
__FLASHBACK ON__
Lima Tahun Lalu
"Wah bos, kau jauh lebih tampan hari in." Puji seorang bawahan Aston saat melihat penampilan rapi Aston.
"Hari ini adalah hari ulang tahun Lizbeth dan aku berniat melamarnya." Ucap Aston tersenyum bahagia.
"Nona Lizbeth pasti sangat bahagia bos. Kau beruntung mendapatkan seorang gadis baik dan polos sepertinya." Bawahan Aston kembali memuji.
"Baiklah, aku pergi dulu. Urusan pekerjaan aku titipkan padamu!" Pamit Aston.
Aston pun segera meninggalkan kediamannya, dengan mengendarai mobilnya ia pergi ke apartemen kekasihnya.
Gadis cantik dan polos yang sudah ia jaga dan menjalin hubungan dengannya selama dua tahun ini.
"Sayang, aku tidak sabar ingin melihat wajah terharu mu." Gumam Aston ceria. Jari tangannya sesekali mengetuk setir mobilnya menyesuaikan irama lagu yang ia putar.
Tak lama kemudian ia pun sampai di apartemen kekasihnya.
Tanpa ingin menunggu lama, Aston pun segera masuk ke dalam gedung apartemen itu, menaiki lift untuk bisa sampai di unit milik Lizbeth.
Aston kini telah sampai di depan unit apartemen Lizbeth, namun otaknya mulai bekerja saat melihat pintu unit Lizbeth tidak tertutup rapat.
"Tidak, mungkin saja dia tahu aku akan datang." Gumam Aston mencoba menjernihkan pikirannya.
Aston mulai melangkah masuk ke dalam unit Lizbeth, namun yang ia lihat pertama kali adalah beberapa helai pakaian pria dan wanita berserakan di lantai.
"Em..lebih cepat sayang.."
Samar-samar Aston mendengar suara desahan wanita dan pria bergantian.
"Ouch..aku senang bisa menjadi orang pertama yang menerobos dirimu.."
Kini suara lenguhan seorang pria.
Aston segera melangkah dengan cepat masuk ke dalam kamar Lizbeth.
"WANITA MURAHAN!" Teriak Aston geram saat melihat kekasihnya, gadis yang ia jaga selama dua tahun ini berada dan mendesah di bawah kungkungan pria lain.
Aston segera berlari dan menendang pria itu hingga terjungkal ke lantai, sedangkan Lizbeth meringkuk ketakutan dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya
BUKK BUKK
Aston menghajar wajah pria itu tanpa ampun, bahkan darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Aston, jangan! Dia bisa mati!" Pinta Lizbeth terisak.
"Lebih baik dia mati! Tidak, kalian memang harus mati!" Teriak Aston yang masih menghajar pria itu dengan membabi-buta.
"Aston, aku bisa jelaskan. Semua aku yang salah. Aku yang rela menyerahkan diri padanya, aku mencintainya." Teriak Lizbeth lantang.
Aston menghentikan aksi brutalnya.
Kini ia berdiri dan berbalik.
Dengan tatapan membunuh dan wajah merah padam karena tersulut amarah ia menghampiri Lizbeth.
"Cinta? Kau bilang kau cinta padanya?" Teriak Aston langsung mencekik Lizbeth.
Lizbeth memukul tangan Aston meminta agar dilepaskan, namun Aston tidak peduli.
Aston sudah tersulut amarah, dan begitulah seorang Aston jika sedang emosi apalagi ini menyangkut gadis yang ia cintai.
"Bodoh! Kau bisa membunuhnya." Ujar pria yang dihajar tadi berusaha membantu Lizbeth.
__ADS_1
Namun kekuatan Aston sangat besar. Wajah Lizbeth semakin membiru dan pukulannya pada tangan Aston semakin melemah.
Tak lama kemudian, Lizbeth terbujur kaku tak bernyawa.
Aston tersenyum puas.
"Sekarang giliran kau bajingan!" Aston mengambil pisau lipat dari saku jasnya dan mengayunkan di udara.
"Bangsat! Jangan berani mendekat!" Titah pria itu mundur ketakutan.
JLEB
Dengan gerakan tak terbaca Aston berhasil menusuk perut pria itu.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Aston lalu menarik keluar pisau itu dengan kasar.
Darah segar mengalir dari perut pria itu.
Aston bersiap untuk kembali menyerang.
SRETT
Pria itu berhasil menangkis tangan Aston dan membalikkan pisau Aston hingga melukai keningnya cukup dalam.
Aston seolah tidak merasakan sakit dan malah tersenyum sinis.
"Matilah kau!" Teriak Aston dan mengangkat tinggi pisaunya hendak kembali menusuk pria itu.
JLEB
"ARGHHH.." Aston mengerang kesakitan karena sekali lagi pria itu berhasil menangkis dan membalikkan pisau Aston kini menusuk satu mata Aston.
Pria itu segera berlari keluar dari kamar itu dan mengenakan pakaian seadanya lalu meninggalkan unit Lizbeth begitu saja.
Ia mencoba mencari pertolongan, namun tidak ada orang yang berani mendekatinya.
Akhirnya dengan keadaan sekarat ia mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Aston segera di tangani oleh para dokter.
Selesai melakukan penanganan, Aston di bawa ke ruang inap.
"Maaf Tuan Aston, dengan berat hati aku menyampaikan kalau anda mengalami kebutaan pada mata anda yang tertusuk." Ucap dokter itu menunduk takut.
Aston hanya diam dan menatap keluar jendela kamar itu.
"Jika anda ingin, kami bisa mengusahakan pendonor untuk anda." Usul dokter itu lagi.
"Pergilah!" Titah Aston pelan namun terdengar menakutkan.
Dokter itu pun segera pergi meninggalkan Aston sendirian.
"Hah..kau cacat Aston..kau cacat karena mencintai seorang perempuan yang tidak tahu bersyukur seperti itu. Sadarlah Aston, sadar! Kau tidak butuh wanita! Kau bisa hidup sendiri! Jangan membuang waktumu lagi!" Guma Aston tersenyum getir dengan air mata yang mengalir begitu saja dari sudut matanya.
__FLASHBACK OFF__
"Tapi saat aku melihatmu hari itu, jantungku seakan kembali berdetak. Aku merasakan perasaan yang telah mati bertahun-tahun itu." Ucap Aston mengakhiri ceritanya.
Arvina tidak merespon apapun.
Aston dapat merasakan hembusan ringan nafas Arvina di ceruk lehernya.
Aston mencoba melihat wajah Arvina dan ternyata Arvina tertidur karena mendengar ceritanya.
"Apa ceritaku sangat membosankan? Jadi dengan mudah kau tertidur." Tanya Aston dengan satu tangan membelai wajah cantik yang sedang damai itu.
__ADS_1
Aston segera mengangkat Arvina kembali ke dalam kamar dan membaringkan Arvina dengan hati-hati.
"Tidurlah! Aku juga masih harus bekerja." Ucap Aston lalu mengecup lembut kening Arvina.
Aston pun keluar dari kamarnya setelah menyelimuti Arvina dengan benar.
Tak lama setelah Aston keluar, Arvina malah terbangun.
"Lapar sekali." Gumam Arvina.
Dengan malas ia turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar.
"Dimana semua orang?" Tanya Arvina bingung saat melihat kastil itu menjadi begitu sepi.
"Aston? Aston, dimana kau?" Tanya Arvina dengan sedikit berteriak.
Mau tidak mau ia harus mencari Aston karena tak ada satupun orang lain yang ia temui, bahkan pengawal dan pelayan yang tadi pagi ramai pun tidak terlihat.
Arvina berniat kabur, namun ia tahu itu percuma karena ia saat ini berada di pulau terpencil dan tak berpenghuni selain mereka.
"Aston?" Arvina memanggil sambil membuka pintu salah satu ruangan yang menurutnya adalah ruang kerja Aston.
Dan benar saja, Aston sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Arvina merasa tidak nyaman sudah mengganggu, akhirnya ia menutup kembali pintu ruangan itu.
Saat ingin melangkah pergi, ia merasakan Aston memeluknya dari belakang.
"Ada apa? Kenapa terbangun?" Tanya Aston lembut.
"Tidak, kau selesaikan saja pekerjaanmu. Aku hanya lapar saja." Jawab Arvina tidak enak hati.
Aston membalikkan Arvina hingga berhadapan dengannya.
"Ada sesuatu khusus yang ingin kau makan?" Tanya Aston mencolek hidung Arvina.
Arvina menggeleng.
"Tidak ada. Hanya lapar dan ingin makan." Jawab Arvina dengan ekspresi yang menurut Aston sangat menggemaskan.
"Baiklah! Aku akan memasak sesuatu untukmu." Ucap Aston dan menarik lembut tangan Arvina hingga ke dapur.
Aston mendudukkan Arvina di salah satu kursi mini bar dapurnya.
Dengan ahli, Aston membuatkan spaghetti untuk Arvina.
Arvina hanya melihat saja, namun hatinya merindukan Dave.
"Makanlah!" Titah Aston lembut menaruh sepiring spaghetti buatannya di hadapan Arvina.
Arvina tanpa ragu langsung menyantap makanan itu.
"Ini enak." Puji Arvina tulus.
Aston tersenyum.
"Bagaimana aku bisa melepaskanmu, jika kau selalu membuatkan jatuh dalam pesonamu?" Batin Aston menatap Arvina dengan tatapan lembut.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#########
BTW, beberapa bab ke depan alurnya aku buat sedikit lambat yah..semoga tidak pada kabur dan kiciwi..
Makasih yang udah setia menunggu dan memberikan dukungan..love you all
__ADS_1