TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Wedding


__ADS_3

"Wow..kau tampak lebih tampan dari biasanya." Dave dan Jeymian masuk ke dalam kamar Ken dan memuji kakak tirinya itu.


Setelah dua bulan mempersiapkan pernikahan Ken dan Elviana, hari bahagia mereka akhirnya tiba juga.


Mereka juga saat ini sedang berada di sebuah hotel bintang lima tempat upacara pernikahan serta resepsi Ken dan Elviana akan diadakan.


"Cih..itu memuji atau menghina? Memang biasanya aku seburuk apa?" Tanya Ken pura-pura kesal namun tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahnya sedangkan Jeymian hanya terkekeh.


Dave hanya tersenyum sambil merapikan dasi kupu-kupu yang terpasang di leher Ken.


"Oh bung, kau tampan sekali." Ucap Drick yang baru masuk dan tanpa basa-basi langsung memeluk Ken lalu membungkuk untuk memberi hormat pada Jeymian.


Jeymian kembali tersenyum hangat.


"Aku anggap itu sebagai pujian." Sahut Ken seraya memberi pukulan pelan pada lengan Drick.


"Ngomong-ngomong apa Hansen tidak datang?" Tanya Dave yang sedari tadi tidak melihat sahabatnya yang satu itu.


"I don't know. Dari tadi pagi aku hubungi dia, tapi dia tidak merespon.


"Mungkin dia akan..." Ucapan Dave terhenti saat mendengar suara langkah kaki yang sedikit terburu-buru mendekati kamar tempat mereka berada sekarang.


Dan saat mereka melihat ke arah pintu, ternyata Hansen dengan nafas terengah-engah sembari membungkuk.


"Oh, sorry jika aku terlambat." Pinta Hansen setelah berdiri dengan benar dan merapikan penampilannya.


"Kau kenapa?" Tanya Dave bingung.


"Tadi aku membantu istriku menyiapkan segala keperluannya dan baby twins. Sore ini adalah jadwal operasi sesarnya." Jawab Hansen dengan satu tangan merangkul Ken.


"WHAT?" Pekik Ken tidak percaya.


"What? What? Apa aku salah bicara?" Tanya Hansen bingung.


"Kenapa tidak bilang dari kemarin? Ah.." Ken mendesah kecewa karena ia tidak dapat menemani Arzena melahirkan anak-anaknya.


"Oh..maksudmu adalah..ah santai bung, aku tidak mungkin merusak hari baikmu. Tenang saja, setelah resepsi mu selesai malam ini. Kau bisa pergi ke rumah sakit untuk melihat bayi-bayi kita." Sahut Hansen menenangkan Ken.


Dave dan Drick mengulum senyum melihat raut masam yang ditunjukkan oleh Ken.


"Jadi kau tidak akan mengikuti resepsi nanti malam?" Tanya Drick pada Hansen.


"Yup..setelah upacara ini selesai aku harus pulang untuk menemani istriku ke rumah sakit." Jawab Hansen santai namun raut wajahnya tampak sangat bahagia dan antusias.


"Well.." Jeymian yang sedari tadi diam akhirnya buka suara dan melirik jam tangannya.


"Aku rasa sudah saatnya kita keluar menuju ballroom. Sebagai pria kita tidak bisa membiarkan para wanita menunggu." Ucap pria paruh baya itu lalu menuntun putra tirinya untuk berdiri di depan dan ia di samping Ken. Dave dan kedua sahabatnya berdiri di belakang mereka.

__ADS_1


Ke-lima pria itu pun keluar dari kamar itu menuju ke ballroom hotel, tempat upacara pernikahan Ken dan Elviana akan diadakan serta resepsi di malam harinya.


"Aku sangat gugup." Gumam Ken setelah mereka berada di depan pintu ballroom yang tertutup.


"Santai bung.." Dave maju hingga ke samping Ken dan merangkul singkat pria itu. Ia dan Ayahnya kini mengapit Ken.


Mereka masuk setelah pintu ballroom itu terbuka dari dalam. Saat melangkah masuk, semua pasang mata yang sudah duduk di tempat masing-masing langsung menatap para pria itu dengan tatapan kagum, termasuk pada Jeymian yang usianya sudah tidak muda namun tetap tampak gagah dan tampan.


Ken dengan yakin namun tidak bisa menyembunyikan perasaan gugupnya melangkah hingga ke depan altar pernikahannya.


Sekarang hanya menunggu pengantin wanita masuk ke dalam ruangan yang terdekor indah itu.


Tak berselang lama, pintu ballroom kembali dibuka dan terdengar suara high heels beradu dengan lantai marmer mendekati ruangan itu.


Tampak Elviana diapit oleh Arvina dan Raina melangkah masuk ke dalam ballroom mendekati altar pernikahannya. Meski wajah Elviana dihalangi tudung tipis, namun Ken masih bisa melihat dengan jelas wajah cantik wanita itu.


"Ken, aku serahkan padamu wanita cantik ini." Ucap Arvina mengulurkan tangan Elviana pada Ken.


Ken tersenyum dan menerima uluran tangan dari Arvina.


Setelahnya Arvina dan Raina bergabung dengan pasangan mereka masing-masing dan mereka semua mundur dan duduk di tempat yang sudah disediakan untuk mereka.


Ken dan Elviana pun diarahkan untuk mengucapkan janji suci pernikahan mereka.


(.............)


Semua yang ada di dalam ruangan itu bersorak bahagia.


"Selamat bung." Ucap Dave yang kini mendekati kakaknya sambil menggenggam tangan istrinya.


"Terima kasih." Sahut Ken memeluk adiknya disusul Elviana yang juga memeluk Arvina.


"Selamat. Semoga kebahagiaan selalu berserta kalian." Ucap Jeymian memeluk Ken bergantian dengan Elviana.


"Terima kasih, Dad." Ucap Ken dan Elviana hampir bersamaan.


Semua orang yang ada di sana terutama keluarga dekat mereka mengucapkan selamat untuk sepasang pengantin itu. Sayangnya keluarga besar Elviana tak terlihat di momen bahagia itu. Namun hal itu tidak membuat Elviana kecewa. Wanita itu akan membuktikan bahwa ia akan bahagia dengan pilihannya dan akan mematahkan semua argumen dan keegoisan keluarganya terutama kedua orang tuanya.


Keluarga besar Arvina memang tidak bisa hadir karena urusan pekerjaan yang sangat urgent, namun mereka sudah meminta maaf dan minta ijin pada Ken.


"Terima kasih untuk semuanya." Ucap Ken dan Elviana bersama-sama.


"Ekhem..bung, aku tahu ini tidak sopan. Tapi aku harus pergi sekarang." Ucap Hansen sedikit tidak enak hati.


"Ehm..baiklah. Terima kasih sudah datang." Sahut Ken sedikit canggung. Meski ia dan suami wanita yang sebentar lagi akan melahirkan anak-anaknya itu sudah berbaikan, tetap saja ada perasaan canggung itu.


"Sama-sama. Aku pamit dulu. Mohon doanya semuanya." Hansen membungkuk singkat lalu berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Pikirannya sedari tadi sudah berpusat pada istrinya yang sedang menantinya di rumah. Bahagia sekaligus gugup membayangkan istrinya sebentar lagi akan melahirkan dua bayi lucu meski kedua bayi itu bukan darah dagingnya, tapi ia sama sekali tidak masalah dengan itu semua. Baginya kedua bayi itu tetaplah anak-anaknya dan Arzena.


Kedua bayi itu hanya beruntung karena mendapatkan orang tua lebih banyak.


Hansen mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menerobos keramaian jalanan kota Sydney dan tetap berusaha tenang.


Sesampainya di rumah, ia segera turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumahnya.


"Dimana Nyonya?" Tanya Hansen pada seorang pelayannya.


"Ada di kamar, Tuan." Pelayan itu menjawab dengan sopan.


Hansen segera bergegas melangkah ke kamarnya.


"Sayang?" Sapa Hansen sambil membuka pintu kamarnya.


"Hans, kenapa sudah pulang?" Tanya Arzena yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil membaca buku.


"Aku khawatir dan tidak tega membiarkanmu menunggu lebih lama." Jawab Hansen sambil melepaskan sepatunya lalu naik ke atas ranjang dan duduk di samping istrinya.


"Hey twins, sebentar lagi kalian akan melihat dunia." Ucap Hansen sambil mengelus perut buncit Arzena yang tampak lebih besar dari ibu hamil pada umumnya.


"Yes Daddy, dan kami sangat tidak sabar." Sahut Arzena menirukan suara anak kecil.


Hansen tertawa bahagia mendengar istrinya.


"Apa sudah ada nama untuk mereka?" Tanya Hansen penasaran.


Arzena mengangguk.


"Tapi ini rahasia. nanti saja setelah mereka lahir. Sekarang kau bisa istirahat dulu sebelum waktu berangkat ke rumah sakit. Aku juga sedikit mengantuk." Ucap Arzena lalu menutup bukunya dan meletakkan bukunya di atas nakas.


Keduanya kemudian berbaring berhadapan. Tangan Hansen tidak bisa berhenti mengelus perut buncit istrinya.


"I love you." Ucap Hansen tersenyum bahagia.


"I love you too, By." Balas Arzena juga tersenyum bahagia.


...~ TO BE CONTINUE ~...


########


Sepertinya sudah banyak yang unfavorit ini Cerita yah?


Kuucapkan Terima kasih untuk masih setia dan bertahan. Soalnya baru ketemu Ilhamnya untuk melanjutkan cerita ini. 🙏💕


Semoga tidak mengecewakan.

__ADS_1


__ADS_2