TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Negosiasi


__ADS_3

"Ini sudah tiga hari dan Ken belum ada perkembangan sedikitpun!" Geram Dave mengepalkan kedua tangannya.


Ia sedang menunggu Ken bersama Ayahnya. Darvin beserta istri dan putranya terpaksa harus kembali ke London kemarin sore, sedangkan Elviana dipaksa untuk pulang oleh Dave karena ia sempat jatuh pingsan sesaat setelah Ken dipindahkan ke ruang perawatan.


"Bedebah itu benar-benar sialan!" Ucap Dave lalu hendak melangkah keluar dari ruangan itu.


"Dave, jangan lakukan kesalahan lagi! Darah tidak selamanya harus dibayar dengan darah!" Jeymian mengingatkan putra tunggalnya itu.


"Aku tahu, Dad!" Sahut Dave dan langsung keluar dari ruangan Ken.


Tujuannya sekarang adalah menemui Jarod.


Benar kata Ayahnya, jika Dave melawan dengan menyerang balik, itu artinya ia mengundang peperangan antara dirinya dan Jarod. Maka cara terbaik yang bisa diambil saat ini adalah negosiasi.


Entah akan seperti apa hasil negosiasinya, yang jelas Dave tidak akan kalah.


Satu jam perjalanan akhirnya ia sampai di depan rumah mewah milik Jarod. Rumah yang sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding dengan mansionnya.


"Aku ingin bertemu Tuan kalian!" Ucap Dave tanpa basa-basi setelah ia menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang rumah Jarod dan berhadapan dengan anak buah Jarod yang sedang berjaga.


Pengawal itu menekan suatu alat terpasang di telinganya, lalu menyampaikan keinginan Dave untuk bertemu Jarod.


"Mari." Ajak pengawal itu setelah mendapat jawaban dari orang yang ia hubungi.


Dave mengikuti langkah pengawal itu hingga masuk ke dalam sebuah ruangan kerja yang terlihat berantakan.


"Welcome, Mr. Alexon!" Jarod berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Dave.


"Ayo duduk!" Jarod merangkul Dave dan menuntunnya duduk di sofa.


"Aku tahu maksud kedatanganmu ke sini! Sebutkan saja nominalnya! Aku akan membiayai semua administrasi rumah sakit kakakmu!" Ucap Jarod tanpa basa-basi


"Kau pikir aku kekurangan uang? Uangku bahkan lebih banyak dari yang kau punya!" Tekan Dave geram karena merasa direndahkan.


"Lalu kenapa kau datang kemari? Ingin menghancurkanku? Lakukan saja Dave! Aku memang sudah muak dengan hidupku!" Ucap Jarod getir.


Pria yang usianya melampaui Dave itu terlihat lemah seolah tidak mempunyai semangat hidup lagi.

__ADS_1


"Kenapa? Apa benar yang disampaikan bawahanku? Kau hendak membawa paksa Elviana karena rencana perjodohan dari Ayahnya?" Tanya Dave to the point.


"Haha..kau benar sekali Dave! Tua bangka itu yang berjanji berjanji terlebih dulu padaku. Dan kau tahu? Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk investasi di perusahaannya. Tapi dia malah ingkar janji dan ingin menikahkan putrinya itu dengan kaka iparmu." Jawab Jarod lalu mengusap kasar wajahnya.


"Kau yakin kau sudah melakukan investasi itu? Dan bukankah kau sudah menikah dan mempunyai seorang putra?" Tanya Dave menyelidiki.


"Aku punya bukti atas semua ucapanku, Dave. Ya, aku memang sudah menikah. Tapi wanita itu memilih pergi dengan pria lain yang jelas lebih miskin dariku!" Ungkap Jarod mengepalkan kedua tangannya.


"Untuk kerugian yang disebabkan Ayah Elviana, aku akan menggantinya dua kali lipat. Aku harap kau tidak akan mencari ma..."


"Tuan, Nyonya Alina ditabrak sebuah mobil saat hendak menyebrang jalanan untuk menjemput Tuan muda Jordan dari tempat penitipan anak." Seorang anak buah Jarod tiba-tiba masuk hingga membuat ucapan Dave terhenti.


"Dimana mereka sekarang?" Tanya Jarod panik.


"Di rumah sakit. Tuan muda Jordan baik-baik saja, tapi Nyonya Alina terluka parah." Jelas anak buahnya lagi.


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit!" Tawar Dave pada Jarod dan langsung diangguki oleh Jarod.


"Di rumah sakit mana?" Tanya Dave pada anak buah Jarod.


"Sama dengan rumah sakit Ken." Gumam Dave dan keluar terlebih dulu. Jarod segera menyusul Dave.


Dave mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman Jarod setelah mereka di dalam mobil.


"Darimana kau tahu jika istrimu benar-benar berkhianat? Apa kau sudah cari tahu semuanya?" Tanya Dave penasaran.


"Bukti sudah sangat jelas. Untuk apa aku mencari tahu?" Jawab Jarod angkuh.


"Lalu bagaimana jika kau salah? Bagaimana jika semua bukti itu adalah rekayasa? Kau yakin kau tidak akan menyesal?" Tanya Dave beruntun dan Jarod terdiam karena merasa tertampar dengan pertanyaan Dave.


Akhirnya keduanya hening hingga sampai di rumah sakit.


Jarod segera turun di susul Dave.


"Daddy.." Seorang anak kecil berambut pirang berusia sekitar dua tahun menangis dan berjalan menghampiri Jarod.


"Jordan, are you okay?" Tanya Jarod panik sedang Dave duduk di kursi tunggu, ia ingin menunggu sejenak hingga tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


Anak lelaki bernama Jordan itu mengangguk. Bicaranya belum terlalu lancar.


"Tuan, apa Tuan Ayahnya baby Jordan?" Tanya seorang wanita menghampiri Jarod.


"Benar. Ada apa? Kau siapa?" Tanya Jarod penasaran dengan perasaan tidak tenang.


"Aku yang selalu mengurus baby Jordan saat Ibunya bekerja. Baby Jordan selalu dititipkan kepadaku." Jelas wanita itu.


"Bekerja? Lalu dimana suaminya? Jika suaminya miskin pun, harta orang tuanya sangat banyak." Tanya Jarod bingung.


"Suami? Nyonya Alina tidak pernah membawa suaminya. Bahkan saat ditanya dia hanya menjawab kalau dia sudah bercerai. Tapi yang aku lihat, dia masih setia memakai cincin pernikahannya dan kalau tidak salah di cincin itu terukir nama Jarod." Jelas wanita itu dan membuat Jarod melemah.


Selama ini dia benar-benar sudah salah paham pada istrinya sendiri, wanita yang rela meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk seorang gangster seperti dirinya. Bahkan setelah bercerai pun, wanita itu rela banting tulang dan tidak ingin pulang kepada keluarganya yang kaya itu.


Jarod terduduk lemas di samping Dave sambil menggendong Jordan.


"Em..aku permisi Tuan. Masih banyak anak-anak yang harus aku urus." Ucap wanita itu dan pamit meninggalkan Jarod dan yang lainnya.


"Benarkan apa yang aku tanyakan padamu? Kau terlalu bodoh sebagai seorang gangster, Jarod. Kau...ah, sudahlah. Besok siang aku akan transfer semua kerugian yang disebabkan oleh Ayah Elviana. Dan setelah itu aku harap kau tidak mencari masalah lagi denganku atau orang-orang terdekatku. Jika kau mencari masalah lagi, aku tidak akan segan-segan menghancurkan dirimu." Ucap Dave yang tiba-tiba merasa tertampar dengan ucapannya sendiri saat mengingat bagaimana ia beberapa kali salah paham pada Arvina.


Dave beranjak meninggalkan Jarod yang sedang memeluk putranya. Ia berjalan menuju ke ruangan Ken.


"Sayang, kau darimana saja?" Tanya Arvina yang ternyata sedang duduk mendampingi Jeymian. Ada Liza juga yang kebetulan tadi mengunjungi temannya yang sedang sakit.


"Aku bertemu Jarod untuk negosiasi. Dan pada akhirnya dia malah ikut aku ke rumah sakit karena istrinya kecelakaan." Jawab Dave lemah lalu duduk di samping Arvina dan menyandarkan kepalanya pada pundak istrinya.


"Em..jangan terlalu bersedih. Yakinlah, Ken pasti bangun." Bujuk Arvina sambil mengusap rambut Dave.


Liza sedang berbincang kecil dengan Jeymian.


"Tuan Dave, kakakmu..."


...~ TO BE CONTINUE ~...


#######


Ah..kenapa aku merasa bab ini agak ngawur yah??

__ADS_1


__ADS_2