TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Masa lalu


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya seorang pria yang menyelamatkan Arzena kemarin tadi pagi.


"Istri anda baik-baik saja Tuan. Jangan khawatir." Jawab sang dokter tersenyum.


"Woo..wait, she is not my wife!" Ujar pria itu membuat sang dokter merasa tidak enak hati dan memilih untuk pamit undur.


Sepeninggal dokter tersebut, pria itu mendekati Arzena yang masih terlelap. Entah karena masih pingsan atau karena kelelahan.


"Kau ternyata sangat cantik saat hamil begini Zena..Dimana suamimu? Apa kau kemarin lari karena dia menyiksamu?" Pria itu bergumam dengan beberapa pertanyaan.


"Jika saat itu aku tidak melakukan kesalahan, mungkin Ayah dari anak di dalam rahimmu saat ini adalah aku." Pria itu menimpali dengan tersenyum.


"Engh..." Arzena melenguh perlahan dan membuka matanya.


Orang pertama yang Arzena lihat adalah pria itu.


"Arthur? Kau? Aku? Kita dimana?" Tanya Arzena berusaha untuk bangun.


"Woo..Hati-hati Zena. Kondisimu saat ini masih lemah." Jawab Arthur membantu Arzena.


"Bayiku?" Arzena meraba-raba perut buncit nya yang masih terasa buncit.


"They are fine. Kau juga baik-baik saja." Jawab Arthur.


"Art, terima kasih kau membantuku." Ucap Arzena tulus.


"Santai saja. Tapi lebih baik sekarang kau hubungi suamimu, atau suamimu yang membuatmu berlari ketakutan seperti itu tadi?" Tanya Arthur penasaran.


"Bukan! Aku diculik seseorang! Boleh aku meminjam ponselmu?" Jawab Arzena disertai pertanyaan.


"Sure." Arthur pun memberikan ponselnya kepada Arzena.


Arzena segera mengetik sederet nomor yang adalah nomor ponsel Hansen.


Tuttt....


Panggilan tersambung.


"Hallo?" Hansen menjawab panggilan itu.


"Hans, ini aku, Zena! Bisa kau menjemputku? Nanti akan ku jelaskan." Ujar Arzena sedikit takut.


"Baik sayang, kau dimana?" Tanya Hansen panik.


Arzena memberikan ponsel Arthur kepadanya.


"Istrimu berada di rumah sakit ... tadi aku membawanya kemari karena dia kutemukan pingsan di jalanan." Ucap Arthur menjawab pertanyaan Hansen.


"Baik. Terima kasih Tuan." Hansen langsung mematikan panggilan itu.


Mereka menunggu dalam diam, Arthur sesekali melirik ke arah Arzena sedangkan Arzena memeluk lututnya sambil melihat sekitarnya seperti orang yang sedangkan ketakutan.


"Sayang.." Hansen yang baru sampai langsung berlari memeluk istrinya.


Arzena pun membalas pelukannya dengan sangat erat.


"Kalian tidak apa-apa kan?" Tanya Hansen khawatir sambil melepas pelukannya.


Arzena hanya menggeleng namun tangannya mencengkram erat baju Hansen seperti orang yang meminta pertolongan.

__ADS_1


"Sudah, semua aman sekarang. Aku janji setelah ini aku akan menambahkan pengawal tambahan untuk kalian." Bujuk Hansen menenangkan istrinya.


"Um..Tuan terima kasih sudah menolong istriku." Ucap Hansen melirik ke arah Arthur.


Arthur hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kita pulang sekarang?" Tanya Hansen lembut.


Arzena mengangguk pelan.


Hansen berinisiatif menggendong istrinya.


"Tuan Hans, aku minta maaf!" Pinta Arthur tiba-tiba.


Hansen berbalik dengan tatapan bingung.


"Aku minta maaf karena menjadi orang pertama yang merusak istrimu. Aku minta maaf karena aku menjadi pria yang merenggut keperawanannya. Dan aku minta maaf karena menjadi pria bodoh yang mengkhianatinya dan memilih wanita lain." Ucap Arthur menunduk.


Arthur adalah mantan kekasih Arzena. Mereka bertemu saat Arzena sedang hangout bersama teman-temannya sewaktu masih di London. Arthur juga yang mengambil keperawanan Arzena ketika mereka masih di London. Dan sekali lagi Arthur jugalah alasan Arzena membohongi keluarganya dan datang ke Australia dengan alasan kontrak rekaman.


"Maaf Tuan, aku rasa seharusnya kau tidak perlu mengatakan itu semua karena itu adalah masa lalu kalian. Tapi karena kau sudah mengatakannya, aku hargai keberanianmu. Permintaan maafmu aku terima, dan jadilah pria yang lebih baik untuk keluarga mu!" Hansen dengan senyuman tulus dan Arzena sekali lagi dibuat terbaru oleh suaminya.


Hansen pun segera meninggalkan ruangan itu bahkan rumah sakit itu.


"Kau aman sekarang sayang. Jangam takut lagi." Ucap Hansen masih menggendong istrinya. Hansen kali ini memilih membawa sopir.


Tak lama mereka pun sampai di rumah.


Arzena bisa melihat pengawal di rumah mereka bertambah tiga kali lipat memenuhi setiap sudut rumah mereka.


"Apa ingin makan sesuatu?" Tanya Hansen lembut dan kini mereka sudah berada di dalam kamar mereka.


"Ada apa?" Tanya Hansen khawatir.


"Bersihkan kotoran yang ditinggalkan bangsat itu dari tubuhku!" Pinta Arzena terisak.


"Dia menyakitimu?" Tanya Hansen geram.


Arzena menggeleng "Tapi dia berusaha menyetubuhi ku!" Jawab Arzena terisak.


"Baiklah, aku akan membersihkan semuanya." Ujar Hansen.


Hansen melucuti semua pakaian istrinya dengan lembut.


Hansen mulai mencium lembut bibir Arzena dan mengeksplor isinya.


Ciumannya kini turu ke area leher dan tangannya bergerak bebas menjamah tubuh polos Arzena untuk pertama kalinya.


"Ehm..Hans.." Arzena melenguh erotis saat Hansen mengulum bukit kembarnya.


Puas dengan bukit kembar Arzena, Hansen mulai mejamah yang lainnya, namun setelah itu ia menghentikan aksinya.


"Sayang, kenapa berhenti?" Tanya Arzena dengan kecewa.


Hansen tersenyum manis.


"Kita bisa lakukan nanti setelah twins lahir. Saat ini aku. tidak ingin menyakiti kalian. Kalian harus sehat dan kuat!" Ucap Hans mengecup kening istrinya.


Walau kecewa, namun Arzena tetap bahagia karena Hansen benar-benar memperlakukan dirinya dengan sangat baik.

__ADS_1


"Sekarang kau mandi dulu, dan aku akan membuatkan makanan untuk kalian." Titah Hansen mengecup kening Arzena lagi kemudian perut buncit Arzena.


Arzena mengangguk dan segera turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.


Hansen turun ke dapur setelah menyiapkan pakaian ganti untuk istrinya.


•••••••••••••••••


"Bagaimana Drick? Apa tidak bisa sama sekali melacak keberadaan Arvina?" Tanya Dave khawatir.


Drick menggeleng.


"Tidak bisa bos! Aku sudah mencari dengan berbagai cara, tapi tidak bisa juga." Jawab Drick gusar.


Penampilan Dave dan Drick sama berantakan.


"Bangsat! Siapa sebenarnya yang melakukan ini? Apa mau nya?" Geram Dave frustasi.


"Kau tahu yang menculikku itu seorang pria. Matanya rusak satu dan di keningnya terdapat bekas sayatan pisau yang cukup panjang."


Kalimat yang sempat diucapkan Arvina saat Dave kritis di rumah sakit itu, tiba-tiba terekam kembali dalam ingatan Drick.


"Bos, aku rasa ini ada kaitannya dengan pria mata satu itu. Kau ingat? Saat kau kritis di rumah sakit, Arvina pernah mengatakan bahwa dia sempat di culik oleh seorang pria yang matanya rusak dan terdapat bekas sayatan du keningnya." Ungkap Drick.


"Bangsat! Dia lagi? Kenapa tidak habis-habisnya mencari masalah dengan ku?" Tanya Dave geram.


"Tidak bisa begini! Aku kali ini harus meminta bantuan ekstra." Ucap Dave lalu mengeluarkan ponsel barunya dan menghubungi seseorang.


"Uncle Ke, aku butuh bantuan!" Ujar Dave tanpa basa basi membuat Drick terkejut.


" ... "


"Arvina di culik dan aku juga Drick tidak bisa sama sekali menemukan keberadaannya." Jelas Dave mengeratkan rahangnya.


" ... "


"Terima kasih uncle, aku tunggu." Panggilan pun berakhir.


"Kau meminta bantuan Keanu?" Tanya Drick tak percaya.


"Aku tidak punya pilihan. Keanu handal dalam menemukan seseorang, ia juga dikenal sebagai salah satu anggota gangster terpintar saat itu." Jelas Dave gusar.


"Baiklah, semoga saja dengan Keanu turun tangan kita akan secepatnya menemukan Arvinamu." Ucap Drick menenangkan Dave.


••••••••••••••


"SIAL!" Teriak Ken frustasi.


Dari tadi pagi sepulangnya dari pasar, Ken mengamuk tiada henti karena Arzena kabur.


"Wanita murahan! Ular! Lihat bagaimana aku akan menghukummu nanti!" Ucap Ken meradang.


BRANGG


Ken memukul cermin di dalam kamarnya dengan kayu balok hingga cermin itu pecah berantakan.


"Kau menggali kuburmu sendiri Arzena. Lihat saja nanti bagaimana aku akan mengantarmu menuju kuburmu!" Ucap Ken dengan senyuman menakutkan di wajahnya.


......~ TO BE CONTINUE ~......

__ADS_1


__ADS_2