
Satu Minggu kemudian
"Huah...ini benar-benar membosankan.." Teriak Arvina frustasi.
Sudah satu minggu lebih dirinya ditawan oleh Aston, dan beberapa hari terakhir Aston lebih banyak mendiamkan dirinya.
"Dave, kau dimana? Kapan kau akan datang? Awas saja jika di sana kau malah bersenang-senang dengan wanita lain!" Teriak Arvina lagi.
Ia kini sedang berada di balkon kamar Aston.
Meski mendiamkan Arvina, tapi Aston masih setia tidur di samping Arvina da memeluk dirinya.
"Arrgghhhhh.." Arvina kembali berteriak meluapkan segala kekesalan serta kejenuhannya.
Tok tok tok
Pintu kamar Aston diketuk.
"Masuk saja! Tidak dikunci." Titah Arvina kesal.
Ceklek
Pintu kamar Aston dibuka dari luar.
"Nona, Tuan Aston memintamu untuk segera turun dan sarapan." Ucap seorang pelayan pada Arvina.
"Aku tidak lapar dan tidak ingin makan!" Sahut Arvina ketus.
"Tapi Nona, mohon kerja samanya. Jika aku tidak berhasil membawa Nona turun, maka aku bisa mendapat masalah." Si pelayan dengan suara sedikit gemetar.
"Pria itu benar-benar brengsek dan pemaksa." Gumam Arvina kesal.
Arvina langsung berjalan keluar dari kamar dan turun ke bawah tanpa menghiraukan pelayan tadi.
Segera, ia menuju ke ruang makan, dan duduk berhadapan dengan Aston namun tidak menyentuh makanannya.
"Makanlah!" Titah Aston dingin.
"Tidak lapar dan tidak ingin makan!" Sahut Arvina tak kalah dingin.
Aston tidak menjawab dan sibuk menyelesaikan sarapannya.
"Hari ini aku akan pergi, mungkin akan malam baru pulang." Ucap Aston yang sudah selesai menyantap sarapannya.
Arvina masih diam dan tampak seperti sedang berpikir.
"Tidak perlu memikirkan cara untuk kabur, semua itu percuma!" Titah Aston yang seolah tahu isi otak Arvina.
"Boleh aku minta sesuatu?" Tanya Arvina santai.
"Apapun selain kebebasan!" Jawab Aston tegas.
"Aku sudah tidak mengharapkan kebebasan dari mu gila! Aku hanya ingin minta alat-alat untuk melukis." Jawab Arvina kesal dan meninggalkan Aston.
Dengan cepat Aston mengejar dan menarik Arvina ke dalam pelukannya.
"Maaf jika aku menyiksamu seperti ini. Tapi aku tidak ingin kehilangan dirimu. Sudah cukup aku selalu di khianati dan ditinggalkan." Ucap Aston dengan suara terluka.
Arvina hanya diam.
"Aku akan membawakan alat-alat untuk melukis sebanyak yang kau mau." Aston menimpali ucapannya sendiri dan mengecup puncak kepala Arvina beberapa kali.
"Aku pergi dulu, kau jangan lupa untuk makan dan istirahat!" Pamit Aston sambil melepas pelukannya.
Aston pun segera berbalik dan berjalan meninggalkan Arvina.
Aston pergi dengan menaiki helikopter.
"Mati saja kau! Aku kutuk helikopter mu itu meledak di udara!" Gumam Arvina mengutuk Aston.
Arvina yang masih kesal pun kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Ponsel, kenapa kau tidak menyayangiku lagi?" Tanya Arvina sambil melihat ponselnya yang tidak ada jaringan sedikitpun.
Ia kini duduk dan bersandar di atas ranjang.
"Aku merindukanmu Dave! Aku mohon cepatlah datang!" Ucap Arvina lagi sambil melihat foto-foto manisnya bersama suami tercintanya.
"Apa yang harus ku lakukan? Apa tidak ada cara lain agar aku bisa pergi dan kembali pada Dave? Ah, apa pria itu akan marah jika tahu aku sering dipeluk orang lain? Pasti dia akan marah, tapi aku akan dengan senang hati mengijinkannya untuk membersihkan jejaknya." Arvina berbicara sendiri untuk mengusir rasa bosan dan sedihnya.
Tok tok tok
Seseorang kembali mengetuk pintu kamar Aston.
"Masuk saja! Tidak dikunci." Titah Arvina malas.
"Nona, aku membawakan makanan untuk Nona. Silakan dimakan." Ucap seorang pelayan setelah masuk ke dalam kamar itu.
"Em, aku ingin bertanya. Apa ada tempat lain yang bisa aku kunjungi selain pantai? Aku bosan sekali." Arvina dengan sopan berbicara pada pelayan itu.
"Sebenarnya, ada sebuah taman di ruangan bawah kastil ini. Tapi taman itu adalah tempat rahasia Tuan Aston dan kekasihnya dulu." Jawab sang pelayan ragu.
"Apa aku boleh mengunjungi tempat itu?" Tanya Arvina berbinar.
Ia hanya ingin melepaskan rasa suntuknya melewati hari-hari yang membosankan.
"Jika Nona ingin, lebih baik Nona ke taman belakang saja. Aku takut Tuan Aston akan marah besar jika tahu Nona masuk ke sana." Usul pelayan itu mulai sedikit takut.
"Tidak apa-apa. Aku yang akan menjelaskan padanya nanti." Arvina berusaha merayu pelayan itu.
"Ba baiklah. Aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu lift saja." Ucap pelayan itu akhirnya menyanggupi.
Arvina dengan semangat turun dari ranjang.
"Silakan tunjukkan jalan!" Titah Arvina sopan.
Pelayan itu pun berjalan duluan dengan rasa takut menguasai dirinya.
Tak lama merek pun sampai di depan sebuah pintu lift.
Arvina mengedikkan bahunya bingung dan segera ia masuk ke dalam lift itu dan menuju ke taman di bawah ruang tanah.
Taman itu adalah taman buatan dengan alat-alat canggih hingga bunga-bunga di dalamnya tidak layu meski tidak di siram bertahun-tahun.
"Wah....ini indah sekali." Ujar Arvina berbinar setelah pintu lift terbuka.
Ia langsung saja keluar dari mengelilingi taman buatan yang sangat indah itu.
Menit berikutnya Arvina dapat melihat begitu banyak foto-foto mesra Aston dan Lizbeth terpajang indah dan rapi meski sedikit berdebu.
Dengan sangat hati-hati, Arvina mengambil sebuah album foto yang ada di atas salah satu meja.
Taman buatan itu di lengkapi dengan beberapa perabotan seperti meja, satu kursi lebar dan panjang, bahkan ada tempat tidur juga di pojok ruangan.
Arvina dengan sangat berhati-hati membuka lembar demi lembar untuk melihat foto di dalamnya.
Foto Aston bersama Lizbeth tampak begitu intim. Penampilan Lizbeth sangat terbuka di foto-foto itu dan beberapa foto menampilkan Aston menyentuh bagian-bagian pribadi Lizbeth.
"Apa dia benar-benar hanya menyentuh tubuh kekasihnya begini saja dan tidak lebih?" Gumam Arvina tersenyum nakal.
Aston memang tidak pernah melakukan hal yang melewati batas selama menjalin hubungan dengan Lizbeth, tapi tidak bisa dipungkiri, Aston sangat suka menyentuh tubuh kekasihnya saat itu dengan tangannya.
Arvina melihat semua koleksi foto Aston bersama Lizbeth bahkan ia sama sekali tak sadar kalau hari sudah berganti malam.
••••••••••••••
"Sayang, aku pulang." Ucap Aston sedikit berteriak.
Tidak ada jawaban.
Aston langsung saja menuju ke kamarnya karena berpikir Arvina pasti di dalam kamar.
Dua tangan Aston menenteng begitu banyak alat-alat untuk melukis.
__ADS_1
"Sayang?" Panggil Aston sambil membuka pintu kamarnya.
Aston memang senang memanggil Arvina dengan sebutan sayang.
"Tidak ada juga?" Gumam Aston bingung.
Ia mengira Arvina mungkin sudah kabur dari castil itu hingga ia memutuskan untuk mencari di seluruh kastil bahkan hingga ke pantai namun tidak ada hasil.
"Dimana dia?" Gumam Aston dengan perasaan tak tenang.
Ia juga takut jika Arvina berbuat gila dan membahayakan dirinya sendiri.
"Hei, dimana wanitaku?" Tanya Aston dingin kepada pelayan yang tadi mengantar Arvina ke ruang bawah tanah.
"Ma maaf Tuan, Nona ada di ruang bawah tanah." Jawab pelayan itu takut.
Aston ingin marah, tapi melihat keadaan Arvina jauh lebih penting saat ini.
Dengan cepat ia berlari ke arah pintu lift berada dan masuk ke dalam lalu turun ke bawah.
Pintu lift terbuka.
"Dia ini dulunya tampan juga.." Suara Arvina bisa Aston dengar.
Aston segera keluar dari lift dan ia dapat melihat Arvina sedang berbaring di atas ranjang sambil melihat album fotonya bersama Lizbeth.
"Wanita ini bodoh sekali, jelas sekali Aston sangat mencintainya, tapi dia malah berkhianat." Gumam Arvina lagi saat ia melihat foto yang isinya adalah jasad Lizbeth.
"Hei.." Aston menyapa dengan lembut dan naik ke atas ranjang berbaring di samping Arvina.
Arvina tersentak kaget dan sedikit takut.
"Ma maaf aku masuk ke sini tanpa ijin. Aku hanya terlalu bosan dan em ... "
Aston mengunci bibir Arvina dengan bibirnya. Aston mencium Arvina dengan sangat lembut.
"Please, love me Arvina!" Pinta Aston setelah melepas pautan mereka.
Arvina bingung harus menjawab apa? Jika dia kembali menolak, Aston bisa saja mengamuk lagi. Tapi tidak mungkin menerima dengan kebohongan.
"Akh.." Arvina tiba-tiba saja merintih kesakitan.
"Kau kenapa?" Tanya Aston bingung.
"Perutku sakit." Jawab Arvina memegangi perutnya.
Aston dengan segera menggendong Arvina keluar dari ruangan itu dan membawa Arvina kembali ke kamar.
"Aku ingin ke kamar mandi. Sepertinya aku datang bulan." Pinta Arvina lemah saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Aston membantu Arvina masuk ke dalam kamar mandi, setelah itu ia tidak ragu untuk mengambilkan cd dan pembalut yang memang sudah ia sediakan untuk Arvina.
Aston meletakkan di depan kamar mandi setelah mengetuk pintu.
Tak lama kemudian Arvina keluar dengan menahan sakit dan wajahnya sedikit pucat.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Aston khawatir.
Arvina hanya mengangguk pelan lalu naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya.
Aston segera keluar dari kamar dan turun ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Arvina.
Teh hangat adalah pilihan Aston, meski ia tidak tahu apakah Arvina akan suka.
Selesai membuatnya, Aston langsung membawa teh hangat buatannya ke dalam kamar.
Ternyata Arvina sudah tertidur.
Aston naik ke atas ranjang dan berbaring memeluk Arvina. Satu tangannya mengurut perut Arvina dengan lembut.
"Istirahatlah! Besok pasti tidak sakit lagi." Bisik Aston mengecup puncak kepala Arvina.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...