
Satu Bulan Kemudian
"Sayang, hari ini aku ingin berbelanja boleh kan?" Tanya Arvina manja.
Mereka saat ini sedang sarapan bersama.
"Tentu saja. Apa yang tidak untukmu selama kau bahagia." Jawab Dave tersenyum manis.
"Oh ya, bagaimana dengan orang yang menyusup itu? Apa sudah tertangkap?" Tanya Arvina penasaran.
Sejak kepulangan mereka dari Roma satu bulan lalu, Dave dan kedua sahabatnya bekerja keras untuk menangkap si penyusup namun nihil, orang itu sama sekali tidak muncul atau sekedar menampakkan diri.
"Tidak. Dia tidak pernah muncul lagi." Jawab Dave santai.
Arvina hanya mengangguk paham.
"Kau mau berangkat dengan ku atau pergi sendiri?" Tanya Dave perhatian.
"Em..nanti aku sendiri saja. Boleh kan aku menyetir?" Tanya Arvina penuh harap.
Dave tersenyum lembut. Ia mencoba untuk tidak terlalu mengekang istrinya setelah pertengkaran mereka bulan lalu saat mereka berbulan madu.
"Boleh. Tapi kau harus hati-hati!" Jawab Dave tegas.
Arvina mengangguk bahagia.
"Baiklah, aku pergi dulu." Dave pamit terlebih dulu.
Setelah memberi kecupan manis untuk istrinya, Dave pun melenggang keluar dan pergi dengan mengendarai mobilnya.
Arvina yang juga sudah selesai sarapan pun memilih naik ke kamar mereka untuk bersiap.
Arvina memilih mengenakan celana jeans model sobek semata kaki dan t-shirt berwarna putih. Arvina memilih menggunakan sneakers berwarna putih.
Penampilan Arvina terlihat sangat remaja, ditambah ia juga hanya merias wajahnya dengan riasan tipis.
Tak lupa Arvina juga membawa tas selempang kecil berwarna putih juga.
"Sempurna." Ucap Arvina memuji diri sendiri saat melihat pantulan bayangan dirinya di cermin.
Dengan semangat ia segera pergi untuk berbelanja.
Dave tentu saja menempatkan beberapa pengawal untuk mengawasi istrinya dari jauh.
Arvina segera menuju ke sebuah mall yang cukup terkenal di kota itu.
"Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa berbelanja lagi." Gumam Arvina saat sampai di mall itu.
Tanpa ingin menunggu lebih lama, Arvina segera turun dari mobilnya dan melenggang masuk ke dalam mall itu.
Ia sama sekali tidak sadar ada seseorang yang mengikuti dirinya.
Arvina hanya membeli beberapa jenis barang yang menurutnya penting, sisa waktunya hanya ia gunakan untuk mencuci mata melihat beberapa barang mewah dan indah. Bukan tidak mampu, hanya saja ia tidak ingin menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.
"Ah..sepertinya aku harus mencari toilet." Gumam Arvina yang tiba-tiba mendapat panggilan alam.
Ia segera mencari toilet hingga akhirnya ia menemukan toilet yang berada di dekat pintu keluar belakang mall itu.
Sekitar area itu sangat sepi, namun Arvina sudah tidak tahan.
__ADS_1
Tanpa berpikir ia langsung masuk ke dalam toilet itu dan segera menuntaskan hajatnya yaitu membuang air kecil.
Selesai dengan hajatnya, ia pun keluar dan mencuci tangannya.
"Kita bertemu lagi sayang." Suara berat seorang pria terdengar di belakangnya bahkan pria itu memeluknya erat.
"Si siapa kau?" Tanya Arvina takut.
Pria itu tidak menjawab dan Arvina bisa merasakan pria itu menyuntikkan sesuatu di pinggangnya.
Perlahan tapi pasti, kesadaran Arvina mulai terkuras.
Dengan sangat mudah pria misterius itu mengangkat tubuh Arvina, tak lupa membawa barang belanjaan Arvina yang memang tidak banyak.
Ia dengan mudah juga menghindari CCTV di mall itu bahkan para pengawal Dave tidak sadar kalau Arvina kini sudah menghilang.
••••••••••••••••••••
"Hah..rasanya bosan sekali." Gumam Arzena yang sedang duduk di sofa ruang keluarga rumahnya dan Hansen.
"Nyonya, apa Nyonya membutuhkan sesuatu?" Tanya seorang pelayan mendekati Arzena.
"Tidak. Nanti jika aku butuh, aku akan memanggilmu." Jawab Arzena sopan.
Perlahan tapi pasti, sejak ia menikah dengan Hansen, ia berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
"Baik, Nyonya." Sang pelayan pun pamit undur.
"Rasanya ingin sekali melihat bunga." Gumam Arzena lagi.
Ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan berjalan santai di taman depan rumahnya.
Pria itu mengenakan penutup kepala dan wajah. Bahkan ia juga menggunakan sarung tangan.
"Si siapa kau?" Tanya Arzena mulai panik.
Pria itu memilih untuk tidak menjawab dan melangkah semakin mendekati Arzena membuat Arzena otomatis mundur.
"Awh.." Pekik Arzena tertahan saat kakinya malah terkilir dan ia jatuh terduduk di atas rerumputan taman itu.
"Menjauh dariku!" Titah Arzena takut berusaha menghindar kebelakang.
JLEB
Tiba-tiba pria itu menancapkan sebatang jarum suntik di lengan Arzena.
"Apa yang..kau la..kukan?" Tanya Arzena dengan kesadaran yang perlahan menghilang.
Setelah Arzena benar-benar tak sadar, pria misterius itu segera mengangkat tubuh Arzena pergi dari situ sebelum ada pengawal yang mengetahui perbuatannya.
••••••••••••••••••••••
Dave, Drick, dan Hansen saat ini masih memantau keadaan gudang mereka.
"Lihat! Dia datang!" Ujar Drick memperlihatkan layar laptopnya.
Mereka sedang memantau melalui CCTV yang terhubung dengan laptop Drick dan mereka memantau dari titik aman di dekat gudang mereka.
"Bersiaplah! Kali ini kita tidak akan mengijinkan orang itu lolos." Gerutu Dave geram sambil mengisi pistolnya dengan peluru.
__ADS_1
Begitupun dengan Drick dan Hansen.
Mereka masing-masing membawa lebih dari satu pistol. Tak lupa kali ini mereka memakai pakaian anti peluru didalam pakaian mereka agar tidak terjebak seperti sebelumnya jika memang ada yang berniat menjebak mereka.
Mereka kini sudah mengepung di depan pintu gudang sedangkan penyusup tadi sudah berada di dalam gudang.
Dave memberi aba-aba dan setelah dirasa siap, mereka masuk langsung ke dalam gudang dengan berhati-hati.
"Hei dude!" Sapa Dave kepada penyusup itu.
Pria itu mengangkat tangannya dan perlahan berbalik menghadap ketiga musuhnya.
"Oh, Hai bos.." Sapa pria itu sambil membuka penutup wajahnya.
"Zeco..kau?" Tanya Hansen tak percaya.
Kepala gudang yang mereka sangat percayai dan terlihat setia itu ternyata sangat licik dan menjadi pengkhianat. Pantas saja setelah barang begitu banyak yang hilang tapi pelaku masih bebas berkeliaran.
"Uh..maaf bos. Pelaku sebenarnya bukan diriku, tapi mengecoh kalian adalah bagian dari tugasku." Ucap Zeco tersenyum santai.
Pria dengan tubuh besar itu tidak terlihat sedikitpun raut wajah bersalah dari dirinya.
"Bangsat! Kau gila Zeco! Berapa mereka membayarmu hah?" Bentak Dave frustasi.
"Tidak banyak, tapi lebih banyak dari yang aku terima dari kalian." Jawab Zeco tersenyum licik.
"Dan tugasku sudah selesai!" Ucap Zeco kemudian meraih pistol yang ia selipkan di pinggangnya.
DORR DORR
Zeco menembak sendiri kepalanya hingga seketika darah mengalir deras dari kepalanya dan sudah bisa dipastikan ia mati di tempat.
"ARGHHH..." Erang Dave frustasi.
Orang yang tidak pernah mereka duga selama ini ternyata adalah musuh dalam selimut.
Ponsel Dave dan Hansen berbunyi bersamaan.
"Katakan!" Ucap Hansen dan Dave bersamaan saat menjawab panggilan itu.
"Apa?" Tanya Dave dan Hansen bersamaan mendengar berita yang mereka terima.
"ARGHHH..." Dave lagi-lagi mengerang frustasi.
BRAKKK
Dave melempar ponselnya hingga pecah.
"Ada apa?" Tanya Drick resah.
"Istriku menghilang." Jawab Dave dan Hansen bersamaan.
Drick tampak bingung.
"Keduanya menghilang?" Tanya Drick tak percaya.
"Tenangkan diri kalian, sebaiknya kita susun rencana matang bagaimana untuk menyelamatkan mereka." Usul Drick kini terpaksa harus menjadi yang paling tenang untuk kedua sahabatnya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam ruang kerja mereka untuk membahas apa yang akan mereka lakukan untuk menyelamatkan kedua wanita penting dalam hidup mereka.
__ADS_1
......~ TO BE CONTINUE ~......