
Satu Minggu Kemudian
Dave sudah diperbolehkan kembali ke rumah dan sekarang ia pun sudah ada di mansionnya dan tentunya bersama Arvina.
Ia tidak rela mengijinkan Arvina terpisah darinya walau sebentar, bahkan keluarga Arvina selalu mengomeli dirinya pun ia tidak kapok dan terus menawan Arvina di sisinya.
Arvina sudah seperti oksigen untuk Dave.
"Dave, kau ingin makan sesuatu?" Tanya Arvina lembut.
Dave mengangguk.
"Ingin makan apa?" Arvina kembali bertanya.
Dave tersenyum licik. Ia langsung menarik Arvina yang sedari tadi duduk di sampingnya hingga Arvina berada di atasnya sekarang.
Ia menekan tengkuk Arvina hingga wajah mereka sangat dekat. Perlahan wajahnya mulai mendekati wajah Arvina hingga membuat Arvina menutup matanya.
"Aku ingin memakan mu!" Bisik Dave ditelinga Arvina dan ia meniup sekilas telinga Arvina, membuat bulu kuduk Arvina meremang.
"Kau ini kenapa selalu begini?" Oceh Arvina kesal dan memaksa lepas dari Dave. Dave tersenyum penuh kemenangan.
"Cepat katakan kau ingin makan apa?" Ketus Arvina.
"Aku belum lapar sayang. Kau lupa dua jam yang lalu kita baru selesai makan?" Jawab Dave dengan bertanya balik.
Arvina tampak mengingat-ingat kemudian tersenyum malu-malu.
"Dave, kau tidak ada niatan memberikan lamaran romantis untukku?" Tanya Arvina memeluk manja Dave.
Dave sangat suka sifat manja Arvina apalagi jika Arvina tergantung penuh padanya.
"Tidak! Untuk apa lamaran? Kita bahkan sudah melakukan itu, jadi hanya perlu menikah saja." Dave menjawab anteng, niatnya untuk mengerjai wanita tercintanya itu.
Ia sebenarnya sudah menyiapkan segalanya dengan bantuan Hansen.
Mereka berencana melamar kedua kembaran itu bersamaan malam ini.
Arvina mendengus kesal dan melepaskan pelukannya. Ia menghentakkan kakinya berjalan masuk ke dalam kamar.
Dave ingin sekali berteriak keras dan tertawa, hanya saja agar rencananya sukses, ia harus bersandiwara.
Dave segera mengejar Arvina ke dalam kamar.
Arvina naik ke atas ranjang dan berbaring meringkuk, kesal dengan jawaban Dave.
Terlintas cara yang lebih ekstrim untuk mengerjai belahan jiwanya itu.
Ia naik ke atas ranjang dan memeluk Arvina dari belakang.
Dave menyibak rambut yang menutupi leher putih Arvina, kemudian perlahan bibirnya mulai menelusuri leher Arvina.
"Dave hentikan!" Bentak Arvina kesal.
"Satu kali saja sayang! Dan aku akan memberikan lamaran yang kau inginkan!" Pinta Dave menahan tawanya.
Arvina melepas kasar tangan Dave yang melingkar di perutnya. Ia berbalik dan menatap tajam pada Dave.
"Kau pikir aku wanita apa? Terserah apa yang ingin kau lakukan, tapi aku tidak akan serendah itu hanya untuk satu lamaran mu yang tidak berarti!" Ketus Arvina masih menatap tajam pada Dave.
Sungguh, Dave ingin sekali tertawa melihat ekspresi wanitanya saat ini, menggemaskan.
"Oh, ayolah! Satu kali saja. Lagi pula tidak akan sakit dan kau akan menikmatinya." Ujar Dave sengaja.
PLAK
Arvina menampar pipi Dave dengan keras dan langsung turun dari ranjang lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi.
__ADS_1
Dave tersenyum puas.
"Baiklah jika kau tidak ingin. Aku juga akan membatalkan pernikahan kita!" Teriak Dave dan langsung keluar dari kamarnya tak lupa sengaja menutup pintu dengan kuat.
Dave yakin Arvina pasti menangis di dalam kamar mandi.
Dave mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Drick.
"Ingat tugasmu malam ini! Jangan sampai gagal!" Titah Dave dan hanya terdengar deheman dari seberang panggilan.
Dave segera pergi dari rumahnya menuju ke tempat ia dan Hansen akan melamar Arzena dan Arvina.
••••••••••
Tak terasa malam telah tiba. Saatnya Drick untuk melakukan pekerjaannya.
Ia memilih menjemput Arzena lebih dulu.
"Ya Tuhan, sampai kapan aku harus menjadi perantara untuk kedua pasangan yang tidak tahu menghormati pria lajang sepertiku?" Gerutu Drick sambil mengendarai mobilnya.
Ia telah sampai di kediaman Anthony. Darvin memang memboyong keluarganya tinggal dirumah tempat Arvina, Arzena, dan Ken tinggal sebelumnya, hanya saja Dave yang sangat tidak tahu malu memaksa agar Arvina tinggal bersamanya.
"Zena." Panggil Drick berpura-pura panik saat melihat Arzena sedang duduk di halaman depan rumahnya.
"Ada apa? Tanya Arzena tak kalah panik saat melihat Drick panik.
" Ikutlah denganku! Hansen dan Dave akan membunuh pria cabul itu, tapi mereka juga dikepung. Hanya kau dan Vina yang bisa menghentikan mereka." Ucap Drick gelisah.
Bodoh, kebohongan yang tidak masuk akal tapi dengan mudahnya Arzena malah percaya.
"Baiklah, aku ikut." Arzena segera ikut dengan Drick.
Satu tugas Drick selesai, tugas berikutnya adalah Arvina.
Sampai di mansion Dave, mereka segera turun dan masuk ke dalam.
"Arvina." Panggil Drick berpura-pura panik lagi saat melihat Arvina duduk di ruang keluarga mansion Dave.
"Dave dan Hansen dikepung musuh dan hanya kalian yang dapat menghentikan mereka." Ucap Drick.
Kekesalan masih menguasai Arvina membuat ia tidak mudah terhasut.
"Terserah saja! Mati juga aku tidak akan bersedih." Ujar Arvina ketus dan kembali menyantap salad buahnya.
Drick melotot tak percaya mendengar jawaban Arvina, ternyata tidak semudah seperti ia membohongi Arzena.
Drick memilih memaksa dengan sedikit kekerasan. Ia mendekati Arvina merebut paksa salad buahnya dan konyol sekali Drick malah menyendok sesendok salad buah Arvina dan menyantapnya.
"Lezat." Gumam Drick.
Drick meletakkan mangkok salad buah itu di meja dan menarik paksa Arvina.
"Lepaskan aku! Aku tidak peduli padanya!" Teriak Arvina kesal.
Drick terus menariknya dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"Zena?" Tanya Arvina tak percaya.
Arzena hanya tersenyum kaku. Drick segera melajukan mobilnya menuju tempat eksekusi.
Sepanjang perjalanan Arzena memasang wajah khawatir sedangkan Arvina kesal.
Drick hanya menahan senyum melihat ekspresi keduanya yang sangat berlawanan.
Tak lama mereka pun sampai disebuah taman yang sudah dihias dengan sangat indah.
Arvina dan Arzena bingung.
__ADS_1
"Turunlah!" Titah Drick pelan setelah membuka pintu mobilnya.
Kedua wanita itu turun dari mobil Drick dengan wajah yang kebingungan.
"Ikuti aku!" Titah Drick berjalan duluan.
Keduanya mengikuti Drick dengan berbagai pertanyaan di otak mereka.
Drick menuntun mereka sampai di sebuah jembatan yang tidak terlalu lebar lalu berjalan melewati jembatan itu hingga sampai di ujung jembatan terlihat dua pria gagah sedang membelakangi mereka.
Kedua pria itu berdiri menghadap ke arah danau.
"Tugasku selesai." Ujar Drick meninggalkan ke empat orang itu.
Dave dan Hansen serentak berbalik, mereka tampak rapi dalam balutan busana casual. Keduanya sama-sama memakai jaket kulit hitam hanya saja Hansen terlihat lebih bersih karena ia tidak bertato, mungkin? Dan Dave dengan tato hingga ke punggung telapak tangannya.
Keduanya tersenyum manis.
Arzena memilih mendekati Hansen sedangkan Arvina yang masih kesal ditambah dirinya merasa dibohongi pun memilih berbalik dan melangkah pergi.
Dave tentu saja segera mengejarnya dan sigap menarik tangan Arvina hingga Arvina berbalik dan masuk kedalam pelukannya.
"Maafkan aku. Aku yang salah. Sebenarnya aku hanya berniat membuatmu kesal saja agar rencana untuk melamar mu malam ini terasa lebih nyata dan menjadi sebuah kejutan untukmu." Jelas Dave.
Arvina membulatkan matanya mendengar kejujuran Dave. Ia memaksa lepas dari pelukan Dave.
"Kau ini kenapa menyebalkan sekali?" Ketus Arvina sambil mencubit lengan Dave.
"Awh..shh..sakit sayang. Astaga sudah hentikan." Dave mengerang berusaha menghindar.
Arvina akhirnya berhenti. Dave langsung berjongkok di depannya dengan satu lutut menyentuh tanah.
Ia kemudian mengeluarkan satu kotak kecil yang di dalamnya sudah pasti adalah cincin, Dave membuka kotak tersebut lalu menghadapkan pada Arvina.
"Will you marry me?" Tanya Dave lembut.
Arvina tentu saja langsung mengangguk bahagia. Tidak mungkin lagi ia bisa menolak Dave.
Dave langsung melompat bahagia.
"Yuhuuu..thanks babe." Dave memakaikan cincin berlian tesebut pada jari Arvina.
Dave langsung memeluk Arvina dan melahap sejenak bibir mungil Arvina.
Mereka berdua menatap ke arah Hansen dan Arzena yang ternyata sedari tadi sedang melihat mereka. Keduanya mendekati Hansen dan Arzena. Hansen rupanya belum mengutarakan isi hatinya.
Dave segera memberi kode agar Hansen segera berbicara.
"Ekhem.." Hansen berdehem mengusir rasa gugupnya.
"Arzena. Aku mungkin bukan pria sempurna yang kau inginkan. Aku bukan pria romantis seperti kebanyakan orang diluar sana. Tapi satu yang aku tahu, sejak melihatmu hari itu, aku langsung menaruh hati padamu. Wajah teduhmu saat terlelap seolah menjadi obat untuk menyembuhkan luka masa laluku. Arzena will you ... "
"I will. Aku mau Hans. Aku mau menikah denganmu." Jawab Arzena tanpa menunggu Hansen selesai berbicara.
Hansen tersenyum bahagia dan langsung memakaikan cincin yang ia pegang di jari Arzena. Ia juga memeluk Arzena dan melahap lembut bibir Arzena untuk pertama kalinya.
" Terima kasih Hans. Kau mau menerimaku dengan semua masa laluku." Ucap Arzena tenang.
"Karena aki mencintaimu sayang. Aku akan menjagamu dan buah hati kita." Ucap Hansen tanpa ragu.
"Well..tiga minggu lagi kita menikah dan tidak ada yang dapat merebut sikembar ini dari kita lagi." Ujar Dave optimis.
Keempat orang itu tertawa bahagia saat ini.
...~ TO BE CONTINUE ~...
######
__ADS_1
Adakah yang mau gabung Grup Chat WHATSAPP?
Kalo ada yang mau, tinggalkan nomor kalian di kolom komentar atau PC aku bagi yang udah follow an sama aku..