
"K Ken, rasanya aku ingin ke kamar mandi." Pinta Arzena karena Ken masih memeluknya dengan erat sepanjang malam.
"Engh..." Ken melenguh dan perlahan membuka matanya.
"Ada apa?" Tanya Ken lagi.
"A aku ingin ke kamar mandi." Pinta Arzena dengan suara terbata karena menekan rasa takutnya.
Ken kemudian bangun dari tidurnya, lalu duduk dan melepaskan ikatan yang ada di tangan Arzena.
"Kamar mandinya di sana." Tunjuk Ken pada satu sudut ruangan dengan lampu menyala dari dalam.
Arzena segera turun dari ranjang dan berjalan sedikit berlari ke kamar mandi. Ia memang mendapat panggilan alam.
"Haish..kenapa kamar mandi ini tidak ada celah sedikitpun?" Gerutu Arzena sambil memperhatikan setiap sudut kamar mandi yang sama sekali tidak ada celah yang bisa dia gunakan untuk kabur.
Selesai menuntaskan hajatnya, terpaksa ia harus kembali ke dalam kamar.
Ken tersenyum manis menunggunya, namun senyum itu terlihat menakutkan.
"Kemarilah sayang!" Ken melambaikan tangannya memanggil Arzena.
Mau tidak mau Arzena menurut.
Setelah naik dan duduk di atas ranjang, Ken langsung menarik Arzena ke dalam pelukannya.
"K Ken, kau mau apa?" Tanya Arzena terbata saat Ken mencium lehernya.
"Aku menginginkanmu!" Jawab Ken dan langsung melahap bibir mungil Arzena.
Tangan Ken bergerak bebas menjamah tubuh Arzena.
"Em..K Ken, aku..ti..dak ***..eh..!" Arzena berusaha untuk berbicara karena Ken menyerang bibirnya tanpa memberi celah.
Ken menghentikan aksinya sejenak.
Arzena mencoba tersenyum semanis mungkin.
"Maaf Ken, aku tidak bisa melayanimu! Dokter tidak mengijinkan diriku untuk berhubungan selama masa kehamilan ku. Itu akan berdampak buruk untuk bayi kita." Ucap Arzena dengan memasang wajah memelas.
Ekspresi wajah Ken sangat sulit di jelaskan.
"Aku minta maaf sayang. Tapi ini untuk kebaikan bayi kita juga." Arzena mencoba bersandiwara seapik mungkin agar Ken percaya.
"Baiklah. Tapi setelah mereka lahir, jangan menolakku!" Titah Ken tanpa rasa malu.
Arzena hanya mengangguk dan mencoba tersenyum semanis mungkin.
"Ya sudah, aku akan keluar membeli makanan untukmu." Ujar Ken hendak keluar dari kamarnya.
"Bolehkah aku ikut keluar? Maksudku ikut mengantarmu sampai di depan pintu saja." Bujuk Arzena.
Ken sejenak berpikir.
__ADS_1
"Baiklah, tapi tidak melewati pintu!" Jawab Ken.
Arzena mengangguk.
Ken meraih tas kecilnya dan juga mengenakan hoodienya lalu keluar dari kamar diikuti Arzena sengaja menggandeng tangannya mesra.
"Hati-hati sayang." Arzena juga berinisiatif memeluk bahkan memberi kecupan pada pipi Ken.
"Aku pergi." Pamit Ken dan langsung melangkah pergi tanpa ingat untuk mengunci pintu rumahnya.
Arzena mengintip dari balik jendela yang tertutup oleh tirai untuk memastikan Ken benar-benar menjauh.
Ken bukan orang yang ahli melakukan kejahatan, maka dari itu dia bisa sangat tidak teliti.
"Saatnya aku kabur! Semoga saja aku tidak kembali tertangkap." Gumam Arzena dan langsung keluar dari rumah sederhana itu.
Arzena menelusuri arah jalan yang di ambil Ken tadi sambil memastikan Ken benar-benar tidak sadar akan keberadaannya.
Ken benar-benar tidak sadar akan kehadiran Arzena yang mengikutinya dan langsung saja ia melenggang masuk ke dalam salah satu pasar tradisional yang ada di tempat itu.
Arzena segera melewati pasar itu dan mempercepat langkahnya karena ia sudah melihat jalan raya.
"Sedikit lagi." Gumam Arzena karena mulai merasa lelah.
Arzena sudah berada di jalan raya, namun ternyata jalanan tersebut tidak seramai yang ia harapkan sedangkan rasa lelah semakin menyerangnya.
"Aku harus bisa! Jangan menyerah Arzena, jangan! Twins, kita harus bisa!" Gumam Arzena terus melangkah sedangkan penglihatannya mulai kabur.
Ia terus melangkah dan melangkah untuk mencari pertolongan.
Akhirnya Arzena jatuh pingsan.
Sebelum Arzena benar-benar hilang kesadaran ia melihat seorang pria berlari ke arahnya dan samar-samar masih mendengar suara pria itu.
"Zena..Arzena..are you okay? Oh shit..what happened to you?" Tanya pria itu dan Arzena juga bisa merasakan tubuhnya di bopong pria itu.
•••••••••••••
Jika Arzena mungkin saja sudah berhasil lepas dari cengkraman Ken, maka Arvina berbeda.
Arvina ternyata di bawa Aston ke kastilnya yang berada di satu pulau terpencil dan tak berpenghuni. Hanya ada Aston dan dirinya juga beberapa pengawal serta pelayan.
"Makan makananmu!" Titah Aston karena sedari tadi Arvina hanya diam dan melotot padanya.
"Apa salahku Tuan Aston? Kenapa kau harus menculik ku seperti ini?" Tanya Arvina memelas.
"Kau tidak punya salah. Salahkan aku yang terlalu ingin memilikimu." Jawab Aston santai.
Arvina mendengus kesal dan menggosok hidungnya dengan telunjuknya.
"Lalu kau akan mengurungku selamanya?" Tanya Arvina kesal.
"Jika kau sudah mencintaiku dan menggantungkan hidupmu padaku, aku akan memberimu kebebasan terikat." Jawab Aston lagi.
__ADS_1
Arvina memutar malas matanya.
"Boleh aku meminta ponselku?" Tanya Arvina menadahkan tangannya.
"Sure!" Aston mengeluarkan ponsel Arvina dari dalam saku celananya dan memberikan kepada Arvina.
Arvina menerima dengan senang hati.
"What the ... hei, kenapa tidak ada jaringan sama sekali?" Bentak Arvina hampir memaki.
Aston tersenyum sinis.
"Sekali lagi, aku akan memberimu jaringan atau apapun itu setelah kau mencintaiku dan menggantungkan hidupmu padaku!" Tegas Aston.
"Kau gila!" Bentak Arvina dan langsung meninggalkan meja makan begitu saja.
Arvina meninggalkan Aston dan kembali masuk ke dalam kamar.
"Sialan! Dia pikir dia siapa? Cinta? Apa dia pikir mencintai seseorang itu semudah membalikkan telapak tangan? Arghh..aku bisa gila.." Celoteh Arvina kesal dan berjalan mondar mandir di balkon luar kamar.
"Tuhan, cabut saja nyawaku! Aku bosan dengan belenggu gila dari para pria gila ini!" Pinta Arvina setengah berteriak.
Dulu Dave yang kini adalah suaminya, dan sekarang malah Aston yang entah darimana asal usulnya.
"Jika tahu hidupku akan menjadi penuh bahaya seperti ini, sebaiknya aku tidak perlu sama sekali datang ke negara ini untuk magang. Bodoh..!" Arvina kembali mengomel sendirian.
Arvina tiba-tiba merasakan seseorang memeluknya dari belakang, siapa lagi kalau bukan Aston.
"Menyerahlah! Cintai aku sedikit saja, maka aku memberimu kebahagiaan!" Titah Aston namun suaranya terdengar menyakitkan.
"Tuan Aston, apa kau tidak bisa mencari perempuan lain saja? Perempuan yang tidak di miliki orang lain!" Tanya Arvina berusaha membujuk.
"Tidak. Tidak ada perempuan setulus dirimu. Kau adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang tidak takut padaku selain para jalang yang hanya mengincar harta dan kenikmatan dari ku." Ujar Aston masih dengan nada menyiratkan luka.
"Kau menyamakan ku dengan wanita jalang?" Tanya Arvina meninggikan suaranya.
Aston kini membalikkan tubuh Arvina berhadapan dengannya.
"Tidak! Kau istimewa untukku. Aku menginginkanmu lebih dari itu. Aku menginginkan hati dan cintamu juga!" Jelas Aston.
"Apa yang membuatmu seperti ini? Kau pernah terluka?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Arvina.
Aston tersenyum dan duduk di kursi yang tersedia di balkon itu jika ingin bersantai. Ia juga menarik Arvina untuk duduk di atas pangkuannya dan membawa tangan Arvina merangkul lehernya.
"Sungguh kau ingin mendengar ceritaku?" Tanya Aston menatap dalam kedua manik teduh itu.
Sesekali tangannya bergerak bebas mengelus dan memainkan rambut panjang Arvina.
Saat seperti ini, tidak terlihat sedikitpun sisi menyeramkan dari seorang Aston.
"Terserah kau ingin bercerita atau tidak! Aku tidak mengharapkan!" Jawab Arvina ketus.
"Baiklah, aku akan memaksamu mendengarnya!" Ucap Aston tersenyum.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...