TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Keajaiban terbesar


__ADS_3

"Dave, jangan membuatku takut!" Pinta Arvina semakin terisak saat monitor pemantau detak jantung Dave berbunyi semakin cepat dan tak beraturan.


Dokter masih belum juga sampai.


Tubuh Dave membusung seperti orang yang kesulitan bernafas, tidak hanya sekali tapi berulang kali.


"Dave, tenanglah! Jangan seperti ini!" Pinta Arvina menggenggam erat tangan Dave begitupun Dave yang merespon dengan menggenggam tangannya.


"Astaga dimana semua dokter?" Drick menggerutu geram.


Ia dan Hansen tak kalah takut melihat sahabat sekaligus atasan mereka dalam keadaan seperti itu.


Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka hanya bisa berharap dan berdoa.


"Sial!" Hansen memukul dinding dibelakangnya. Ia kemudian berlari keluar dari ruangan Dave untuk mencari dokter.


Sementara Hansen mencari dokter, Arvina hanya bisa menangis sambil berusaha menenangkan Dave. Ia pun bingung harus melakukan apa.


"Dave aku mohon bertahanlah. Aku mencintaimu! Aku mohon. Jika kau pergi meninggalkan diriku begitu saja, jangan salahkan aku jika aku membencimu bahkan hingga kehidupan selanjutnya." Oceh Arvina.


Ia tahu Dave bisa mendengarnya. Dalam keadaan seperti itu, air mata Dave terus mengalir dari sudut matanya sementara tangannya menggenggam erat tangan Arvina.


"Aku mencintaimu Dave! Maka kau harus bertahan! Kau harus hidup! Kebahagiaan yang kau janjikan untukku belum kau wujudkan, jadi jangan berharap pergi sebelum kau mewujudkannya!" Oceh Arvina lagi.


Dave semakin bereaksi, namun bunyi monitor pemantau detak jantung Dave semakin pelan dan perlahan kembali stabil.


Hingga akhirnya Dave membusungkan tubuhnya dengan tinggi seolah baru berhasil mendapatkan oksigen dan spontan membuka matanya.


"Sialan! Jika kalian tidak ingin bekerja, jangan salahkan aku jika aku menghancurkan rumah sakit kalian!" Gerutu Hansen menarik paksa seorang dokter yang memang tugasnya menangani Dave.


Penampilan dokter tersebut tampak kacau dengan resleting celana yang terbuka.


"Oh, shit!" Drick memaki melihat pemandangan tak wajar itu.


"Segera periksa temanku atau aku pastikan barangmu itu tidak akan bisa berdiri lagi setelah ini!" Titah Hansen mengeratkan rahangnya.


"Dave, aku disini." Ujar Arvina mengelus kepala Dave.


Dave tidak bereaksi selain tatapan kosongnya, namun tangannya masih menggenggam erat tangan Arvina.


Dokter tersebut segera memeriksa keadaan Dave, namun Dave menatap tajam padanya.


"Jangan sentuh aku!" Titah Dave lemah.


"Dave, biarkan dokter memeriksa mu!" Titah Arvina lembut.


"Aku tidak membutuhkan dokter! Aku hanya butuh dirimu!" Ucap Dave tersenyum lirih.


Arvina menatap tajam padanya. Ia melepaskan tangannya dari Dave dan sedikit mundur.


"Baik! Jika kau tidak ingin diperiksa, aku juga tidak akan disini untukmu!" Ancam Arvina.


Dan baiklah, Dave mengalah.


"Baik baik, periksa aku!" Ketus Dave. Walau ia masih lemah, namun suara dinginnya benar-benar menakutkan dan jangan lupakan tatapan tajamnya.


Sang dokter segera memeriksa keadaan Dave.


"Keadaan Tuan Dave seperti sebuah keajaiban. Organ vitalnya sudah pulih dan bahkan berfungsi dengan normal. Jantungnya juga sudah berdetak seperti biasa. Sungguh ini keajaiban." Ucap dokter tersebut bahagia setelah selesai memeriksa Dave.

__ADS_1


"Enyahlah! Sudah aku bilang aku tidak membutuhkanmu!" Titah Dave dengan suara yang mulai terdengar lantang.


Sang dokter gugup, ketakutan menatap kearah Drick dan Hansen.


Hansen memberi kode pada dokter tersebut untuk meninggalkan ruangan dan tentu saja dokter itu segera pergi.


"Dave." Panggil Arvina langsung memeluk Dave walau ia masih dalam posisi baring.


"Hai babe, i miss you." Ucap Dave mengecup puncak kepala Arvina.


Arvina membantu Dave untuk setengah duduk bersandar pada kepala ranjang.


Dave kembali menarik Arvina kedalam pelukannya, walau selang oksigen masih menempel pada hidungnya dan beberapa kabel lainnya masih tertempel di tubuhnya.


"Kau membuatku takut." Ujar Arvina memukul pelan dada Dave.


"Aw..it's hurt babe. Kau menyakitiku." Keluh Dave bersandiwara.


Satu tangannya melepas selang oksigen dari hidungnya dan kemudian mencopot kabel-kabel yang tertempel pada tubuhnya.


"Kenapa dilepas?" Tanya Arvina khawatir.


"Aku ingin menghukum seseorang." Jawab Dave santai.


Arvina menatapnya bingung dan dalam satu gerakan Dave berhasil membungkam bibir Arvina dengan bibirnya.


Mereka berciuman sejenak untuk melepaskan rasa rindu mereka, mengabaikan kedua pria yang sedang menatap jengah pada mereka.


"Dave..sudah." Pinta Arvina dengan susah payah.


Dave menurut dan melepaskan pautan bibir mereka.


"Arghh..mata suciku ternodai." Erang Drick cemburu.


Ia memilih keluar dari ruangan Dave, dan Hansen menyusulnya.


"Hei bung, sudahlah! Terima saja nasibmu yang melajang seumur hidup." Ejek Hansen.


"Menyebalkan. Lihat saja nanti, aku akan mendapatkan pasangan gadis dewasa yang lebih panas dari kalian semua." Gerutu Drick kesal.


"Silahkan saja bung. Asal jangan sampai kau ingin dibunuhnya lagi." Ejek Hansen lagi.


Drick memilih tidak menanggapi.


"Aku ingin mencari sesuatu untuk Dave dan Arvina. Kau mau ikut?" Tanya Hansen.


"Tidak! Aku menjaga di sini saja. Kita tidak pernah tahu keadaan sekitar saat ini." Jawab Drick dingin.


"Baiklah. Tapi ingat, jangan pernah melirik ke dalam!" Kelakar Hansen meledek.


Drick memutar malas kedua matanya.


Diluar ruangan Drick sedang cemburu, maka didalam ruangan dua insan yang di mabuk kasmaran sedang bermesraan.


Dave bahkan meminta Arvina untuk naik ke atas ranjang dan duduk di sampingnya.


"Aku sungguh sangat merindukanmu sayang." Ucap Dave membelai rambut Arvina.


"Aku juga. Tapi kau bukannya membuatku bahagia, malah membuatku khawatir dan takut." Gerutu Arvina kesal.

__ADS_1


"Maaf." Pinta Dave mengecup puncak Kepala Arvina.


Arvina tersenyum manis.


"Dave, kapan kau akan menikahi ku?" Tanya Arvina semangat.


Dave mengerutkan keningnya, ia sudah siap untuk mengerjai wanitanya itu.


"Kau ini terlalu percaya diri. Siapa yang ingin menikah denganmu?" Ujar Dave memasang tampang datar.


Arvina melotot padanya.


"Jangan menatapku seperti itu! Ayolah, aku hanya merayumu saja." Ujar Dave lagi.


"Baik. Baik jika itu maumu. Jangan pernah menyesal!" Ancam Arvina hendak turun dari ranjang namun secepat kilat Dave menahannya.


"I'm just kidding babe. Aku akan menikahimu segera setelah aku sembuh. Dan kau tahu?" Dave sengaja memancing rasa penasaran Arvina.


"Apa?" Tanya Arvina bingung.


"Aku tidak sabar ingin segera merasakan milikmu lagi." Bisik Dave dengan nada sensual ditelinga Arvina.


"Kau ini..bisa-bisanya berpikiran mesum saat sakit begini." Gerutu Arvina mencubit kuat lengan Dave membuat Dave mengerang kesakitan.


"Haha..yang sakit itu dadaku, bukan area pribadiku." Ucap Dave terus menggoda Arvina.


Arvina hendak mencubit Dave lagi namun dengan gerakan cepat, Dave berhasil menahan tangannya.


"Aku mencintaimu sayang! Sungguh!" Ucap Dave menatap dalam mata Arvina.


"Aku juga Dave! Aku juga mencintaimu!" Balas Arvina juga menatap mata tajam Dave.


"Menjijikkan!" Ketus Drick yang masuk bersama Hansen dengan membawa beberapa bungkusan berisi makanan.


"Makanlah dulu." Hansen menyodorkan sekotak bubur untuk Dave.


Arvina segera menerima bubur tersebut dan mulai menyuapi Dave perlahan.


"Baru kali ini kau terlihat hidup kembali sejak kepergian pamanmu." Batin Hansen tersenyum.


"Kalian juga makanlah!" Titah Dave sopan pada kedua sahabatnya.


"Tidak perlu disuruh!" Ujar Drick melahap makanannya dengan kasar.


"Drick, aku berjanji! Nanti aku akan mengenalkan mu pada kakakku yang berprofesi sebagai model. Dia itu sangat cantik dan panas." Ujar Arvina tersenyum manis.


Drick langsung bersemangat.


"Kau janji?" Tuntut Drick.


Arvina mengangguk.


"Baiklah. Jangan sampai kau ingkar!" Ancam Drick dan Arvina mengangguk.


...~ TO BE CONTINUE ~...


#####


Maaf tidak bisa up banyak..diriku sedang tidak fit..🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2