wanitamu terlanjur menjadi istri orang lain baru kau menjadi kuat?" Ucap Dave memancing semangat Ken.


"Aku pasti bisa! Tenang saja!" Ken mengangguk antusias.


"Baiklah, aku akan kembali ke kamar untuk melihat istriku tercinta. Jangan lupakan syarat yang aku berikan tadi!" Peringat Dave pada kakak tirinya itu.


"Tenang saja! Asal kau serius dan tulus membantuku, apa yang kau inginkan pasti aku penuhi dengan baik!" Ken mengangkat tangannya seolah memberi hormat pada Dave yang sudah berlari kecil menuju kamarnya.


Ken merebahkan tubuhnya, bahkan saat Hansen dan Drick menyapanya pun, ia tidak peduli.


Ponsel Ken tiba-tiba berdering.


"El?" Dengan semangat Ken langsung menjawab panggilan itu.


"Ada apa sayang? Pasti Daddymu membatalkan rencana perjodohan itu? Benar kan?" Tanya Ken semangat dan berharap.


"Bukan itu! Aku hanya ingin menyampaikan padamu, jangan ganggu aku lagi! Malam ini kami akan mengadakan pertemuan dua keluarga sekalian menetapkan tanggal pernikahan. Jadi mulai saat ini jangan ganggu aku lagi!" Ucap Elviana di seberang sana.


"Jangan bodoh El! Hallo...El..." Panggilan Ken diputus sepihak oleh Elviana.


BRAKK


Ken melempar ponselnya dengan keras ke lantai hingga ponselnya pecah.


"Sial! Kenapa semua jadi rumit begini? Kenapa kau memberiku harapan lalu sekarang kau menyuruhku untuk memupuskan harapan itu? Tidak! Bagaimanapun aku akan tetap menarikmu kembali! Itu pasti El!" Gumam Ken geram.


Ia segera berlari menuju ke kamar Dave.


"Dave, bantu aku!"


...~ TO BE CONTINUE ~...


#####


Enggak jadi ngerjain babang Ken nya..kasian 🙊🙊 Kasih dia support ajah deh..

__ADS_1


__ADS_2