TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Wanita Bangkai


__ADS_3

"Hans, boleh aku minta sesuatu kepadamu?" Tanya Arzena manja sambil memainkan telunjuknya di atas dada bidang Hansen.


"Katakan saja sayang. Apapun untukmu." Jawab Hansen tersenyum bahagia.


"Aku ingin mulai besok pagi dan seterusnya aku mengikutimu pergi bekerja!" Pinta Arzena menatap Hansen.


Hansen mengernyit bingung.


"Untuk apa? Kau harus banyak istirahat sayang." Tanya Hansen bingung.


"Untuk menjagamu dari wanita bangkai itu." Arzena memanyunkan bibirnya membuat Hansen gemas.


"Tapi ruanganku tidak ada tempat istirahat untukmu sayang." Bujuk Hansen.


Hansen hanya tidak ingin jika istrinya harus kelelahan karena dirinya.


"Kau kan bisa menambah set sofa raksasa atau ranjang di dalam ruanganmu. Ruanganmu itu sangat luas dan itu juga rumah sakit milikmu. Apa yang harus kau takutkan?" Celoteh Arzena panjang.


Hansen bahagia, akhirnya istrinya bersikap posesif padanya.


"Baiklah. Sesuai yang kau inginkan." Sahut Hansen.


Arzena tersenyum puas.


"Kau memang yang terbaik sayang." Ucap Arzena langsung mengecup bibir suaminya.


Hansen langsung menahan Arzena dan membalas perlakuan istrinya dengan lembut.


Mereka hanyut sejenak dalam romansa yang mereka ciptakan sendiri.


"Sekarang tidurlah! Tidak baik Ibu hamil tidur malam-malam sekali." Titah Hansen lembut setelah pautan bibir mereka terlepas.


"Baik Tuan tampan." Jawab Arzena dan membenarkan posisi baringnya namun tetap memeluk Hansen.


Mereka pun perlahan terlelap dengan posisi saling memeluk.


••••••••••••••••


"Engh.." Arzena melenguh pelan dan perlahan tersadar dari tidurnya.


"Hans?" Panggil Arzena saat tidak merasakan keberadaan Hans di sampingnya.


Ceklek


Pintu kamar terbuka saat Arzena hendak turun dari ranjang.


Hansen masuk dengan membawa nampan beserta makanan dan minuman di atasnya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Hansen lembut sambil menyusun makanan yang ia bawa untuk sarapan mereka.


Arzena menatap curiga pada suaminya.


"Kau berniat pergi tanpa membawaku ya?" Tanya Arzena menyelidiki.


Hansen tersenyum kecil dan menggeleng pelan.


"Ini masih pagi sayang. Sekalipun kau bangun satu jam lagi, kita tidak akan terlambat." Jelas Hansen.


Arzena mengangguk paham.


"Baiklah, aku akan mandi dulu." Ucap Arzena turun dari ranjang.


"Aku ikut!" Hansen langsung menyusul istrinya dari belakang.


Mereka pun mandi bersama.

__ADS_1


Setelah setengah jam, mereka keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk.


Arzena segera memilihkan pakaian untuk Hansen.


"Hans, pakai ini!" Titah Arzena memberikan sehelai kemeja berwarna putih tulang kepada Hansen saat ia melihat Hansen hendak menggunakan kemeja berwarna hitam.


"Kenapa ini?" Tanya Hansen bingung.


"Sayang, saat ini profesimu adalah dokter. Jadi tidak usah memakai baju berwarna hitam." Jelas Arzena.


Hansen mengangguk paham dan menerima kemeja dari Arzena lalu mengenakannya.


Arzena memilih sehelai dress berwarna senada dengan kemeja Hansen dan ia pun segera mengenakannya.


"Bukankah kita sangat serasi sayang?" Tanya Arzena memutarkan badannya.


Hansen tersenyum dan menarik istrinya ke dalam pelukannya.


"Em..kita sangat serasi." Ucap Hansen bangga.


"Dan aku beruntung memiliki kalian dalam hidupku." Lanjut Hansen sambil mengelus perut buncit Arzena.


"Ayo, sekarang kita sarapan. Aku dan twins sudah lapar." Ajak Arzena melepaskan pelukan Hansen.


Hansen menurut dan mereka pun segera menyantap sarapan yang Hansen bawa tadi.


"Hah..aku tidak sanggup lagi." Ujar Arzena merasa kenyang.


"Hei, kau baru makan sedikit. Di dalam rahimmu ada dua bayi." Ucap Hansen bingung.


"Tidak. Sepertinya bayiku perempuan, maka dari itu mereka juga tidak banyak makan." Jawab Arzena lalu meneguk minumannya.


"Mau berangkat sekarang?" Tanya Hansen meminta persetujuan dari istrinya.


Hansen meraih tangan Arzena ke dalam genggamannya dan mereka pun keluar dari kamar mereka dan segera berjalan menuju mobil.


Setelah masuk ke dalam mobil, Hansen pun segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakitnya.


Sepanjang perjalanan Arzena bersenandung bahagia.


"Sayang, kapan kau akan melanjutkan kuliahmu lagi?" Tanya Hansen merasa bersalah.


"Hah, malas sekali rasanya. Sebenarnya dulu juga aku tidak serius, dan banyak sekali nilai ku yang ku palsukan." Jawab Arzena malas.


"Jadi kau tidak ingin melanjutkannya lagi?" Tanya Hansen.


"Tidak. Lebih baik setelah anakku lahir nanti, aku fokus merawat mereka dan belajar menjadi Ibu yang baik." Jawab Arzena mengelus perutnya.


"Baiklah jika itu maumu. Tapi jika kau masih ingin melanjutkannya, aku akan tetap mendukungmu." Ujar Hansen tulus.


Arzena hanya mengangguk paham.


Mereka akhirnya sampai di rumah sakit Hansen.


Dari dalam mobil saja Arzena dan Hansen bisa melihat mantan istri Hansen menunggu dengan gaya angkuh di depan rumah sakit.


"Dasar wanita bangkai!" Ketus Arzena.


"Sayang, ingat kandunganmu! Jangan bermain kasar sampai membahayakan mereka dan dirimu!" Titah Hansen mengingatkan.


"Kau tenang saja. Atau kau sebenarnya khawatir dengan wanita bangkai itu?" Tanya Arzena curiga.


Hansen tertawa renyah.


"Untuk apa aku khawatir dengan orang yang sudah membuangku seperti sampah?" Tanya Hansen remeh.

__ADS_1


"Ya sudah." Ketus Arzena.


Mereka pun turun dari mobil.


"Hans..." Panggil mantan istri Hansen dengan suara mendayu-dayu dan Hendak mendekati Hansen.


Dengan cepat Arzena menghampiri Hansen dan menggandeng tangan Hansen mesra.


"Wanita bangkai, sebaiknya kau tidak mendekati suamiku! Aku tidak ingin suamiku tertular baumu!" Ucap Arzena merendahkan.


"Lihatlah dirimu di kaca wanita gendut! Kau itu sangat tidak pantas untuk Hans!" Hina mantan istri Hansen menunjuk tubuh Arzena dari atas hingga bawah.


PLAKK


Hansen melayangkan tamparan yang cukup keras kepada mantan istrinya.


"Olivia, aku peringatkan kepadamu untuk jaga bicara mu! Jangan menghina istriku atau kau akan mendapatkan perlakuan yang lebih menyakitkan dari yang sekarang!" Titah Hansen geram.


"Santai sayang. Aku tidak apa-apa. Biarkan saja dia menghinaku. Aku memang tidak cantik sekarang, tapi setidaknya ketika aku mencintai seseorang maka itu hingga akhir. Aku juga tidak akan lagi berbagi tubuhku dengan pria lain." Ucap Arzena memandang Olivia dengan tatapan merendahkan.


"Kau.."


"Apa? Ingin memaki diriku? Ingin menghinaku? Silahkan saja! Tapi semua ucapanmu itu hanya menggambarkan dirimu sendiri." Lanjut Arzena.


Olivia yang merasa di rendahkan pun memilih pergi dari hadapan Hansen dan Arzena.


"Tunggu saja kalian!" Ketus Olivia kesal dan meninggalkan keduanya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Hansen cemas.


Arzena mengibaskan rambutnya angkuh.


"Aku baik-baik saja. Ayo kita masuk." Ajak Arzena menggandeng tangan Hansen.


Mereka melangkah masuk ke dalam rumah sakit.


"Pastikan mulai detik ini jangan ijinkan wanita itu masuk ke dalam rumah sakit ini!" Titah Hansen kepada dua petugas keamanan yang berjaga.


"Tidak tidak! Biarkan saja dia! Semakin dia datang, aku semakin semangat menghinanya." Ujar Arzena kesal.


Hansen tersenyum gemas.


"Ya sudah, terserah dirimu saja." Ucap Hansen memilih mengalah.


Hansen tidak akan keberatan jika Arzena bersikap posesif kepadanya.


Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan Hansen.


"Wah, sungguh menakjubkan." Ucap Arzena girang saat melihat satu set sofa berwarna maroon tertata rapi dan juga ada sebuah ranjang di pojok ruangan kerja Hansen.


"Kapan kau menyiapkan semua ini?" Tanya Arzena berbinar lalu merangkul leher Hansen mesra.


"Untukmu selalu aku utamakan sayang." Jawab Hansen mencolek hidung istrinya.


"Baiklah. Kau boleh bekerja sekarang!" Titah Arzena menuntun suaminya duduk di kursi kerjanya.


"I love you." Bisik Arzena lalu berlari kecil dan duduk di sofa.


Hansen tersenyum dan langsung melakukan pekerjaannya.


...~ TO BE CONTINUE ~...


####


sekarang kita part Hansen-Arzena dulu ya..

__ADS_1


__ADS_2