
"Engh..." Arvina melenguh pelan dan perlahan membuka matanya.
Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Dimana aku?" Gumam Arvina bertanya kepada dirinya sendiri.
Ia kini berada di sebuah kamar mewah bernuansa gelap. Wewangian maskulin sangat mencolok memenuhi kamar itu.
"Aku terikat?" Gumam Arvina lagi saat merasakan tangannya terikat ke atas, namun kakinya tidak.
"Hei, siapapun itu..lepaskan aku!" Teriak Arvina kesal.
Tidak ada yang menjawab.
"Hei..lepaskan aku!" Teriak Arvina lagi.
Lagi-lagi tak ada yang menjawab.
Arvina mendengus kesal dan memaki sendiri.
CEKLEK
Pintu kamar itu terbuka.
Tampak seorang pria bertelanjang dada masuk ke dalam.
"Hei, lepaskan aku!" Titah Arvina kesal.
Pria itu hanya melangkah dengan santai mendekati ranjang tempat Arvina terikat.
"Kau?" Tanya Arvina tak percaya saat menyadari yang ada di depannya adalah Aston.
"Hai babe, kita bertemu lagi." Sapa Aston dingin.
"Kau lagi? Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Arvina dengan nada tinggi.
"Kau! Aku ingin dirimu!" Jawab Aston menekan setiap katanya.
"Sial! Aku bahkan tidak mengenalmu, kenapa kau gila seperti itu?" Arvina terus saja bertanya dengan kesal seolah tidak ada rasa takut.
Aston tersenyum meremehkan.
Tanpa ragu ia naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Arvina.
"Bajingan! Lepaskan aku! Apa kau tidak takut mati?" Arvina kembali bertanya dan memaki.
"Diamlah! Jika tidak ingin berbuat lebih." Titah Aston dingin.
Aston memejamkan matanya dan menarik Arvina ke dalam pelukannya.
"Awsh.." Pekik Arvina merasa kesakitan di pergelangan tangannya karena terikat.
"Kenapa? Apa aku menyakitimu?" Tanya Aston dengan raut khawatir.
"Bodoh! Sudah tahu masih bertanya, kau tidak lihat tanganku terikat? Atau kau memang sengaja?" Arvina selalu berbicara dengan nada tinggi kepada Aston.
SRETT
Aston memotong tali yang mengikat tangan Arvina dengan pisau yang entah ia dapat darimana.
__ADS_1
"Tidurlah lagi! Jangan pernah berharap untuk kabur dari sini lagi!" Ucap Aston kembali dengan nada dingin.
"Jangan memelukku! Kau bukan siapa-siapa ku." Titah Arvina memberontak.
"Diam! Sudah aku bilang diam!" Aston mencengkram dagu Arvina dengan kuat.
"Sakit bodoh!" Arvina benar-benar seolah tidak takut menghadapi seorang Aston.
Aston kini tersulut emosi.
Dengan gerakan cepat ia mengunci tubuh Arvina di bawahnya.
"STOP!" Pekik Arvina saat Aston hendak menciumnya.
Aston menyeringai.
"Baik baik, aku diam." Ucap Arvina pasrah.
Aston turun dari atasnya dan kembali berbaring di sampingnya, tak lupa ia kembali menarik Arvina dan memeluknya erat.
"Sialan! Apa mau pria gila ini? Aku bahkan tidak mengenalnya. Tidak tidak, aku harus memikirkan cara agar bisa kabur dari sini." Batin Arvina.
Karena rasa kantuknya belum hilang sepenuhnya akibat obat yang disuntikkan Aston tadi, perlahan mau tidak mau akhirnya Arvina kembali tertidur di dalam pelukan Aston.
••••••••••••••••
"Engh.." Kini giliran Arzena yang tersadar dari tidurnya.
"Aku dimana?" Tanya Arzena bingung.
Ia juga berada di dalam sebuah kamar dan dengan tangan terikat, hanya saja kamar itu lebih sederhana dan cahayanya remang-remang.
"Oh, kau sudah bangun sayang?" Tanya seorang pria.
Suara pria itu terdengar familiar di telinga Arzena, hanya saja nadanya terdengar menakutkan.
Arzena masih belum bisa melihat jelas wajah orang itu.
"BOOM" Dengan suara lantang pria itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya di depan Arzena membuat Arzena memejamkan matanya karena ketakutan.
"Apa maumu Ken?" Tanya Arzena masih memejamkan matanya.
"Mauku? Hanya kau dan bayi kembar kita." Jawab Ken dengan nada mengerikan.
"Mereka bayiku! Bayiku dan Hansen!" Ucap Arzena berusaha untuk berani.
"Bohong! Itu adalah bayiku, benihku!" Bentak Ken membuat mata Arzena yang sudah terbuka kembali tertutup.
"Untuk apa Ken? Untuk apa sekarang kau menginginkan mereka jika dari awal kau bahkan menyangkal mereka adalah milikmu?" Tanya Arzena dengan suara bergetar.
"Aku salah. Aku salah, maafkan aku." Pinta Ken terisak tiba-tiba memeluk Arzena.
"Lepaskan aku! Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" Titah Arzena membuat Ken meradang.
Ken turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah nakas lalu mengambil sebatang jarum suntik berisi obat tidur.
Arzena panik saat melihat tindakan Ken yang hendak menyuntiknya.
"Ja jangan lakukan itu Ken! Kau bisa membunuhnya." Titah Arzena berusaha tenang.
__ADS_1
Ken tidak ingin mendengarkan.
"Ken berhenti! Baik baik, ini bayimu. Bayi kita." Ujar Arzena mencoba memprovokasi Ken agar ia tidak nekat atau nyawa janinnya akan terancam.
Ken langsung saja tersenyum bahagia dan menyimpan kembali jarum suntik itu ke dalam laci nakas.
"Bukankah menurut itu lebih baik sayang?" Tanya Ken dengan nada menakutkan.
Ken kembali naik ke atas ranjang dan memeluk Arzena.
"Jangan pernah pergi dariku! Aku memang tidak kaya, tapi aku janji akan berjuang untuk kau dan bayi kita." Ucap Ken kini nadanya terdengar lebih tenang.
Arzena hanya mengangguk pelan agar Ken tidak menggila dan berbuat nekat.
"Silakan kau gila Ken! Aku pasti akan menemukan cara untuk lari dari sini." Batin Arzena mencoba untuk tenang meski ia sangat takut sekarang.
"Tidurlah! Kalian harus banyak istirahat kan? Aku akan menjaga kalian." Titah Ken dengan tetap memeluk Arzena
Arzena harus berakting sekarang, dan ia memilih untuk terlihat menurut kepada Ken dan pura-pura tidur.
"Berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku." Pinta Ken saat ia mengira Arzena benar-benar sudah terlelap.
••••••••••••••••••
"Keputusan final! Kita temukan dulu istrimu baru setelah itu istriku!" Ucap Dave geram.
Ia dan Hansen beserta Drick masih melakukan rapat untuk mencari Arzena dan Arvina.
"Tapi Dave, kita bisa berpencar." Usul Hansen.
"Tidak! Keadaan sangat tidak memungkinkan kita untuk berpencar saat ini. Penyusup bisa saja masih ada di sekitar kita. Jika kita berpencar, otomatis kekuatan kita terbagi dan aku tidak ingin diantara kita ada yang kembali terluka." Tegas Dave tak ingin dibantah.
"Tapi istrimu ... "
"Aku yakin dia aman sekalipun dia bersama musuh. Dia adalah istriku. Dia pasti pintar dan bisa menjaga dirinya. Keadaan istrimu lebih berbahaya jika sampai dia di apa-apakan." Tegas Dave lagi.
Bukan tidak khawatir pada Arvina, tapi menurutnya saat ini Arzena harus diutamakan karena ada dua nyawa lain bersamanya.
"Terima kasih bung." Ucap Hansen merangkul Dave.
Dave hanya mengangguk sebagai jawaban.
"CCTV rumahmu tidak merekam jelas siapa yang menculik istrimu. Tapi kalau aku lihat dari ciri-cirinya, orang ini terlihat seperti ... " Drick menghentikan perkataannya sejenak dan mencoba berpikir.
"Pria pecundang itu!" Ucap Drick spontan.
"Kau yang benar Drick? Apa bisa dia melakukan hal gila seperti itu?" Tanya Hansen mencoba berpikir.
"Gila! Kau saja menyebut gila Hans. Itu artinya dia gila dan bisa melakukan apa saja." Timpal Drick.
"Tapi apa tujuannya?" Gumam Hansen bingung.
"Bayi! Bayi dalam kandungan istrimu! Bukankah kau bilang sudah beberapa kali ada seseorang meletakkan susu hamil di depan rumahmu?" Kini Dave yang bersuara.
"Benar. Tidak tahu pasti apa tujuannya, tapi motivasinya adalah bayi kembar itu." Drick ikut menimpali.
"Sebaiknya kita bergerak cepat! Jangan sampai hal yang tidak diinginkan menimpa istrimu!" Titah Dave.
Drick dan Hansen mengangguk dan mereka pun kembali menyusun rencana pencarian.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...