
"Sayang, kau masih tidur?" Tanya Dave yang baru masuk ke kamar dan mendapati istri tercintanya masih setia terbungkus selimut.
"Em.." Arvina berdehem pelan saat Dave naik ke atas ranjang dan turut masuk ke dalam selimutnya.
"I love you!" Bisik Dave lalu mengecup pipi istrinya.
Tangan Dave bergerak nakal menjelajahi tubuh istrinya yang hanya berbalut lingerie tipis di balik selimut.
"Engh...Dave.." Lenguh Arvina saat tangan Dave menikmati gundukan kembarnya sedang bibir Dave mengeksplor leher jenjang istrinya.
"Aku menginginkanmu, sayang." Pinta Dave dengan suara berat.
"Lakukan dengan lembut Dave! Kau pasti ingat kalau aku tidak sendiri lagi saat ini." Sahut Arvina tanpa membuka matanya sedari tadi.
Dave mengangguk dan naik ke atas tubuh istrinya. Perlahan tapi pasti, Dave telah berhasil melepas lingerie tipis istrinya hingga kini istrinya benar-benar polos.
"Kau selalu saja menggoda imanku sayang." Ucap Dave dan mulai melahap bibir ranum Arvina.
"Ehm...akh..Dave..." Desah Arvina saat tangan suaminya dengan bebas berkelana di atas tubuhnya.
"Yes..i am here and will always here for you!" Sahut Dave sambil membuka bajunya.
"I love you Arvina Anthony Alexon!" Bisim Dave lagi.
"I love you too, Mr. Alexon!" Balas Arvina menjambak rambut Dave saat Dave mencium serta menggigit kecil area selangkanya.
"Umh..." Arvina kembali melenguh sedang Dave kini bersiap membuka celananya.
BRAKKK
Pintu kamar Dave dibuka begitu saja karena tadi dia lupa mengunci pintu. Hal itu sontak membuatnya menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
"Dave, bantu aku!" Pinta Ken tanpa melihat jelas keadaan Dave dan Arvina.
"****! Bisa tidak kau mengetuk pintu dulu?" Geram Dave kesal.
"Ma maaf." Ucap Ken merasa bersalah.
"Kau menghilangkan seleraku untuk bercinta dengan istriku!" Geram Dave lagi sedangkan Arvina hanya terkekeh kecil di balik selimut.
Dave turun dari atas tubuh istrinya dan duduk di tepi ranjang.
"Katakan ada apa?" Titah Dave kesal.
"El, keluarganya akan mengadakan pertemuan malam ini. Bantu aku untuk menggagalkan semuanya!" Pinta Ken tanpa mendekati Dave.
"Hah..kenapa tidak minta bantuan Drick atau Hansen? Kenapa harus aku?" Keluh Dave.
"Hanya kau yang aku percaya. Mereka selalu mengerjaiku." Ungkap Ken serius.
__ADS_1
"Ya sudah! Nanti malam aku akan membantumu! Sekarang kau pergilah, aku tidak ingim diganggu!" Titah Dave malas.
"Terima kasih. Silakan lanjutkan." Ken menutup kembali pintu kamar Dave dan berlalu pergi.
"Sayang..aku akan menyerangmu lagi.." Ucap Dave tersenyum nakal sambil melepas celananya.
Arvina tersenyum malu-malu menyambut suaminya.
•••••••••••••••••••
"El, aku akan pastikan kau tidak akan menikah dengan pria manapun selain diriku!" Gumam Ken yang sedang berendam di dalam bathup.
"Meski harus menjadi bajingan, aku siap asal kau menjadi milikku!" Gumam Ken lagi dengan seringai menakutkan.
Ken persis seperti Ayahnya, Roy. Roy terlihat sebagai pria yang ceria dan penggila wanita, tapi siapa sangka bahwa ia memiliki sisi psikopat yang hampir saja membunuh Zevina dan Arzevin yang sedang di dalam kandungan Zevina saat itu. Ken juga terlihat diam dan lemah, tapi mempunyai sisi gila. Terbukti dari apa yang sudah ia lakukan pada Arvina dan Arzena beberapa bulan lalu.
Selesai berendam, Ken segera membersihkan tubuhnya dan sisa sabun yang menempel.
Setelah itu ia segera bersiap dan mengenakan pakaian yang rapi karena memang hari sudah malam.
"Perfect! Kau tampan meski kau miskin!" Ucap Ken memuji diri sendiri.
Ia segera keluar dari kamarnya dan ternyata Dave sudah menunggu di ruang keluarga.
"Oh yah, dimana Arzevin? Bukankah kemarin dia menginap di sini?" Tanya Ken setelah berhadapan dengan Dave.
"Dia kembali ke rumah mereka yang dulu kalian tempati bersama Mommy Zev dan Daddy Darv." Jawab Dave santai sambil memainkan sebuah rubik.
"Kau tahu tempat pertemuan mereka?" Tanya Dave santai.
"Tidak! Tapi kita bisa membuntuti mereka." Jawab Ken dengan sorot mata tak biasa.
"Okay! Apa yang kau usulkan aku akan ikut. Ayo.." Dave merangkul kakak tirinya itu keluar dari mansionnya dan masuk ke dalam mobil. Dave menyetir. Ken sebenarnya sudah bisa menyetir, tapi ia masih kurang berani.
Mereka segera meluncur menuju ke kediaman orang tua Elviana karena Ken yakin Elviana ada di sana.
Satu setengah jam kemudian mereka sampai di sana, dan mereka mengamati dari luar, sementara dari dalam tampak Elviana dan kedua orang tuanya memasuki mobil.
"Siap-siap untuk mengikuti mereka!" Titah Ken geram.
Dave hanya mengangguk paham. Mobil orang tua Elviana melesat melewati mereka, dan Dave segera menyalakan mesin mobilnya dan segera mengejar mobil orang tua Elviana.
"Bagaimanapun caranya, aku pasti akan membatalkan perjodohan ini! Aku tidak akan mengijinkan pria lain memiliki apa yang sudah aku sentuh lagi!" Geram Ken.
Dave saja sampai bergidik melihat kakak tirinya itu. Benar-benar tidak disangka Ken bisa segila itu, pikirnya.
Satu jam kemudian mereka sampai di depan sebuah restoran bintang lima yang sudah terkenal di kota itu.
Ken dan Dave segera turun sesaat setelah Elviana dan keluarganya juga turun. Kedua pria itu segera menyusul dan mengikuti Elviana dan keluarganya dari belakang.
__ADS_1
"Lihat saja! Akan ku cincang pria itu menjadi sebelas bagian dan aku berikan kepada harimau yang ada di kebun binatang setiap bagian tubuhnya!" Ucap Ken geram.
Dave hanya mengulum senyum. Mereka kini berhenti sedikit jauh dari ruang VVIP yang di masuki Elviana dan keluarganya.
"Wait, kita tidak bisa seperti ini. Ayo, ikut aku!" Ajak Dave lalu menarik Ken menuju ke dapur restoran itu.
"Tuan Dave? Ada apa kemari? Tuan Takeshi sedang tidak di sini!" Tanya seorang koki yang sedang bertugas di dapur.
"Aku sedang tidak mencarinya. Pinjamkan aku pakaian pelayan dua pasang! Dan pesanan ruangan VVIP nomor 3, biar kami yang mengantarnya." Pinta Dave tegas.
Koki pria tadi segera menuruti perintah Dave.
"Dave, kau kenal pemilik restoran ini?" Tanya Ken takjub.
"Aku salah satu investor di restoran ini!" Jawab Dave sambil mengganti pakaiannya.
Sepuluh menit kemudian mereka telah rapi dengan pakaian pelayan.
"Sebentar!" Dave menghentikan Ken yang akan keluar.
Dave keluar meninggalkan Ken, lalu tak lama kemudian ia kembali dengan dua kacamata dan kain untuk mengikat kepala mereka agar melengkapi penyamaran mereka.
"Ingat, usahakan sebisa mungkin jangan banyak bicara dan mengangkat kepala!" Titah Dave mengingatkan.
"Tenang saja!" Sahut Ken optimis.
Mereka keluar dari ruang ganti dan menunggu di bagian khusus untuk mengambil pesanan.
"Ayo!" Ajak Dave sambil mendorong sebuah lemari susun dorong dan Ken juga.
"Banyak sekali pesanannya? Apa aku boleh memasukkan racun?" Tanya Ken terkekeh.
"Silakan! Tapi jangan memintaku untuk menebusmu dari penjara." Ancam Dave.
Mereka kini sampai di depan ruang VVIP nomor tiga. Mereka segera masuk agar tidak mengundang perhatian pegawai lain.
"Selamat malam Tuan dan nyonya! Ini kami mengantarkan semua hidangan yang sudah kalian pesan!" Ucap Dave sedikit memberatkan suaranya.
"Terima kasih!" Jawab salah satu pria dan suaranya terdengar familiar.
Ken mengangkat sedikit kepalanya untuk mengintip.
DEG..
Jantung Ken seketika mengalami serangan mendadak yang membuatnya shock dan mematung. Jantungnya berdetak sangat kencang.
PRANGGG
Ken tidak sengaja menjatuhkan piring kosong yang hendak ia tata karena tangannya mengalami tremor.
__ADS_1
"Ma maafkan aku!"
...~ TO BE CONTINUE ~...