
Satu Minggu kembali berlalu sejak peristiwa malam itu, malam dimana Dave menggagahi Arzena didepan Arvina.
Setelah kejadian itu, keesokan paginya Arzena memilih kabur dari rumah daripada berhadapan dengan Arvina.
Ia memilih menetap di mansion Dave namun sejak malam itu Dave tidak menyentuhnya lagi, namun selalu memberinya suntikan Devil saat Arzena menginginkannya.
Bagaimana dengan Arvina dan Ken? Ken selalu mencoba menjauh dari Arvina, walaupun hatinya sangat merindukan gadis itu.
Ingin rasanya bisa memeluk gadis itu setiap saat namun ego nya terlalu tinggi. Belum lagi ia selalu melihat Dave tidak pernah berhenti mengunjungi dan mendekati Arvina.
Ya, Ken selalu berusaha mengintip keadaan disekitar tempat magang mereka dari jauh walaupun ia tidak bisa masuk kedalam. Dan setiap hari ia selalu melihat Dave mengunjungi gedung itu, dan Ken yakin itu untuk Arvina.
Ken juga beberapa kali melihat Dave mencoba menawarkan tumpangan untuk Arvina saat Arvina pulang bekerja, namun Arvina menolak.
Seperti siang ini, Ken kembali mengintip keadaan gedung itu dari luar, dibalik beberapa mobil yang terparkir rapi didepan gedung.
Tak lama kemudian Dave muncul dan langsung masuk kedalam gedung itu ditangannya membawa bungkusan makanan.
"Kenapa pria itu begitu keras ingin mendapatkan Arvina? Apa hebatnya seorang Arvina selain dari hatinya yang baik?" Gumam Ken seolah menghina Arvina.
Ken bahkan mulai ragu, apakah ia benar mencintai Arvina atau hanya sekedar rasa kagum karena Arvina yang selalu baik dan tidak pernah merendahkan dirinya.
••••••••••••
Di ruangan kerja Arvina.
"Kenapa perutku rasanya sakit sekali?" Gumam Arvina memegangi perutnya sendiri.
Ia menundukkan wajahnya pada meja kerjanya.
"Hei, sayang kau kenapa?" Tanya Dave cemas melihat keadaan Arvina.
"Menjauhlah dari ku!" Titah Arvina tanpa bergerak dari posisinya.
Dave masih saja perhatian pada Arvina walau Arvina tidak berhenti menolaknya.
Anggap saja dia bodoh karena terus berharap pada Arvina seorang, pikirnya.
Sungguh Dave tidak pernah bisa lepas dari Arvina. Hatinya terlanjur memilih Arvina.
Dave memaksa untuk memeriksa keadaan Arvina, hingga ia berhasil meraba kening Arvina.
"Badanmu dingin, tapi kau berkeringat sangat hebat?" Tanya Dave cemas.
"Perutku sakit." Jawab Arvina akhirnya.
"Aku panggilkan dokter?" Tanya Dave, ia juga tidak ingin terlalu sepihak mengambil keputusan.
"Tidak perlu. Aku hanya butuh air hangat." Jawab Arvina lemah dan bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Dave.
"STOP!" Titah Dave tegas.
__ADS_1
Arvina menurut namun tidak berbalik.
Dave dapat melihat ada bercak merah pada bokong Arvina pertanda Arvina sedang datang bulan.
Dave mendekati Arvina dari belakang.
"Kau sedang datang bulan, sayang." Ucap Dave kemudian menuntun Arvina duduk kembali.
"Jangan kemana-mana jika kau tidak ingin malu! Aku akan segera kembali." Ucap Dave lalu berlari keluar dari ruangan Arvina.
Arvina malu sekali rasanya karena sudah ceroboh dan tidak sadar dirinya sedang datang bulan. Ia memang buka tipikal perempuan yang menghitung atau mengingat siklus datang bulannya.
Tiga puluh menit berlalu.
Dave kembali dengan dua buah kantong belanjaan ditangannya.
Satu sudah bisa dipastikan adalah pakaian karena ada label merek di kantongnya. Dan satu lagi?
"Ini pakaian ganti mu! Dan ini pembalut untukmu. Aku tidak tahu kau memakai yang seperti apa biasanya, jadi aku mengambil banyak jenis untukmu." Ucap Dave menyerahkan kantong tersebut.
Arvina mau tidak mau menerimanya.
"Kau mau kemana?" Tanya Dave saat melihat Arvina hendak pergi.
"Mengganti pakaian." Jawab Arvina lemah.
"Ganti disini saja! Kau tentu tidak ingin orang lain melihat noda dibelakang mu kan? Aku juga sedang tidak memakai jas, jadi tidak bisa membantumu menutupinya." Usul Dave tanpa ada niatan kotor.
Dave mengunci pintu tersebut lalu menurunkan tirai diruangan itu agar tidak ada orang dari luar yang dapat melihat kedalam.
Arvina tampak ragu dan tidak bergerak.
"Aku akan menutup mataku." Ucap Dave dan langsung menutup mata.
Dave benar-benar menutup matanya dan tidak mengambil kesempatan untuk mengintip.
Arvina segera mengganti pakaiannya dengan secepat kilat.
"Sudah." Ucap Arvina.
"Berikan pakaian kotor mu! Biar nanti pelayan ku yang mencucinya." Titah Dave namun Arvina menolak.
"Berikan saja!" Titah Dave langsung merebut pakaian kotor Arvina dan memasukkan nya kedalam kantong pakaian baru Arvina yang sudah kosong.
"Makanlah terlebih dulu!" Ucap Dave menata semua makanan yang ia bawa tadi.
"Untuk apa kau melakukan semua ini setelah semua hal menyakitkan yang kau lakukan padaku?" Tanya Arvina sendu.
"Karena aku mencintaimu dan menginginkanmu." Jawab Dave santai.
"Dave, sudah aku katakan aku ... "
__ADS_1
Dave kembali menyuapi Arvina membuat Arvina tidak melanjutkan perkataannya.
"Jangan banyak bicara! Makan yang banyak agar kau sehat! Kau sudah sangat kurus dari saat pertama aku bertemu dengan mu." Ucap Dave.
Dan Arvina akui, ia memang sangat kurus saat ini karena pola makannya yang tidak teratur dan juga stress.
Dave dengan telaten menyuapi Arvina hingga semua makanan yang ia bawa tadi habis tak tersisa.
"Minumlah air hangat ini. Ini akan membantumu mengurangi rasa sakit di perutmu." Ucap Dave memberikan air hangat pada Arvina.
Arvina menerima air tersebut dan menenggak hingga tersisa setengah.
"Terima ka..."
Dave membekap mulut Arvina dengan mulutnya.
"Sama-sama." Ucap Dave setelah melepas bibirnya.
Arvina hanya menatap kesal padanya.
"Dave." Panggil Arvina dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Hem.." Dave berdehem pelan.
"Apa jika aku menerima dirimu, kau akan mengembalikan pekerjaan Ken dan melepaskan adikku?" Tanya Arvina menunduk takut.
Dave tersenyum dan bangkit dari duduknya yang berhadapan dengan Arvina.
Ia lalu berjalan kesamping Arvina lalu mengangkat Arvina, kemudian ia duduk ditempat duduk Arvina dan mendudukkan Arvina diatas pangkuannya.
"Apapun yang kau minta padaku, asalkan kau mau bersamaku, aku akan kabulkan." Ucap Dave lembut meletakkan kepala Arvina di pundaknya dan membawa tangan Arvina memeluk lehernya.
Arvina hanya diam dan memejamkan matanya. Ia tidak tahu harus berkata apa saat ini.
"Maafkan aku, aku tahu semua tindakanku sangat menyakitkan untukmu. Jika kau mau hidup bersamaku, maka aku akan menebus semuanya. Aku akan mencarikan dokter terbaik atau pusat rehabilitasi terbaik untuk adikmu. Dan aku akan memberikan pekerjaan bahkan gaji besar untuk pria lemah itu." Ucap Dave serius.
Arvina tidak bersuara. Saat Dave melihatnya, rupanya ia sudah tertidur.
Dave tersenyum melihat wajah teduh yang sedang terlelap dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu sayang, sungguh hanya kau yang aku inginkan. Percaya padaku, segalanya untukmu bahkan nyawaku sekalipun asal kau mau menerimaku dan hidup denganku." Gumam Dave mengecup beberapa kali kening Arvina penuh sayang.
Dave akhirnya memutuskan untuk menggendong Arvina dan membawanya kembali ke mansion nya.
Tak lupa Dave juga membawa kantong berisi pakaian kotor Arvina tadi.
Saat Dave memasukan Arvina kedalam mobil, Ken melihat semuanya dengan jelas.
"Perempuan murahan. Lihat saja bagaimana aku menghukummu nanti. Kau pikir aku lemah jadi kau bisa seenaknya? Lihat saja nanti, aku akan membuat perhitungan denganmu. Saat aku terpuruk seperti ini kau malah seenaknya berduaan dengan pria brengsek itu." Gumam Ken geram dan mulai menyusun berbagai rencana licik di otaknya.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1