TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Menyemangati


__ADS_3

"Akh..akhirnya kita sampai juga." Erang Drick pelan.


Mereka sudah tiba di Sydney dan saat ini sedang berada di dalam mobil yang dikemudikan salah satu bawahan Drick.


"Sayang, aku ingin mengunjungi twins!" Pinta Raina memeluk manja lengan kekar Drick.


"Nanti saja yah..sekarang masih subuh dan mereka pasti masih istirahat. Tidak enak mengganggu." Bujuk Drick lembut.


"Lihatlah! Baru sampai di sini saja kau sudah tidak sayang lagi padaku. Lalu untuk apa kau merayu dan membujukku kemarin?" Rengek Raina melepaskan pelukannya dari lengan Drick secara kasar.


"Astaga, bukan seperti itu sayang. Hari masih subuh dan tidak enak jika kita mengganggu istirahat orang." Ucap Drick mencoba menjelaskan.


"Tetap saja, kau sudah tidak peduli lagi padaku." Raina membuang wajahnya enggan menatap Drick.


Drick memijat pelipisnya yang terasa berdenyut seketika.


Mau tidak mau ia akhirnya mengeluarkan ponselnya untuk coba menghubungi Dave.


"Bung, maaf mengganggu. Bolehkah aku berkunjung?" Tanya Drick tidak enak hati.


"Boleh, tapi ada apa?" Tanya Dave dengan suara serak, jelas sekali ia terbangun dari tidurnya.


"Nanti aku jelaskan." Jawab Drick mengakhiri panggilannya.


"Leo, kita ke mansion sekarang." Titah Drick pada anak buahnya.


"Baik Tuan!" Jawab Leo dan langsung memutar balik arah.


"Kau memang yang terbaik sayang." Ucap Raina kembali manja dan bergelayut pada lengan Drick.


"Apapun untukmu asal kau tidak meminta nyawaku." Sahut Drick gemas.


"Kenapa begitu?" Tanya Raina sedikit kesal.


"Jika kau meminta nyawaku dan aku mati, lalu siapa yang akan menjaga kalian?" Tanya Drick sambil mengelus lembut perut Raina yang masih rata.


"Benar juga. Baiklah, aku tidak akan meminta nyawamu dan kau juga tidak boleh mati cepat!" Sahut Raina dengan ancaman.


Drick mengangguk gemas.


Satu jam kemudian mereka sampai di mansion Dave.


"Ayo." Ajak Drick menuntun Raina turun dari mobil.


Raina sangat bersemangat.


"Senang sekali?" Ucap Drick dengan nada bertanya.


Raina tidak menjawab dan langsung melangkah masuk ke dalam mansion Dave.


Sepi, karena semua penghuni masih istirahat.


"Kak Raina?" Panggil Arvina yang ternyata sudah menunggu di ruang keluarga bersama Dave.


"Vina.." Raina semangat berlari kecil dan langsung memeluk erat Arvina.


"Kenapa kaka bisa di sini? Dan kenapa bisa bersama Drick? Dimana kak Velano?" Tanya Raina beruntun.


"Hei, jangan bertanya tentang pria lain kepada istriku!" Titah Drick mengacak rambut Arvina membuat Dave melotot tajam padanya.

__ADS_1


"Is istrimu? Bagaimana bisa? Kau merebutnya dari kak Velano? Pantas saja kau girang sekali sewaktu akan berangkat dua minggu lalu." Cerca Arvina penasaran.


"Lagipula kenapa harus subuh-subuh kalian datang?" Tanya Dave malas.


"Bukan kemauan ku. Tapi bayi kami." Jawab Drick santai.


"APA?" Tanya Dave dan Arvina serentak.


"Apa maksudmu bayi? Kau menghamili kakakku?" Tanya Arvina geram dan langsung mencekik leher Drick.


"Sayang, lepaskan tanganmu dari lehernya atau aku akan menghukummu sekarang juga!" Titah Dave cemburu.


Arvina mau tak mau akhirnya melepaskan tangannya dari leher Drick.


"Slow. Aku bisa menceritakan semuanya." Ujar Drick merapikan pakaiannya.


"Ceritakan!" Titah Arvina geram.


Drick terkekeh sedangkan Raina kembali bergelayut manja pada Drick.


Drick pun mulai menceritakan semuanya tentang dirinya dan Raina.


"Bagaimana? Menarik bukan?" Tanya Drick tersenyum lebar setelah mengakhiri ceritanya.


Dave dan Arvina melongok tak percaya.


"Cih..buaya memang buaya." Ledek Arvina.


"Hei..jangan memanggilku buaya! Aku itu setia dan aku melakukan hanya pada Raina." Ucap Drick ketus.


"Cih..aku tidak percaya!" Sahut Arvina menolak pernyataan Drick.


Arvina dan Drick memang suka sekali berdebat.


"Dave, ngomong-ngomong bagaimana keadaan Daddy mu sekarang?" Tanya Drick penasaran.


"Daddy ku mulai membaik dan sekarang dia sedang belajar berjalan menggunakan tongkat." Jelas Dave tersenyum.


"Syukurlah." Sahut Drick lega.


"Dave, aku ingin tidur bersama Vina!" Pinta Raina tiba-tiba.


"Silakan! Aku tidak mungkin menolak keinginan Ibu hamil kan?" Sahut Dave mengijinkan.


"Kau memang pengertian, tidak seperti seseorang yang harus menunggu istrinya kesal dulu." Ucap Raina dan langsung bangkit lalu menarik Arvina pergi meninggalkan kedua pria itu.


Dave menggeleng pelan melihat tingkah kedua wanita itu.


"Dave, kau tahu? Aku punya pengalaman yang sangat luar biasa dengan Raina." Ucap Drick semangat.


"Apa? Apa wanitamu itu sangat ganas di atas ranjang?" Tanya Dave terkekeh.


"Lebih dari itu! Aku merasakan gejala kehamilan yang ia rasakan. Aku mual dan muntah, lalu juga selalu ingin melakukan hal yang ia ingin lakukan ataupun memakan sesuatu yang ingin ia makan." Jelas Drick dan tidak sanggup menyembunyikan rona bahagianya.


"Melakukan apa yang ingin ia lakukan? Jangan bilang kau sekarang sedang ingin tidur bersama istriku?" Tanya Dave geram.


"Bodoh! Tidak begitu juga." Sahut Drick melemparkan bantal sofa ke arah Dave.


Dave bernafas lega.

__ADS_1


"Lalu bagaimana denganmu? Apa sudah menemukan solusi? Apa sudah ada perkembangan?" Tanya Drick tulus.


"Vina baru beberapa hari ini mengkonsumsi obat kesuburan yang diberikan dokter. Semoga saja kami bisa cepat mendapatkan hasil, tapi aku tidak ingin memaksakan." Jawab Dave sendu.


"Tenang saja bung! Aku doakan yang terbaik untukmu. Jangan putus asa!" Ucap Drick menguatkan.


"Terima kasih." Ujar Dave tersenyum.


"Ah iya, apa dokter yang merawat Daddy mu masih tetap tinggal di sini?" Tanya Drick penasaran.


"Masih. Sebenarnya aku malas sekali karena dia sering berusaha mendekati istriku saat aku tidak ada. Tapi mengingat keadaan Daddy yang belum pulih total, mau tidak mau aku harus menahannya di sini." Jawab Dave malas.


"Ya sudah, lagipula aku yakin istrimu tidak akan mengkhianatimu." Ucap Drick menyemangati.


Dave mengangguk pelan.


"Ya sudah, ayo kita istirahat. Aku masih ngantuk." Ajak Dave.


Mereka pun beranjak ke kamar masing-masing. Drick memang mendapatkan jatah kamar di mansion Dave.


••••••••••••••••


"Kak Raina, aku akan turun dan membuat sarapan untuk kita semua. Kau mau ikut?" Tanya Arvina yang sudah rapi sedangkan Raina masih setia menempel di kasur.


Arvina tadi malam membawa Raina tidur di kamar tamu karena Dave melarang keras orang lain apalagi seorang wanita untuk tidur atau sekedar duduk di atas ranjangnya.


Kamar dan tempat tidurnya hanya miliknya dan Arvina, itu prinsipnya.


"Tidak. Kau sendiri saja! Aku masih mengantuk." Jawab Raina malas.


"Ya sudah, kakak istirahat saja." Arvina merapikan selimut yang menutupi tubuh Raina kemudian langsung keluar dari kamar itu.


Arvina langsung berjalan menuju ke dapur.


"Amy, pagi ini aku yang akan menbuat sarapan. Jadi biarkan aku melakukannya." Pinta Arvina sopan.


"Baik, Nona. Aku akan membantu." Sahut Amy juga sopan.


"Tidak. Aku tidak membuat banyak, jadi kau bisa kerjakan yang lain atau kau membuat sarapan untuk teman-teman yang lain." Usul Arvina.


"Pagi tadi suamiku sudah membeli sarapan untuk kami semua walau belum kami makan." Sahut Amy lagi.


"Oh, ya sudah. Kalian makan saja dulu. Tidak apa-apa. Nanti makanan kalian jadi tidak enak jika dibiarkan terlalu lama.


" Baiklah, kalau begitu aku permisi. Jika butuh bantuan, segera panggil aku, Nona." Pamit Amy dan langsung pergi setelah mendapat persetujuan dari Arvina.


Arvina pun segera melanjutkan pekerjaan Amy tadi dan membuat sarapan sesuai bahan-bahan yang sudah Amy siapkan di atas meja dapur.


"Dave, jangan seperti ini! Malu dilihat orang." Titah Arvina saat merasakan sepasang tangan kekar melingkar di perutnya dan sang pemilik tangan itu mengendus serta mengecup lehernya.


Tanpa aba-aba seseorang yang memeluk Arvina itu langsung membalikkan tubuh Arvina.


"Kau??"


...~ TO BE CONTINUE ~...


######


...___ RAMEKAN YOKKKKK ___...

__ADS_1



__ADS_2