
"Dimana dia? Kenapa belum juga pulang jam segini?" Gumam Arvina bertanya cemas pada dirinya sendiri.
Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam, namun sejak perpisahan ia dan Dave di rumah sakit tadi siang, Dave sampai detik ini belum juga kembali ke rumah.
Arvina mondar-mandir gusar sambil menghubungi Dave namun selalu tidak dijawab.
"Pria ini kenapa selalu saja bertingkah seperti ini dan membuat orang khawatir?" Gerutu Arvina lagi
"Drick, sebaiknya aku hubungi Drick.." Gumam Arvina dan langsung menghubungi Drick.
Tutttt
Panggilan tersambung.
"Em..ada apa?" Drick menjawab dengan suara seraknya.
"Drick, apa kau tahu Dave dimana? Maksudku tempat yang akan ia kunjungi saat sedang merasa kecewa atau terluka?" Tanya Arvina beruntun.
Drick diam sejenak mungkin sedang berpikir.
"Aku tidak terlalu tahu. Tapi biasanya jika dia sedang down, dia akan pergi ke DAVEIL untuk minum-minum." Jelas Drick malas.
"Ya sudah, terima kasih. Maaf mengganggumu malam-malam begini." Ucap Arvina.
"Ini bukan malam-malam Nona. Ini sudah tengah malam bahkan beberapa jam lagi akan subuh dan aku baru saja istirahat " Gerutu Drick dengan malas dan kesal bercampur satu, langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Arvina tidak ingin menunggu lama dan segera mengganti pakaian.
Setelah itu ia segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah lalu mengambil kunci mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju ke DAVEIL.
Karena jalanan yang sudah sepi, Arvina bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tiga puluh menit akhirnya ia sampai di DAVEIL.
"Nyonya!" Sapa kedua anak buah Dave yang menjaga di depan pintu club tersebut.
"Jangan basa basi! Aku ingin bertemu suamiku!" Ucap Arvina tegas.
"Tuan Dave tidak ke sini Nyonya. Bahkan sudah lama sekali Tuan Dave tidak ke sini." Jelas salah satu anak buah Dave.
"Kalian yang benar saja! Jangan membohongiku!" Ketus Arvina tak percaya.
"Nyonya Alexon yang terhormat, istri kesayangan Tuan Dave, untuk apa kami berbohong? Tuan Dave sungguh tidak datang ke sini. Jika tidak percaya, masuklah dan periksa sendiri!" Ujar anak buah Dave lagi.
"Lalu kemana dia?" Gumam Arvina khawatir.
"Mungkin Tuan ke pantai dan sedang berenang dengan ikan hiu, Nyonya." Ujar seorang yang lain terkekeh.
Arvina menatap tajam kepada kedua orang itu.
Arvina masuk kembali ke dalam mobilnya sambil berpikir mungkin Dave pernah menyebutkan satu tempat khusus yang akan ia kunjungi saat sedang kecewa dan terluka.
Sayangnya otak Arvina terasa buntu dan sama sekali tidak mendapat jawaban.
Arvina perlahan mengendarai mobilnya menelusuri setiap sudut jalanan kota Sydney dan berusaha untuk menemukan suaminya.
"Kemana dia sebenarnya?" Batin Arvina semakin khawatir.
"Bukankah itu?" Gumam Arvina mencoba menajamkan penglihatannya saat melihat sebuah mobil yang terparkir di tepi jalanan.
__ADS_1
"Mobil Dave." Gumam Arvina dan segera berhenti di tempat mobil Dave terparkir.
"Komplek pemakaman?" Gumam Arvina bingung saat melihat ternyata yang ada di depannya adalah komplek pemakaman.
Tidak ingin mengulur waktu, Arvina segera turun dan membawa mantel Dave.
Arvina berjalan masuk ke dalam komplek pemakaman itu dan berusaha untuk menemukan Dave hanya dengan berbekal lampu senter ponselnya.
Hampir setengah jam mencari akhirnya Arvina melihat keberadaan Dave.
Dengan segera Arvina menghampiri suaminya itu.
"Dave.." Lirih Arvina saat melihat Dave berbaring di samping makam seseorang.
"Kau di sini?" Tanya Dave tersenyum getir.
"Em.." Jawab Arvina lembut dan duduk di samping Dave lalu menutup tubuh Dave dengan mantel yang ia bawa.
"Ada apa?" Tanya Dave pelan.
"Tidak. Hanya saja aku khawatir karena kau sama sekali tidak pulang dari siang." Jawab Arvina mengalasi kepala Dave dengan pahanya lalu mengelus lembut rambut Dave.
"Aku tidak apa-apa. Hanya merindukan dia." Ujar Dave dengan satu tangan menyentuh makam di sampingnya.
Arvina memperhatikan makam yang disentuh Dave. Makam tersebut terawat dengan baik dan rapi, berbeda sekali dengan makam-makam lainnya.
"Jadi dia pahlawan dalam hidupmu?" Tanya Arvina menatap dalam suaminya.
Dave mengangguk.
"Hai uncle, aku Vina. Aku istrinya bayi besar ini. Ah, dia membuatku lelah karena mencarinya kemana-mana. Maaf karena kami menikah tanpa dirimu. Aku janji akan menjaga dan mencintainya sebaik mungkin." Ucap Arvina berbicara kepada makam paman Dave, seolah sedang berbicara dengan orangnya langsung.
"Kau sudah melakukan yang terbaik sayang." Ucap Dave tersenyum.
Keduanya hening sejenak.
Arvina sedang berpikir, apa ini waktu yang tepat untuk ia memberitahu Dave tentang Ken.
"Sayang.." Panggil Dave lembut membuyarkan lamunan Arvina.
"Em.." Arvina berdehem lembut sebagai jawaban.
"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?" Tanya Dave ragu.
"Apa?" Arvina kembali bertanya sebagai jawaban.
Dave terdiam sejenak kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
"Ajari aku cara memaafkan!" Ucap Dave pelan sangat pelan hingga hampir tidak terdengar.
"Kau yakin?" Tanya Arvina.
Dave hanya mengangguk pelan.
"Sayang, kau tidak perlu memaksakan diri jika belum siap." Bujuk Arvina.
Arvina juga tidak ingin jika Dave mengambil keputusan terburu-buru dan melakukan semuanya dengan tidak tulus.
Dave menggeleng.
__ADS_1
"Aku memikirkan semua perkataanmu seharian. Dan aku memikirkan semua yang aku lakukan selama ini. Dan kau memang benar, aku selalu menyesal diakhir karena mempertahankan ego dan amarahku." Ucap Dave pelan.
Arvina bisa merasakan betapa rapuhnya Dave saat ini dari nada bicara dan suaranya. Tidak ada tatapan tajam yang selalu Dave tonjolkan selama ini.
"Jadi kau yakin?" Tanya Arvina memastikan.
Dave mengangguk.
"Aku ingin mencoba. Walau aku tidak yakin akan berhasil, tapi aku ingin mencoba." Ujar Dave pelan.
"Baiklah. Aku akan membantumu." Sahut Arvina tersenyum lembut.
Mereka kembali hening.
"Sayang, ini sudah berganti hari. Tidak ingin pulang?" Tanya Arvina perhatian.
Dave bangkit dari baringnya dan duduk di samping Arvina.
Dengan lembut Dave meraih tengkuk Arvina dan mengecap lembut bibir candunya itu.
"Terima kasih. Di saat seperti ini, kau masih bertahan untukku." Ucap Dave memeluk lembut istrinya.
"Jangan menyerah Dave. Aku ada untukmu. Aku akan mendukungmu meski mungkin itu salah tapi terbaik menurutmu. Kita adalah suami istri." Ucap Arvina mengusap lembut punggung suaminya.
"Sekarang ayo kita pulang, kau pasti belum istirahat seharian." Ajak Arvina setelah pelukan mereka lepas.
Dave mengangguk dan Arvina menuntunnya untuk berdiri. Mereka pun keluar meninggalkan komplek pemakaman itu.
"Dave, aku saja yang menyetir. Kau istirahat saja." Titah Arvina lembut.
Dave mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Arvina juga masuk ke dalam bagian kemudi.
Arvina pun menjalankan mobilnya perlahan untuk kembali ke mansion mereka.
Selang waktu hampir dua jam akhirnya mereka sampai di mansion mereka.
Arvina dan Dave segera turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion langsung menuju ke kamar mereka.
"Mau mandi? Biar aku siapkan air hangat." Tawar Arvina.
Dave mengangguk dan Arvina segera masuk ke kamar mandi dan mengisi bathup dengan air hangat.
Setelah di rasa cukup, Arvina keluar dan Dave segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setengah jam kemudian Dave keluar dan mengeringkan tubuhnya lalu mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Arvina.
Dave naik ke atas ranjang dan berbaring sambil memeluk Arvina yang sedang duduk.
"Mau makan sesuatu?" Tanya Arvina perhatian.
Dave menggeleng dan memilih memejamkan matanya.
"Tidurlah! Semuanya akan lebih baik setelah kau bangun nanti." Ucap Arvina mengelus lembut rambut Dave.
Perlahan Dave akhirnya terlelap.
"Dengan orang tuamu saja kau sekeras ini. Bagaiamana jika nanti kau tahu kalau Ken adalah kakak mu? Apa kau bisa menerimanya?" Batin Arvina gusar.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1