TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Jebakan Gagal


__ADS_3

...NOTE : 🔞🔞🔞...


...BOCAH MINGGIR DULU!!!...


.


.


.


.


.


.


"Hans, kau yakin ini tempat pesta? Kenapa Terkesan seperti Klub malam?" Tanya Dave bingung.


Dave dan Hansen baru saja sampai di tempat penyelenggaraan acara penghargaan dokter terbaik tahun ini yang sempat Hansen sebutkan tadi pagi.


"Aku juga tidak tahu. Tapi dari undangan yang kudapat, memang ini tempatnya." Jawab Hansen juga merasa aneh.


"Ayo kita masuk dulu." Ajak Hansen berjalan masuk duluan ke dalam gedung itu.


Di dalam gedung itu memang sedang diselenggarakan sebuah acara, namun Hansen dan Dave akhirnya bisa melihat jelas bahwa acara itu bukan acara penghargaan melainkan acara ulang tahun.


"Olivia? Ini acara ulang tahun mantan istrimu?" Tanya Dave tak terima.


"Aku tidak tahu. Ya sudah, kita pulang saja!" Ajak Hansen dan mereka hendak berbalik namun suara panggilan seorang wanita membuat langkah mereka terhenti.


"Hans, ayo!" Ajak wanita itu yang tak lain adalah Olivia.


"Lepaskan aku!" Titah Hansen menepis kasar tangan Olivia yang menarik tangannya.


"Kau selesaikan masalahmu! Aku tunggu di mobil!" Ucap Dave lalu melangkah keluar meninggalkan Hansen dan Olivia.


"Jadi ini semua adalah rencanamu?" Tanya Hansen geram.


Olivia mengangguk tanpa rasa bersalah.


"Tentu sayang. Aku sengaja mengundangmu datang ke acara ulang tahunku." Jawab Olivia bergerak sensual merapikan kerah baju Hansen.


"JAUHKAN TANGAN KOTORMU ITU DARIKU!" Bentak Hansen geram dan membuang kasar tangan Olivia yang sedang berada di dadanya.


Suara musik mellow yang cukup kuat membuat orang lain tidak mendengar bentakan Hansen selain Olivia.


"Kenapa tega sekali Hans? Aku hanya mengundangmu dan ingin meminta maaf secara tulus padamu." Ucap Olivia pura-pura sedih.


"Persetan dengan ucapanmu!" Ucap Hansen dan berbalik hendak pergi.


JLEB


Olivia tiba-tiba menusuk Hansen dengan jarum suntik tepat dileher Hansen.


"WANITA SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN?" Bentak Hansen mencengkram kedua lengan Olivia dengan kuat.


Olivia berhasil menepis tangan Hansen kemudian ia yang menarik Hansen keluar dari gedung itu menuju satu lorong dengan banyak pintu yanh diyakini itu adalah pintu kamar.


Olivia menarik Hansen masuk ke dalam salah satu kamar yang memang sudah ia siapkan sesuai rencananya agar bisa menjebak Hansen.


"Sayang, aku tahu kau masih sangat merindukanku. Kau pasti ingat bagaimana dulu kau begitu tergila-gila dengan tubuhku kan?" Ucap Olivia dengan suara sensual sedangkan tangannya meraba dada bidang Hansen.


"Panas..sialan? Apa yang kau suntikkan padaku?" Tanya Hansen dengan suara sedikit lemah.


"Obat perangsang!" Jawab Olivia tersenyum nakal.

__ADS_1


Olivia kemudian berdiri sedikit menjauh di depan Hansen.


Perlahan ia membuka satu persatu pakaiannya dengan gerakan menggoda.


"Ayo Hans! Jamah aku seperti dulu lagi!" Pinta Olivia dengan suara mendayu-dayu.


Hansen berusaha sekuat tenaga menahan hasrat yang sudah memuncak apalagi di depannya terpampang jelas tubuh yang sudah sangat ia kenali bentuk rupanya.


"Ayo Hans! Aku rindu sentuhanmu!" Pinta Olivia kini berjalan mendekati Hansen dengan langkah yang dibuat se-seksi mungkin.


"Menjauh dariku!" Titah Hansen mendorong Olivia sekuat tenaga saat Olivia hendak mencium bibirnya.


Hansen berbalik dan hendak membuka pintu kamar itu, namun Olivia dengan cepat berhasil memeluknya dari belakang.


"Jangan pura-pura menolak Hans! Kita hanya perlu bermain sebentar saja atau kau mau sampai kau puas? Itu terserahmu." Ucap Olivia berusaha membuka kancing kemeja Hansen.


Hansen seakan tak berdaya menolak sentuhan Olivia lagi karena pengaruh obat perangsang yang ada dalam tubuhnya.


Hansen akhirnya berbalik namun tidak menyerang Olivia.


"Wanita ular! Jangan berharap aku akan mengkhianati istriku dengan wanita bangkai sepertimu!" Ucap Hansen geram dan dengan cepat akhirnya ia berhasil keluar dari kamar itu.


••••••••••••••


"Lama sekali?" Gumam Dave sambil mengetuk setir mobil dengan jari telunjuknya.


"Tahu begini, aku tidak akan mau menemani dia. Waktuku untuk bermesraan dengan istri tercintaku jadi terbuang percuma." Gumam Dave kesal.


BRAKK


Dave kaget tiba-tiba pintu mobilnya di tutup dengan sangat kencang padahal ia tidak mendengar pintu mobilnya dibuka.


"Kau ini sudah seperti hantu saja." Ledek Dave yang masih tidak tahu apa yang terjadi pada Hansen.


"Jalan sekarang! Aku membutuhkan istriku." Titah Hansen dengan nafas terengah-engah.


"Cepat Dave! Aku sudah tidak sanggup menahannya!" Titah Hansen lagi.


"Kau? Jangan bilang kau dalam pengaruh obat perangsang?" Tanya Dave bingung.


Hansen mengangguk pelan.


Dave dengan cepat melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu untuk segera kembali ke mansionnya.


Hanya butuh waktu setengah jam akhirnya mereka sampai di mansion.


Hansen langsung turun dari mobil Dave tanpa banyak bicara dan langsung masuk ke dalam mansion.


Dave juga segera turun dari mobil dan mengejar Hansen.


"Sayang.." Panggil Hansen dengan suara berat pada Arzena yang masih duduk dan menonton televisi dengan Arvina di ruang keluarga.


"Hans? Kenapa sudah pulang?" Tanya Arzena bingung dan berdiri menyambut suaminya.


"I need you!" Bisik Hansen dan langsung membungkam bibir Arzena dengan mulutnya.


"Ke kamar saja bung!" Titah Dave gemas melihat sahabatnya yang tidak tahu tempat.


Hansen menurut dan langsung menggendong Arzena menuju ke kamar.


"Ada apa dengannya?" Tanya Arvina bingung pada Dave.


"Dipengaruhi obat perangsang." Jawab Dave santai.


"Siapa yang melakukan itu?" Tanya Arvina penasaran.

__ADS_1


"Olivia! Mantan istrinya." Jawab Dave merengkuh pinggang Arvina dan mengecup leher istrinya.


"Sayang, aku juga dipengaruhi obat perangsang dan butuh pelepasan." Bisik Dave manja


"Itu akal-akalanmu saja Dave. Kita baru melakukannya tadi siang, jangan nakal!" Ucap Arvina mencubit gemas perut Dave.


"Memang itu mauku!" Tanpa menunggu lama, Dave langsung mengangkat tubuh Arvina dan berlari kecil menuju kamar mereka.


•••••••••••••


"Hans, apa yang terjadi?" Tanya Arzena sedikit takut melihat mata suaminya yang menggelap.


"Aku butuh dirimu! Aku tidak mungkin melakukan dengan wanita lain!" Ucap Hansen mengecup leher jenjang Arzena yang sedikit membulat karena kehamilannya.


"Tapi kenapa tiba-tiba?" Tanya Arzena dengan tangannya yang mencengkram punggung Hansen karena sensasi yang Hansen berikan padanya.


"Wanita bangkai itu berusaha menjebakku dan ingin aku menidurinya. Tapi itu tidak akan terjadi! Aku hanya akan meniduri istriku sendiri." Ucap Hansen dan tangannya berusaha melepas dress berkancing yang dikenakan Arzena.


"Baiklah! Tapi lakukan dengan pelan! Kau tahu kondisiku tidak mungkin untuk bermain kasar." Titah Arzena lembut.


"As your wish, sayang." Ucap Hansen kini berhasil menanggalkan dress Arzena dan hanya tersisa pakaian dalam saja.


"Maafkan aku menyentuhmu dengan cara seperti ini." Bisik Hansen merasa bersalah.


"It's okay, babe! Lakukan saja jika bisa membantumu mengurangi rasa sakitmu." Ucap Arzena tulus.


"Hansen kembali mencium bibir istrinya dengan lembut namun menuntut sambil membuka pakaiannya.


"Maafkan Daddy, twins! Daddy harus menyakiti Mommy kalian seperti ini." Pinta Hansen mengecup perut buncit Arzena.


Hansen kini sudah berhasil menanggalkan pakaiannya dan dalaman Arzena.


Hansen kembali memberi sedikit rangsangan agar Arzena lebih relaks.


"Sekarang Hans!" Pinta Arzena yang ternyata begitu menikmati sentuhan Hansen.


Tanpa menunggu lagi, Hansen segera melakukan penyatuan dengan istrinya.


"I'm sorry, babe!" Ucap Hansen sambil menggerakkan pinggul kekarnya.


"Tidak apa..akh.." Jawab Arzena dengan ******* yang terdengar merdu di telinga Hansen.


Hansen menghujam istrinya dengan sangat lembut.


"Tahan sayang! Aku hampir sampai!" Titah Hansen terpaksa harus bergerak lebih cepat agar segera meraih pelepasan.


"Arghh..." Erangan panjang Hansen terdengar lega.


"Terima kasih, sayang." Ucap Hansen merebahkan tubuhnya di samping Arzena dan menarik selimut menutup tubuh mereka.


"Aku yang harus berterima kasih padamu karena kau tetap setia dan tidak terpengaruh dengan wanita lain meski dalam keadaan seperti ini." Ucap Arzena memeluk tubuh kekar yang menyentuhnya untuk pertama kali selama usia pernikahan mereka.


"Karena aku mencintaimu dan aku tidak butuh wanita lain untuk memuaskanku! Ngomong-ngomong, kau masih sangat menggigit." Ucap Hansen tanpa ragu.


"Jangan membuatku malu." Titah Arzena membenamkan wajahnya pada dada bidang Hansen.


"Tidurlah! Besok kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan twins." Titah Hansen mengeratkan pelukannya pada istrinya.


Arzena hanya mengangguk sebagai jawaban.


"I love you!" Bisik Arzena pada Hansen.


"I love you more!" Balas Hansen tersenyum lalu mengecup kening istrinya.


Keduanya diam dan perlahan mulai terlelap dalam tenang.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2