TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Rencana Dave


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian


PRANGG


Dave membanting beberapa koleksi Guci antik miliknya hingga pecah tak berbentuk.


"Kau menipu ku Arvina. Kau memperdaya diriku dengan janji manis mu." Geram Dave.


Satu minggu ini benar-benar ia tidak mendapat kabar dari Arvina, bahkan anak buahnya yang memantau rumah Arvina pun sama sekali tidak mendapatkan hasil karena Ken benar-benar tidak menampakkan pergerakan bahkan tidak keluar sama sekali dari rumah itu.


"Baik jika itu maumu..aku pasti aka menyeret mu kembali bagaimanapun caranya. Tunggu saja." Geram Dave lagi.


Dave keluar dari ruangan kerjanya dan berjalan menuju ke kamar Arzena.


"Hei, apa kau memegang kunci rumah mu?" Tanya Dave kasar.


"Em.." Jawab Arzena santa.


Arzena sedang berbaring dengan mengenakan dress sexy namun itu tidak meruntuhkan pertahanan Dave.


"Ikut aku! Bawa kunci rumahmu!" Titah Dave.


Arzena hanya menurut.


Dave membawa Arzena masuk kedalam mobilnya, lalu mengendarai mobilnya menuju ke rumah Arzena.


"Kau mau bawa aku kemana Dave?" Tanya Arzena bingung.


Akhir-akhir in Arzena sudah tidak terlalu sering sakaw lagi karena Dave mengurangi dosis Devil saat Arzena memintanya.


"Ingat ucapanku baik-baik! Aku ingin kau masuk kedalam rumahmu secara diam-diam tanpa menimbulkan suara sedikitpun! Lihat apakah gadisku ada didalam rumah kalian, jika ada, aku ingin kau pancing dia keluar dari rumah kalian bagaimanapun caranya! Paham!" Titah Dave kesal.


"Dave, apa kau sungguh mencintai kakakku?" Tanya Arzena penasaran.


Arzena sedikit banyak sudah mendengar tentang Dave dan Arvina dari pelayan mansion Dave.


"Aku mencintainya dengan segenap jiwaku. Tapi sayangnya dia tidak pernah menganggap ku serius." Jawab Dave datar.


"Apa kau sedang mencurigainya mengkhianati mu?" Tanya Arzena menyelidik.


"Em." Dave berdehem datar.


"Bagaimana jika semua pikiran mu tidak benar dan kenyataanya adalah kakakku sedang mengalami kesulitan dan sangat mengharapkan kehadiran mu?" Tanya Arzena.


Pertanyaan Arzena membuat otak Dave bekerja keras untuk berpikir.


"Semua jawabannya tergantung dari hasil kerjamu nanti." Jawab Dave datar.


"Jangan pernah menyakiti kakakku jika dia memang tidak bersalah!" Titah Arzena, namun Dave memilih tidak menjawab.


######


Arvina perlahan mulai membuka matanya.


Ken beberapa hari ini mulai mengurangi dosis obat tidur yang ia suntikan pada Arvina.


"Kenapa aku bisa dikamar Ken?" Gumam Arvina lemah.


Arvina sangat lemah karena satu minggu ini Ken selalu menyuntikkan obat tidur padanya setiap kali Ken melihat tanda-tanda ia akan sadar.

__ADS_1


Ken bahkan tidak mengijinkannya bangun untuk sekedar memberikannya makan.


Untuk membersihkan diri, Ken yang melakukannya dengan menyeka tubuh Arvina menggunakan handuk basah.


Ken juga rutin menggantikan pakaian luat dan dalam Arvina.


Arvina mencoba bangun dengan bersusah payah.


"Ken, aku mengingatnya. Apa yang ingin ia lakukan?" Gumam Arvina saat mengingat Ken menyuntik nya malam itu.


Arvina berusaha turun dari ranjang Ken lalu berjalan dengan bersusah-payah untuk meraih pintu kamar tersebut.


"Jangan coba-coba untuk lari!" Teriak Ken yang baru keluar dari kamar mandi dan menangkap Arvina.


Ia menggendong Arvina lalu membanting Arvina keatas ranjangnya.


"Lepaskan aku Ken! Kau sudah gila." Teriak Arvina dengan suara lemah.


"Tidak akan pernah!" Ucap Ken geram.


Ken lalu berjalan kearah nakas dan membuka laci nakasnya lalu mengambil sebuah jarum suntik.


"Jangan menyentuhku!" Gertak Arvina.


"Ini tidak akan sakit sayang." Ucap Ken dengan seringai menakutkan.


Ken hendak menyuntikkan obat tidur tersebut pada Arvina namun dengan cepat dan sigap Arvina menangkis tangan Ken hingga akhirnya jarum tersebut lepas dari tangan Ken dan terpelanting entah kemana.


PLAKK


Ken menampar Arvina dengan kuat.


"Jangan coba-coba untuk melawan ku! Kau tidak ada apa-apanya sekarang." Ucap Ken geram.


"Aku memang gila. Dan aku gila pun karena dirimu. Kau ingin meninggalkan ku, maka coba saja." Ucap Ken.


"Kau juga yang meminta mu untuk meninggalkan mu agar kau bisa mendapatkan pekerjaan mu kembali." Geram Arvina kini.


"Jangan banyak bicara!" Ucap Ken.


Plakk


Satu tamparan Ken layangkan kembali pada pipi Arvina.


Arvina menangis, tubuhnya lemah sekali.


"Seperti ini kau membuatku sangat bergairah sayang." Ucap Ken melepaskan kaos yang dipakainya.


Ia mulai menaiki tubuh Arvina dan mencium paksa bibir Arvina.


"Arggghh.." Ken mengerang kesakitan saat Arvina menggigit bibirnya.


Plakk


Ken kembali menampar Arvina.


"Berani sekali kau menolak ku." Ucap Ken.


Ia kini mulai mencumbu kasar tubuh Arvina hingga meninggalkan beberapa bekas kemerahan.

__ADS_1


"Lepaskan aku!" Titah Arvina meronta.


"Semakin kau bergerak aku semakin suka sayang! Tenang saja, aku akan bermain lembut diawal." Ucap Ken mencumbu Arvina tanpa henti.


Sreettt


Ken mengoyak paksa pakaian Arvina hingga Arvina kini hanya mengenakan pakaian dalam saja.


"Lepaskan aku!" Ucap Arvina lagi.


Kakinya berusaha menendang inti milik Ken namun tidak menghasilkan apapun karena ia benar-benar lemah.


"Kau akan menjadi milikku saat ini juga!" Ucap Ken hendak membuka paksa pakaian dalam Arvina.


"Bangsat! Berani sekali kau menyentuh kakakku. Dasar miskin tidak tahu diuntung!" Maki Arzena mendorong tubuh Ken hingga terjungkal.


"Zena..aku takut.." Ucap Arvina langsung memeluk Arzena.


"Sttt..jangan takut..aku disini." Bujuk Arzena menenangkan kembarannya.


"Ayo, kita pergi dari sini. Dave menunggumu didepan." Ucap Arzena melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Arvina.


Ia membuka cardigan yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Arvina.


Mendengar nama Dave membuat Ken meradang.


"Jangan pernah berharap kabur dari ku Arvina!" Ucap Ken berusaha menarik Arvina namun ditangkis oleh Arzena.


Ken sekarang malah tergiur dengan penampilan sexy Arzena.


"Baiklah! Sebelum kakakmu, aku akan mencicipi mu terlebih dulu." Ucap Ken lalu menarik Arzena dan membanting Arzena keatas ranjang.


Ia menghimpit Arzena dengan kedua kakinya membuat Arzena tidak bisa bergerak.


Ken segera membuka celananya beserta isinya sambil menahan tubuh Arzena.


"Lepaskan aku miskin!" Maki Arzena meronta.


"Diam!" Titah Ken menarik pakaian dalam bawah Arzena.


"Lepaskan adikku!" Titah Arvina lemah namun ia tidak berani mendekati Ken.


Tanpa menunggu Ken langsung menancapkan miliknya pada Arzena.


"Sialan, berani sekali kau menggagahi ku!" Maki Arzena namun Ken sudah gelap mata.


Ia mulai menggerakkan pinggulnya berirama.


"Twins, lari sekarang! Dave menunggumu." Titah Arzena pada kakaknya dan membiarkan dirinya menjadi tumbal atas kegilaan Ken.


"Lari sekarang!" Titah Arzena lagi.


Mau tidak mau, rela tidak rela akhirnya Arvina berlari keluar dari kamar Ken bahkan dari rumah nya dengan sisa tenaganya.


Ken sudah meracau kenikmatan di atas Arzena sedangkan Arzena terus memaki dirinya.


"Dave." Lirih Arvina lemah dan akhirnya jatuh pingsan sebelum mendekati Dave.


Dave segers berlari untuk menggendong Arvina, namun matanya memanas saat melihat ternyata Arvina setengah telanjang dan badannya banyak terdapat bekas kemerahan.

__ADS_1


Dave tetap membawa Arvina masuk kedalam mobilnya dan membawa Arvina kembali ke mansion nya.


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2