
Dave kini sedang duduk disamping ranjang menatap wajah damai Arvina dengan bertelanjang dada, namun amarahnya tidak berkurang sedikitpun.
Ia bahkan lebih berfokus pada bekas merah yang dibuat oleh Ken, karena ia hanya menutupi sebagian tubuh Arvina dengan selimut.
"Bangunlah! Apa si lemah itu sanggup membuatmu kelelahan seperti ini?" Gumam Dave geram.
Hatinya berperang dengan logikanya. Dan ia lebih memenangkan logikanya dibanding hatinya.
Arvina sedikit menggeliat kemudian membuka perlahan matanya.
"Dave." Lirih Arvina lemah saat melihat Dave di sampingnya.
Dave menyunggingkan seringai menakutkan.
"Apa sudah puasa bermain-main dengan si lemah itu?" Tanya Dave datar.
"Apa maksudmu Dave? Aku tidak mengerti." Tanya Arvina bingung, ia masih sangat lemah untuk sekedar bangun dari posisi baringnya.
"Jangan bersandiwara lagi!" Geram Dave dan langsung naik keatas tubuh Arvina lalu mencekik Arvina.
Arvina memejamkan matanya dengan air mata yang menetes disudut matanya.
"A..ku ti..dak ... " Arvina ingin berbicara namun sangat sulit karena Dave mencekik nya sangat kuat.
"Persetan dengan semua yang ingin kau jadikan alasan. Bukti nyata sudah ada didepan mataku. Baik, aku ingin lihat apakah dia atau aku yang lebih sanggup memuaskan mu." Ucap Dave lalu ******* kasar bibir Arvina setelah melepaskan tangannya dari leher Arvina.
Dave membungkam mulut Arvina menggunakan bibirnya sedangkan tangannya bergerak menjelajahi tubuh Arvina.
Arvina ingin melawan, namun ia masih sangat lemah, hanya air matanya yang mampu mewakili rasa sakitnya saat ini.
Dave bahkan kini sudah melepas paksa pakaian dalam Arvina, begitu dengan celana miliknya beserta pembungkus dalamnya.
"Nikmati saja sayang, dan kau akan tahu siapa yang lebih hebat dalam hal ini!" Ucap Dave dengan seringai kejamnya.
Tanpa aba-aba Dave segera menancapkan miliknya pada Arvina, Arvina hanya bisa menutup rapat mulutnya menahan rasa sakit dibagian intinya.
"Apa ini?" Batin Dave saat ia menyadari milik Arvina belum tersentuh sedikitpun.
Namun egonya tetap lebih besar hingga ia tetap memaksa masuk pada Arvina dan mulai bergerak diatas Arvina.
Arvina hanya diam, memejamkan matanya dan menutup rapat mulutnya.
Dave sudah merenggut mahkotanya, hal paling berharga dalam hidupnya.
Air matanya terus mengalir sedangkan Dave terus bergerak dan meracau tak jelas diatasnya.
"Kau akan menyesal! Kau pasti akan menyesal Dave!" Ucap Arvina lemah dan akhirnya ia kembali jatuh pingsan.
Melihat Arvina kembali pingsan, Dave segera menyudahi kegiatannya.
Ia turun dari atas Arvina lalu menutupi tubuh Arvina dengan selimut, sedangkan ia masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Dave mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower.
"Apa-apaan tadi? Kenapa milik Arvina masih kesusahan untuk ku masuki?" Gumam Dave
"Tidak, aku yakin Arzena lah yang berhasil menggagalkan penyatuan mereka." Gumam Dave lagi.
Sungguh saat ini egonya sangat besar, melebihi rasa cinta dan kepercayaan nya pada Arvina.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia pun keluar dari kamar mandi dan mengenakan celana boxer nya tanpa atasan.
Ia naik dan bergabung dengan Arvina.
"Tidak akan aku biarkan kau pergi dariku!" Gumam Dave menatap wajah sembab Arvina.
Dave kemudian mengambil sebatang jarum suntik berisi devil kemudian menyuntikkan pada lengan Arvina.
"Jika harus membuatmu menderita agar bertahan disamping ku, maka akan ku lakukan!" Ucap Dave.
Ia kemudian memeluk erat tubuh Arvina dan perlahan ia terlelap.
#####
Malam yang menyakitkan telah berlalu dan disambut dengan pagi yang melelahkan.
Bukan lelah karena bekerja, namun lelah karena menahan sesak dan sakit hati.
Itulah yang Arvina rasakan pagi ini.
Seluruh tubuhnya terasa begitu sakit dan lemah.
Ia hendak turun dari ranjang, namun tangan Dave memeluknya dengan sangat erat.
"Untuk apa kau masih memelukku dengan erat sedangkan kau tidak pernah percaya padaku?" Gumam Arvina.
Ia mengangkat tangan Dave dengan bersusah payah, bahkan tangan Dave pun terasa sangat berat untuk ia pindahkan.
Setelah berhasil, perlahan ia turun dari ranjang dan beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Ia berdiri, menatap jijik pada tubuhnya yang dipenuhi bekas kemerahan.
"Apa yang bisa kau banggakan dari hidupmu lagi? Kau kotor sekarang! Kau hina! Kau hancur Arvina! Selama ini kau selalu menjadi gadis yang baik dan menjaga dirimu dari pergaulan yang tidak sehat. Tapi apa imbalan yang kau dapat? Hidupmu hancur ditangan pria brengsek seperti itu. Apa lagi yang bisa harapkan dari hidup hina mu ini? Dad, Mommy, kakak Arzevin, Daddy Derex, bahkan seluruh keluarga besar mu pasti tidak akan sanggup menahan malu atas apa yang sudah kau alami. Kau mengecewakan mereka!" Ucap Arvina pada pantulan bayangannya dicermin.
Arvina kemudian mengisi bathup dengan air hingga penuh.
Setelah terisi penuh, ia tidak mematikan aliran dari kerannya.
Ia kemudian masuk kedalam bathup dan berendam.
######
Dave perlahan tersadar dari tidurnya.
__ADS_1
Ia meraba tempat tidur disampingnya namun tidak mendapati keberadaan Arvina.
Pikiran nya mulai berkecamuk, egonya kembali menyerang.
"Berani sekali dia mencoba kabur dari tempat ku." Gumam Dave geram.
Ia pun turun dari ranjang dan hendak keluar dari kamarnya, namun bunyi gemericik air dari kamar mandi mengurungkan niatnya.
Ia memilih melangkah masuk kedalam kamar mandi.
"ARVINA" Teriak Dave histeris saat melihat Arvina sudah tenggelam didalam bathup.
Ia segera mengangkat tubuh Arvina keluar dari bathup dan menekan dada Arvina untuk mengeluarkan air yang masuk kedalam tubuh Arvina serta memberi nafas buatan.
"Uhukk..uhuk.." Arvina terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.
"Kenapa kau lakukan ini?" Tanya Dave memeluk erat Arvina.
"Biarkan aku mati!" Ucap Arvina getir.
"Tidak ada yang bisa merenggut mu dari ku Arvina! Tidak akan ada, bahkan kematian sekalipun!" Ucap Dave tetap memeluk Arvina.
"Apa hak mu? Kau bukan siapa-siapa bagiku selain penjahat yang sudah merusak hidupku. Ibuku yang melahirkan ku dan Ayahku yang mendidik dan bekerja keras untuk ku saja tidak pernah menyakitiku seperti ini. Lalu apa hak mu?" Tanya Arvina getir.
Ingin sekali ia menjerit, namun tubuhnya terlalu lemah.
Dave merasa tertampar dengan ucapan Arvina.
"Aku tidak akan menjelaskan apapun lagi. Biarkan waktu yang membuktikan aku tidak sehina yang kau tuduhkan padaku! Dan saat hari itu tiba, kau akan menyesal dengan semua tuduhan mu padaku!" Ucap Arvina lalu mendorong tubuh Dave dengan sisa tenaganya, kemudian ia beranjak keluar dari kamar mandi.
Arvina mengambil asal pakaian dari lemari Dave lalu memakainya agar menutupi tubuhnya, kemudian ia kembali berbaring dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
Dave keluar dari kamar mandi, melihat perempuan yang ia cintai menangis tiada henti membuat hatinya seakan tertusuk ribuan pisau.
Ia kemudian naik keatas ranjang dan membuka perlahan selimut yang membungkus Arvina.
Arvina rupanya sudah tertidur, entah berpura-pura atau memang benar tertidur.
"Apa aku sudah salah? Tapi bukti begitu jelas dan nyata. Atau ada yang tidak ku ketahui?" Tanya Dave meraih tubuh Arvina kedalam pelukannya.
"Mom, Dad, kakak Ar, aku merindukan kalian." Racau Arvina didalam tidurnya dengan air mata mengalir dari sudut matanya.
...~ TO BE CONTINUE ~...
######
Maaf ya yg kemarin pengen Dave nyelametin Arvina nggak ku penuhi..semua sudah terekam dalam otakku jalan ceritanya..
Kalo diubah nnti aku bingung sendiri..
Makasih buat semua yang sudah mendukung..❤❤❤
__ADS_1