TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Pendarahan


__ADS_3

"Daddy, Mommy" pekik Arzena bahagia saat melihat Hansen kembali bersama Darvin dan Zevina.


"Apa kabar sayang?" Zevina dan Darvin memeluk putrinya bersamaan.


"Aku baik. Bagaimana dengan Daddy dan Mommy?" Arzena tersenyum bahagia setelah melepaskan pelukannya.


"Kami baik. Tapi kami sangat merindukan cucu-cucu kami" Darvin mengusap kepala putrinya.


"Mereka ada di atas" Arzena menunjuk ke kamarnya dan Hansen.


"Boleh kami ke sana?" Tanya Zevina antusias.


"Sure Mom." Jawab Hansen sambil memeluk istrinya.


Darvin dan Zevina pun segera menaiki tangga untuk melihat cucu kembarnya.


"Sayang, kenapa bangun?" Tanya Hansen sambil mengecup leher istrinya.


"Aku bangun karena tadi Ken tiba-tiba ada di dalam kamar kita. Dia hanya melihat Hana dan Kenzie, tidak lebih. Tapi sepertinya dia sedang ada masalah" jawab Arzena jujur.


"Masalah apa menurutmu?" Tanya Hansen kini dengan nakal memainkan gundukan kenyal istrinya.


"Aku juga tidak tahu. Apa ada hubungannya dengan aku dan twins? Aku tidak ingin jika sampai istrinya menganggapku menggunakan twins untuk menggoda Ken" Zena memejamkan matanya menikmati sentuhan suaminya.


"Tenanglah! Tidak akan ada yang bisa dan boleh menjelekkan dirimu" Hansen tersenyum memeluk istrinya. Pria itu selalu tahu cara untuk menenangkan hati Arzena.


"Semoga saja tidak seperti yang aku pikirkan" Arzena tersenyum memberikan satu kecupan manis di bibir Hansen.


"Ayo, kita temani Daddy dan Mommy" Hansen menuntun istrinya masuk ke dalam lift untuk sampai ke kamar mereka.


••••••••••


"Dave, ayo cepat!" Arvina meneriaki Dave yang sedang mandi di dalam kamar mandi.


"Dave, ayolah cepat. Kita bisa terlambat ini.." Arvina kembali berteriak sambil mondar-mandir.


"Ada apa?" Dave keluar tergesa-gesa dari kamar mandi. Bahkan masih ada busa sabun yang menempel di sekitar lehernya.


"Cepat bersiap. Aku ingin ketemu Daddy dan Mommy" Arvina memberikan pakaian yang sudah ia siapkan untuk suaminya.


"Apa harus malam ini juga? Kan masih ada hari esok?" Dave berusaha memberi pengertian kepada istrinya.

__ADS_1


"Tidak mau. Harus malam ini juga" Arvina menekan setiap katanya. Jika sudah begini lagi, Dave hanya bisa menuruti. Dave segera mengenakan pakaiannya dan bersiap. Setelah dirasa cukup, Arvina segera menarik suaminya keluar dari kamar menuju mobilnya.


"Drick? Kau kenapa?" Tanya Dave mengernyit saat melihat Drick tiba-tiba datang dengan wajah gusar dan panik.


"Itu Raina...dia sudah mau melahirkan" Drick terlihat panik.


"Lalu kenapa kau malah di sini?" Tanya Arvina mendengkus.


"Raina sempat mengalami pendarahan tadi dan sekarang pihak rumah sakit sedang berusaha untuk mencari darah yang cocok" Drick mengusap kasar wajahnya.


"Apa golongan darah Kak Raina?" Tanya Arvina berharap jika golongan darah Dave atau darahnya bisa cocok dengan Raina.


"B rhesus negatif" Drick menatap Dave dan Arvina bergantian.


"Sama dengan darahku. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit sekarang" Dave mengambil keputusan dan diangguki Arvina. Ketiganya pun segera pergi ke rumah sakit dengan dua mobil berbeda.


"Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada kak Raina" Arvina menautkan kedua tangannya karena cemas.


"Raina pasti baik-baik saja, dia wanita yang kuat" Dave menyentuh tangan istrinya yang saling bertaut untuk menenangkan. Sesampainya di rumah sakit, Drick segera membawa keduanya menemui dokter yang menangani Raina.


"Bagaimana Dokter?" Tanya Drick khawatir.


"Periksa darahku! Kebetulan golongan darahku B rhesus negatif" Titah Dave tegas.


"Baik, mari ikuti aku!" Perawat itu menuntun Dave menuju laboratorium pemeriksaan dan pengambilan darah.


••••••••••


"Tenanglah! Kak Raina pasti akan baik-baik saja" Arvina mengusap pundak Drick meski ia juga tak kalah khawatir.


"Seandainya aku tidak teledor dan membiarkan dia keluar sendirian" Drick mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya karena frustrasi.


"Sudah Drick! Semua juga tidak bisa kita prediksi. Jika memang harus terjadi, semua tetap akan terjadi meski kau menjaganya dua puluh empat jam penuh" Arvina berusaha menenangkan pria itu.


"Drick..." Suara seorang pria memanggil Drick. Saat mereka berbalik, ternyata Jack dan Liz.


"Bagaimana keadaan Raina?" Tanya Jack khawatir.


"Masih ditangani. Mungkin sebentar lagi akan segera dioperasi" Drick menatap mertuanya takut.


"Semoga saja semuanya berjalan lancar" Jack memilih duduk di kursi tunggu diikuti Liz yang sedari tadi ia genggam tangannya.

__ADS_1


"Vina, bagaimana kabarmu?" Tanya Liz melihat Arvina yang duduk diam.


"Aku baik aunty. Aunty dan uncle juga pasti baik sebelum hari ini. Kapan sampai di London?" Tanya Arvina sopan.


"Sore tadi. Kami datang bersama Daddy dan Mommy kalian. Hanya saja setelah turun dari pesawat, kami berpisah karena Hansen menjemput mereka. Kami segera ke rumah Drick dan pelayan di sana mengatakan Raina masuk rumah sakit" Liz menjawab dengan lembut.


"Begitu. Ah, aku harus melihat Dave dulu" Arvina pun pamit menuju ke ruang tempat Dave berada.


••••••••••


"Sayang, bagaimana?" Arvina menghampiri Dave yang memejamkan matanya. Lengannya masih terpasang selang khusus untuk memindahkan darahnya ke dalam kantong khusus.


"Sebentar lagi selesai" Dave dengan suara lemah dan wajahnya sangat pucat.


"Bertahanlah" Arvina menggenggam tangan Dave sambil mengelus kepala pria itu. Kantong darah sudah terisi penuh. Perawat melepas selang tadi, lalu mengobati luka di lengan Dave.


"Tuan istirahat saja. Sebentar lagi akan ada yang mengantar makanan untuk membantu pemulihan Tuan" Perawat itu tersenyum dan segera keluar membawa tiga kantong darah yang sudah terisi.


Dave sangat lemah sekarang begitupun wajahnya yang luar biasa pucat. Perawat hanya ingin mengambil dua kantong darahnya tadi, tapi Dave memaksa untuk memberikan tiga.


"Istirahatlah" Arvina setia mengelus kepala suaminya. Dave memejamkan matanya entah pingsan atau tertidur.


"Kau benar-benar priaku yang hebat. Terima kasih kau mau berkorban untuk keluargaku" Arvina mengecup kening suaminya dan memilih untuk menjaga Dave.


"Maaf mengganggu Nyonya, ini makanan penambah darah untuk membantu pemilihan suami Nyonya." Seorang wanita yang sepertinya bertugas di bagian dapur rumah sakit menata beberapa makanan dan susu yang di atas meja yang tersedia.


"Terima kasih" Arvina tersenyum hangat.


"Makanlah segera selagi masih hangat. Aku permisi" wanita itu pun pamit undur.


"Sayang, bangun dulu" Arvina membangunkan Dave dengan hati-hati. Perlahan Dave membuka matanya namun karena masih sangat pusing akhirnya ia memejamkan matanya kembali.


"Kau bisa mendengarku kan? Ya sudah, sekarang buka mulutmu! Aku akan menyuapi dirimu" Arvina menyendok makanan yang dibawa tadi lalu menyodorkan ke depan mulut Dave. Perlahan Dave membuka mulutnya dan menerima suapan istrinya. Satu suapan, dua suapan, hingga suapan terakhir. Arvina tersenyum karena Dave begitu penurut.


"Ini, minum susunya!" Arvina membantu Dave untuk meminum susu pasteurisasi yang memang bermanfaat untuk orang yang baru melakukan donor darah.


"Good man" Arvina menaruh gelas itu kembali ke atas meja dan membantu Dave kembali berbaring nyaman.


"ARVINA..."


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2