TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Obat Kesuburan


__ADS_3

"Hah..lelah sekali." Ucap Arvina dengan nafas terengah-engah.


"Baru berlari dua putaran saja kau lelah? Tapi kenapa sepertinya saat di ranjang kau tidak bisa merasa lelah?" Tanya Dave menggoda istrinya.


Mereka baru saja kembali dari jogging mengelilingi taman mansion Dave yang luas.


"Kau ini jangan menggodaku!" Ucap Arvina menonjok pelan perut suaminya.


Dave terkekeh pelan.


"Sudah, ayo kita bersiap!" Ajak Dave menarik pelan tangan Arvina.


"Kita akan kemana?" Tanya Arvina bingung.


"Kita akan konsultasi dengan dokter tentang bagaimana kita bisa memiliki Dave junior." Dave yang merasa gemas langsung menggendong Arvina dan setengah berlari menuju kamar mereka.


"Cih..sok romantis." Ken mencibir kecil.


Ken dan Jeymian sedang bersantai di ruang keluarga namun Arvina dan Dave sepertinya tidak menyadari keberadaan kedua orang itu.


"Jangan cemburu begitu Ken. Daddy yakin, nanti kau akan menemukan seseorang yang pantas untuk dirimu." Jeymian menepuk pelan pundak Ken.


Jeymian memutuskan untuk menganggap Ken sebagai putranya sendiri.


Ken mengangguk sebagai jawaban.


••••••••••••••••


"Dave, apa kau yakin ada cara kita untuk mendapatkan bayi?" Arvina bertanya dengan suara sendu.


Mereka tengah berendam di dalam bathup saat ini.


"Sayang, tidak ada yang tidak mungkin selama kita tidak putus asa." Dave memijat pelan pundak istrinya.


"Em.." Arvina berdehem pelan sebagai jawaban.


Mereka pun segera menyelesaikan ritual mandi mereka, dan setelah itu bersiap.


"Eem...Sayang, aku mohon jangan memakai warna hitam lagi." Protes Arvina saat Dave akan mengenakan kemeja berwarna hitam.


Arvina langsung memilihkan sehelai kaos berwarna putih untuk Dave.


"Lebih baik pakai ini saja. Tidak menakutkan. Dan satu lagi, aku akan menghancurkan sebagian pakaian warna hitam mu nanti." Ucap Arvina tegas.


Dave melongok mendengar ucapan istrinya barusan.


"Kenapa harus dihancurkan?" Tanya Dave sambil mengenakan baju yang dipilih Arvina tadi.


"Terlalu suram dan tidak punya kehidupan." Jawab Arvina singkat namun menohok bagi Dave.


Dave menyerah dan pasrah pada bidadarinya itu.


Setelah bersiap, mereka pun keluar dari kamar dan turun ke bawah.

__ADS_1


Ken dan Jeymian masih ada di ruang keluarga dan Ken sedang memijat kaki Jeymian.


"Bagaimana Dad, begini terasa?" Tanya Ken mencoba memberi rangsangan kepada titik-titik tertentu di kaki Jeymian.


"Sedikit lebih terasa dari yang tadi." Jawab Jeymian tersenyum tulus.


"Hah, seharusnya putra gangster mu itu segera mencari dokter untuk mengatasi sakitmu." Gerutu Ken.


"Sudahlah, mungkin dia sedang lupa. Lagipula, dia dan Vina juga harus menyelesaikan masalah mereka." Ujar Jeymian lembut.


"Benar juga. Semoga saja masalah mereka bisa menemukan jalan keluar." Sahut Ken tulus.


"Ekhem.." Dave berdehem kasar setelah ia dan Arvina mendekati kedua pria yang sedang bercengkrama itu.


"Dave, Vina, kalian akan pergi?" Tanya Jeymian lembut.


Arvina mengangguk pelan.


"Dad, nanti malam Hansen akan membawakan seorang dokter spesialis untuk mengobati syaraf-syaraf mu yang lumpuh akibat racun itu. Dan kau..Ken, aku sudah menyuruh Angelo untuk menjemputmu besok. Mulai besok kau akan dibimbing olehnya untuk memperdalam ilmu mendesain mu." Ucap Dave serius.


"Terima kasih Dave." Ucap Jeymian.


Ken ingin melompat bahagia dan memeluk adik tirinya itu, hanya saja ia tahan karena tahu Dave tidak akan menyukainya.


"Ya sudah, kami pergi dulu." Pamit Dave.


Mereka pun meninggalkan mansion itu setelah mendapatkan persetujuan dari Jeymian.


Satu jam kemudian mereka sampai ke rumah sakit.


Setelah Dave memarkirkan mobilnya dengan benar, mereka pun turun dari mobil.


"Fiuh..." Arvina menghembuskan nafas lirih sekaligus gugup.


"Aku selalu bersamamu." Dave menggenggam tangan Arvina erat dan mengecup kening istrinya penuh sayang.


Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit itu.


Arvina memilih rumah sakit yang sama saat terakhir kali ia dibawa Aston.


Mereka langsung menemui pusat informan untuk bertanya tentang dokter yang terakhir kali memeriksa Arvina.


"Dokter Akila sudah bisa langsung ditemui, Tuan dan Nyonya." Jawab seorang wanita yang bertugas di bagian pusat informan.


Dave dan Arvina mengangguk.


Mereka pun dituntun untuk masuk ke dalam ruangan dokter Akila.


"Hallo, Nyonya Arvina. Siapa yang mendampingimu? Tidak datang bersama suamimu?" Tanya dokter Akila tanpa tahu kenyataan sebenarnya.


"Maaf dokter, tapi dia adalah suamiku yang sesungguhnya. Yang kemarin itu hanya temanku." Jawab Arvina membuat dokter Akila menunduk tidak enak hati.


"Um..dokter. Aku ingin bertanya sekali lagi tentang penyakit ku." Ucap Arvina sendu.

__ADS_1


Dokter Akila akhirnya kembali mengangkat kepalanya.


"Kita harus melakukan pemeriksaan ulang, Nyonya Arvina. Hasil pemeriksaan waktu itu bisa saja berbeda dengan yang sekarang." Sahut dokter Akila sopan.


"Lakukan apapun yang terbaik dokter!" Titah Dave tegas.


Arvina kemudian dituntun keluar dari ruangan dokter Akila bersama dokter Akila, sedangkan Dave diminta untuk tetap menunggu.


Dave setia menunggu namun ia tidak bisa menunggu dengan duduk diam di tempat.


Ia mondar-mandir bagai cacing kepanasan.


Dua setengah jam kemudian dokter Akila kembali bersama Arvina ke dalam ruangannya.


Dave segera menyambut istrinya yang sedikit lemas.


Dave membawa Arvina duduk di sampingnya.


"Jadi bagaimana dokter?" Tanya Dave cemas.


Dokter Akila tersenyum kecil.


"Beruntung sekali, Endometriosis Nyonya Arvina masih tahap minimal dan sama sekali tidak bertumbuh besar. Jadi, aku bisa sarankan kepada Nyonya Arvina untuk melakukan terapi dengan menggunakan obat kesuburan." Jelas dokter Akila.


"Berikan resep lengkapnya dokter!" Titah Dave lagi.


Dokter Akila tersenyum kemudian menuliskan resep obat kesuburan untuk Dave.


"Konsumsi ini di hari kelima masa menstruasi, saat sudah tidak terjadi pendarahan lagi." Jelas dokter Akila sambil memberikan resep itu kepada Dave.


"Terima kasih dokter." Ucap Dave sopan.


"Um...tapi pengobatan menggunakan metode ini hanya bisa dilakukan selama enam bulan. Jika dalam masa enam bulan, Nyonya Arvina belum juga hamil, maka kita harus menggunakan metode lain. Salah satunya dengan cara Fertilisasi in vitro atau bayi tabung." Jelas dokter Akila lagi.


Dave mengangguk paham.


"Obatnya diminum teratur, satu kali sehari. Semoga keajaiban berpihak kepada kalian." Ucap dokter Akila.


Dave pun menuntun Arvina keluar dari ruangan dokter Akila setelah mereka selesai berkonsultasi.


Dave memilih membawa Arvina kembali dulu ke mansion, mengingat kondisi Arvina sedikit lemah.


Sepanjang perjalanan Dave tidak banyak bicara dan membiarkan Arvina istirahat dengan baik.


Sesampainya di mansion, Dave langsung turun dari mobil dan menggendong Arvina yang tadi sudah ketiduran.


Dave langsung menggendong Arvina menuju ke kamar mereka dan membaringkan Arvina perlahan dan sangat berhati-hati.


"Jangan menyerah sayang! Aku akan selalu ada dan menemanimu berjuang. Kita akan berjuang bersama dan menciptakan kebahagiaan kita sendiri." Ucap Dave tulus sambil mengelus lembut kepala istrinya.


Dave memilih keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan makanan untuk dirinya dan Arvina, mengingat mereka belum menyantap apapun dari pagi.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2