TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Ayo pulang!


__ADS_3

"Twins..aku tidak ingin bayi ini.." Arzena terus terisak dalam pelukan Arvina.


Mereka sudah sampai di mansion beberapa jam yang lalu namun Arzena tidak berhenti menangis.


"Sudah, jangan berkata seperti itu. Jangan salahkan bayi mu. Dia tidak bersalah." Bujuk Arvina.


"Jika kau sangat tidak menginginkan bayi itu, jangan pernah membunuhnya! Lahirkan saja, aku dan Arvina yang akan merawatnya!" Ucap Dave tegas.


Arvina menatap Dave dengan tatapan haru, namun Dave malah mengira ia marah.


"Apa? Aku sudah merasakan penolakan dari kedua orang tuaku sejak kecil, bahkan dari aku lahir. Sangat sakit! Jadi jika kau tidak ingin bayi itu, selama dia dalam kandungan mu, berikan dia perhatian dan kasih sayang! Jangan sampai membuat dia merasa tertolak! Setelah dia lahir, aku dan Arvina yang akan merawatnya!" Ucap Dave lagi dan kini Arvina memutar malas matanya.


"Arvina.." Hansen bersuara dan memberi kode agar ia melepaskan Arzena.


Arvina keberatan namun Dave dengan cepat menariknya dan mendekap nya erat.


Hansen kini yang memeluk Arzena.


"Sayang sudah! Jangan menangis lagi! Sudah aku yang bilang aku yang akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu!" Tegas Hansen.


"Tapi dia bukan darah daging mu." Ucap Arzena pilu.


"Tidak peduli, yang penting adalah kau Mommy nya!" Hansen kembali mempertegas keputusannya.


"Persetan dengan semuanya! Kenapa aku merasa disini menjadi pria yang tidak berguna? Tidak adakah yang merasa iba padaku? Aku juga ingin mempunyai pasangan dan ingin memeluk seorang wanita. Bagaimana bisa kalian begitu padaku?" Maki Drick didalam hati.


"Ah, aku mencium bau sesuatu..tapi bukan bau makanan apalagi bau gosong." Ujar Arvina sengaja memeluk erat Dave.


Dave mengerti.


"Aku tahu sayang. Maksudmu adalah bau yang dikeluarkan oleh seorang pria lajang yang sedang menahan nafas melihat kedua temannya bermesraan. Uh..bau sekali.." Dave ikut meledek dan menatap Drick dengan tatapan mengejek.


PFFT


Arzena menahan tawanya.


"Sayang, jika ingin tertawa jangan ditahan. Tertawa lah dan berbahagia lah! Aku yang akan menjaga mu mulai detik ini." Ucap Hansen mengecup sayang kening Arzena.


Arzena tersenyum kecil pada Hansen.


Ponsel Drick berbunyi.


"Ada apa?" Tanya Drick kesal.


"Bos, bocah yang kalian bertiga temui tadi pagi membawa kabur stok obat yang akan kita ekspor." Ujar anak buahnya.


"Bangsat! Bocah itu tidak ada takutnya. Sepertinya dia memang ingin mati di tangan kami." Ketus Drick.


"Lacak lokasinya dengan cara apapun! Aku akan kesana segera." Tegas Drick dan langsung memutuskan panggilan nya.


"Ada apa?" Tanya Dave bingung.


"Bocah tengik itu membawa kabur pasokan obat yang akan kita ekspor!" Jawab Drick geram.


"Sial! Benar-benar cari mati." Geram Dave.


Dave melepaskan pelukannya dari Arvina.


"Sayang, kau tunggu di rumah! Jangan kemana-mana! Aku dan Drick harus segera mengurus bocah tengik itu." Titah Dave menangkup wajah Arvina.


Arvina mengangguk patuh.


Dave dan Drick hendak melangkah keluar.


"Tunggu! Aku juga ikut!" Ujar Hansen sambil melepaskan pelukannya dari Arzena.


"Sayang, kau tunggu disini bersama kakak mu! Jangan kemana-mana tanpa kami! Mengerti?" Titah Hansen juga menangkup wajah Arzena.


Arzena mengangguk.

__ADS_1


Hansen pun mengikuti kedua sahabatnya setelah memberi kecupan di kening Arzena.


Mereka segera masuk kedalam mobil dengan Drick yang mengemudi.


Setelahnya mereka pun meluncur pergi.


"Sudah aman!" Gumam Keanu yang terus memantau keadaan.


Keanu menghubungi seseorang.


"Siapkan segala keperluan untuk ku ke London! Aku ingin berangkat secepatnya!" Titah Keanu pada anak buahnya.


Setelah mendapat jawaban, ia pun memutuskan panggilan.


Ia segera masuk kedalam mansion Dave, dan sangat kebetulan mansion Dave tidak dijaga oleh pengawal.


"Twins!" Panggil Keanu dengan suara datar saat melihat kedua anak perempuan itu saling memeluk.


Keduanya tersentak mendengar suara yang sangat mereka kenali.


"Uncle Ke?" Ucap mereka berdua serentak.


Keanu tersenyum.


"Ayo pulang! Keluarga kalian mencemaskan kalian!" Ajak Keanu dengan lembut.


"Tidak uncle! Kami tidak bisa pergi begitu saja!" Ucap Arvina menolak halus.


"Kenapa? Apa ketiga pria itu menyiksa kalian? Apa mereka mengancam kalian?" Tanya Keanu serius.


"Tidak! Mereka tidak mengancam kami apapun, tapi kami sudah berjanji agar tidak pergi begitu saja. Terlebih Dave membutuhkan ku." Jelas Arvina lagi.


Keanu mendekati mereka lalu memegang kedua pundak Arvina.


"Vina, trust me! Kalian harus pulang saat ini. Keadaan semakin tidak memungkinkan untuk kalian tetap berada disini. Percaya pada uncle, jika mereka mencintai kalian, mereka tahu bagaimana harus membawa kalian kembali ke sisi mereka dengan cara yang layak." Ujar Keanu meyakinkan keduanya.


"Baiklah, kami akan ikut pulang." Ucap Arvina akhirnya.


Keanu tersenyum.


"Bawa pasport kalian saja, yang lain tidak perlu!" Titah Keanu.


Arvina dan Arzena pun segera naik keatas kamar mereka masing-masing dan mengambil pasport mereka.


Arvina menulis sesuatu dan meninggalkan diatas nakas untuk Dave.


Setelah itu mereka pun turun.


"Ayo!" Ajak Keanu berjalan lebih dulu.


Mereka pun mengikuti Keanu hingga masuk kedalam mobil.


Keanu segera melajukan mobilnya menuji bandara.


Anak buahnya sudah menyewa sebuah jet pribadi dan sedang menunggu mereka.


"Uncle Ke, bagaimana uncle bisa tahu kami di mansion Dave?" Tanya Arvina penasaran.


"Uncle mu ini orang yang pintar. Siapa yang bisa lolos dari mata elang uncle?" Ujar Keanu bangga.


Arvina mencibir kan mulutnya.


"Twins, setelah sampai dirumah nanti kalian harus menceritakan semuanya pada kedua orang tua kalian. Apapun yang terjadi termasuk kehamilan Zena." Titah Keanu lembut.


Keanu juga tak kalah menyayangi kedua gadis kembar yang adalah anak dari perempuan yang pernah ia cintai dulu.


Arvina hanya mengangguk sedangkan Arzena tampak takut.


Tak lama kemudian mereka pun sampai dibandara.

__ADS_1


Keanu segera menuntun mereka untuk mengurus segala administrasi yang diperlukan.


Setelah selesai mereka pun berjalan masuk kedalam jet pribadi yang sudah menunggu mereka dan akan segera lepas landas.


Tak menunggu lama akhirnya jet mereka pun lepas landas.


•••••••••••


"Bagaimana? Apa sudah ketemu?" Tanya Dave geram setelah sampai di markas mereka.


"Belum Tuan, sepertinya dia menjatuhkan atau sengaja membuang ponselnya sehingga kami sulit melacak lokasinya." Jelas anak buahnya.


"Sial! Lacak semua CCTV jalanan. Retas semua yang kau bisa! Aku bukan membutuhkan obat itu, tapi orang seperti itu harus diberi pelajaran!" Geram Dave lagi.


"Baik Tuan!" Jawab si anak buah dengan semangat.


Ponsel Dave berdering.


"Ada apa?" Tanya Dave datar.


Yang menghubunginya adalah Amy.


"Maaf Tuan, tapi Nona Arvina dan adiknya tidak berada di mansion. Aku baru pulang berbelanja dan tidak mendapati mereka." Jawab Amy takut.


"Apa? Bagaimana bisa? Arrghhh.." Dave mengerang frustasi.


Ia segera berlari masuk kedalam mobil. Kedua sahabatnya juga mengikuti.


Mereka akhirnya kembali ke mansion.


Tak berselang lama akhirnya mereka sampai karena Dave mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi bahkan hampir menabrak beberapa pengendara lainnya.


Mereka segera turun dari mobil dan berlari masuk kedalam mansion lalu mencari ke seluruh ruangan.


Tidak ketemu.


Dave memutuskan untuk mencari dikamarnya karena dari tadi ia belum mencari disana.


Namun tetap nihil.


Dave frustasi dan mulai tersulut emosi namun pandangannya menangkap secarik kertas diatas nakasnya.


Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya.


"Hei Tuan Alexon! Maaf aku harus pulang dulu. Aku dan adikku harus menyelesaikan masalah kami. Maaf jika pulang tanpa meminta ijin dulu, tapi kami aman. Jemput kami jika kau dan sahabat mesum mu itu merindukan kami. Tapi jika tidak, itu lebih baik. Hahaha! Ya, sudah itu saja yang ingin aku sampaikan. Jangan menangis, menangis hanya akan membuatmu semakin terlihat buruk. Em...i love you Dave. ❤"


Isi surat Arvina.


Dave kini tersenyum.


"Bagaimana bisa aku tidak merindukanmu, bahkan sekarang saja aku sudah merindukan mu." Gumam Dave memeluk kertas tersebut.


"Dave, bagaimana?" Tanya Hansen yang baru masuk kedalam kamar Dave.


Dave menyerahkan kertas yang ada ditangannya untuk Hansen dan Hansen membacanya dengan seksama.


Hansen bernafas lega.


"Saatnya aku menunjukkan keseriusan ku untuk meminang Arzena." Guman Hansen.


"Kapan kita akan pergi?" Tanya Dave antusias.


"Secepatnya! Tapi sekarang kita perlu menyelesaikan bocah tengik itu dulu." Tegas Hansen.


Keduanya mengangguk bersamaan.


"Hah, sudahlah. Saat panik aku juga ikut panik. Tapi saat mereka bernafas lega, aku hanya bisa mengelus dada dan menahan sesak." Batin Drick melihat dan mendengar obrolan kedua sahabatnya.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2