
"Selamat pagi.." Sapa Arzena yang baru bergabung di ruang makan bersama keluarga besar Dave.
"Pagi. Ayo, makanlah! Kau harus menjaga kondisimu dan bayimu." Titah Arvina mengambil beberapa jenis makanan untuk Arzena.
Dave dan Hansen hanya tersenyum melihat tingkah kedua istri mereka.
"Vina, kapan kalian berencana untuk mempunyai momongan?" Tanya Rexa tanpa tau apa-apa.
Senyum Dave seketika luntur begitu saja.
"Jangan bertanya sesuatu yang tidak perlu kau tanyakan Mom!" Titah Dave kesal.
"Dave.." Arvina menggenggam tangan Dave lembut dan menggeleng pelan pertanda ia tidak apa-apa.
Arvina tidak menjawab pertanyaan Rexa setelah Dave kesal.
Rexa diam kembali dan memandang anak menantunya dengan rasa bersalah.
Mereka kembali menyantap sarapan mereka tanpa suara.
"Hoam...sm" Drick menguap lebar sambil turun dari kamar dan menghampiri keluarga besar itu.
"Selamat pagi. Maaf aku terlambat." Ucap Drick langsung menyantap makanannya tanpa malu.
Dave dan Hansen hanya menggeleng melihat tingkah sahabat mereka.
Entah kenapa, Dave dan Hansen merasa Drick sedikit berbeda. Drick sedikit lebih berantakan sekarang dibandingkan dulu.
"Oh ya, kemaren Daddy Derex memberitahuku kalau kak Raina akan menikah satu minggu lagi. Sayangnya kita semua tidak ada yang bisa pergi." Ucap Arvina bahagia sekaligus sedih.
"Maafkan kami Vina. Kami membuatmu kesulitan menemui keluargamu." Ucap Rexa merasa bersalah.
Rexa belum tahu jika kedua kembar itu adalah putri dari wanita yang pernah dijahati oleh pria yang pernah ia cintai dulu.
Rexa bahkan belum tahu putra pertamanya ada di sekitar mereka.
"Tidak Mom, tidak masalah." Jelas Arvina tersenyum tulus.
Drick tersenyum licik.
"Biar aku yang pergi!" Ucap Drick lantang.
Semuanya kompak menoleh ke arah Drick.
"Untuk apa kau kesana? Kau bahkan tidak mengenal Kak Raina atau Kak Velano." Tanya Arzena ketus.
__ADS_1
"Tidak kenal? Aku bahkan sudah tidur dengannya dan merenggut kesuciannya. Batin Drick.
"Em..tapi aku mengenal keluarga kalian dan Tuan Derex. Jadi aku bisa menyampaikan doa terbaik kalian kepada mereka." Jawab Drick beralasan.
"Baiklah, minggu depan aku ijinkan kau pergi." Ujar Dave dan mereka semua tidak satupun yang merasa curiga dengan Drick.
Drick tersenyum lebar dan licik.
"Raina sayang, tunggulah hadiah terbaik dariku." Batin Drick.
Mereka kembali menyantap sarapan mereka hingga selesai.
"Dave, kau akan pergi?" Tanya Arvina melihat Dave sedikit terburu-buru.
"Aku akan menemui dokter yang merawat Daddy. Aku tidak percaya mereka mengatakan penyakitnya hanya penyakit ringan." Bisik Dave kepada Arvina.
"Baiklah. Aku akan menjaga mereka." Ucap Arvina tersenyum.
"Aku pergi dulu." Pamit Dave setelah mengecup sayang kening istrinya.
"Twins, aku dan Hans juga harus pergi." Pamit Arzena menghampiri Arvina dan memeluknya manja.
"Kau akan kemana?" Tanya Arvina khawatir.
"Aku harus menjaga suamiku dari wanita bangkai." Ketus Arzena kesal.
"Ya, wanita bangkai itu adalah mantan istri suamiku." Ketus Arzena menujuk Hansen.
"Oh..jangan sampai berbuat terlalu kasar. Ingat keadaanmu saat ini." Ucap Arvina mengingatkan saudari kembarnya.
"Tenang saja. Jika aku sudah tidak mampu lagi menghadapinya, aku akan menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan nya." Ujar Arzena dengan penuh kekejaman.
"Jangan seperti itu Zena. Biarkan saja dia selama suamimu tidak berkhianat." Bujuk Arvina khawatir.
"Hah, kau kenapa lemah twins? Wanita bangkai seperti itu harus diberi pelajaran. Seenaknya saja mengganggu rumah tangga kita." Jawab Arzena kekeh dengan pemikirannya.
"Yah baiklah. Terserah dirimu saja selama kau bisa menjaga diri." Ucap Arvina mengalah.
"Ya sudah, kami pergi dulu." Pamit Hansen yang sedari tadi hanya diam.
Arzena dan Hansen pun pergi meninggalkan mansion setelah mendapat ijin.
Arvina menghampiri kedua mertuanya sedang bersantai di ruang keluarga.
"Dimana Dave?" Tanya Rexa lembut.
__ADS_1
"Dave sedang pergi sebentar Mom." Jawab Arvina duduk di samping Rexa.
"Em..Mom, Dad, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Arvina ragu.
"Katakan saja sayang!" Titah Rexa lembut.
"Ini tentang kakak tiri Dave. Anak pertama Mommy." Ucap Arvina membuat kedua orang tua itu membulatkan mata mereka.
"Darimana kau tahu tentang itu?" Tanya Rexa gugup.
"Maaf Mom, Dad. Aku tidak sengaja mengetahuinya dari uncle Ke. Apa Mommy tidak ingin bertemu dengan Ken?" Tanya Arvina pelan.
"Kenapa kau bisa tahu namanya?" Tanya Rexa menyelidik.
"Dia adalah temanku dari kecil. Tapi sekarang kami menjadi seperti musuh karena suatu kesalah pahaman." Jelas Arvina.
"Semua ini salah Daddy. Daddy yang memaksa Mommy Dave untuk membuang Ken saat kecil. Daddy sendiri yang mengantarnya ke panti asuhan itu dan memaksa memalsukan tanggal dan tahun kelahirannya karena saat itu ia lahir prematur dan tubuhnya sangat kecil." Ucap Jeymian menyela dengan penuh penyesalan.
"Jika kalian ingin bertemu dengannya, aku bisa membantu. Tapi aku ingin kalian jujur dengan Dave tentang hal ini. Mereka berdua sangat membenci satu sama lain. Mungkin hanya kalian yang bisa membantu mereka untuk berdamai." Pinta Arvina pelan.
"Mau. Mommy ingin sekali bertemu dengannya. Dimana dia?" Tanya Rexa menitikkan air mata.
"Aku akan menghubungi uncle Ke untuk menanyakan posisinya, tapi sebelum itu kalian lebih baik menjelaskan dan mengatakan kebenarannya kepada Dave. Aku tidak ingin dia mengalami kekecewaan untuk kedua kalinya." Ucap Arvina sendu.
"Baik. Baik, kami akan mengatakan kebenarannya. Mungkin ini adalah kesempatan untukku sebelum aku menutup mata." Ucap Jeymian menyanggupi.
"Mengatakan apa? Apa yang ingin kalian katakan?" Tanya Dave dengan suara yang sulit diartikan.
"Dave, kau sudah pulang?" Tanya Rexa langsung berdiri hendak menghampiri putranya namun Dave mencegah.
"Ingin mengatakan kalau penyakit yang diderita Daddy itu penyakit ringan? Atau mau mengatakan bahwa penyakitnya adalah penyakit langkah yang siap mencabut nyawanya kapan saja karena dia juga mengalami komplikasi?" Tanya Dave geram.
"Dave, Mommy bisa menjelaskan." Bujuk Rexa sedangkan Jeymian hanya menunduk merasa bersalah.
Arvina memilih menghampiri suaminya.
"Dave, dengarkan dulu penjelasan Mommy dan Daddy mu." Titah Arvina lembut.
"Jelaskan! Jelaskan apa yang ingin kalian jelaskan!" Titah Dave menahan amarahnya demi Arvina.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#####
...MAMPIR YOK...
__ADS_1