
"Bagaimana ini? Sudah jam sembilan malam tapi twins belum juga kembali." Tanya Arzena khawatir.
Mereka saat ini sedang berkumpul di ruang keluarga, bahkan mereka rela melewatkan makan malam karena mengkhawatirkan Arvina.
"Apa sudah ada kabar dari orang yang kau mintai bantuan?" Tanya Zevina pada suaminya.
"Belum ada. Mereka sedang memantau dibeberapa titik namun tidak ada hasil." Jawab Darvin sambil memijat pangkal hidungnya.
"Begini saja, aku akan keluar mencarinya Vina. Tidak ada tempat yang pasti, tapi aku akan berkeliling untuk mencarinya." Usul Arzevin.
"Aku setuju. Aku juga ikut." Ujar Arzena.
"Tidak! Kau sebaiknya dirumah." Ucap Arzevin.
"No! Please, aku harus ikut. Aku juga khawatir pada twins." Pinta Arzena memelas.
"Baiklah baik. Kita berangkat sekarang!" Arzevin pun segera mengambil kunci mobilnya dan mereka pun masuk kedalam mobil lalu Arzevin segera melajukan mobilnya pergi.
Mereka mengitari setiap sudut jalanan kota, mulai dari yang ramai hingga yang sepi.
•••••••••••••••
"Engh..." Arvina melenguh pelan ketika ia perlahan sadar dari pengaruh obat tidur yang Aston suntik kan padanya.
"Aku dimana?" Gumam Arvina menelisik ruangan tempat ia berada sekarang.
Arvina dibaringkan didalam sebuah kamar yang redup cahayanya.
Pandangannya menangkap sebuah foto berukuran besar terpasang berhadapan dengan ranjang tempat ia duduk sekarang.
Itu adalah foto Aston saat wajah dan matanya masih normal.
"Bukankah dia?" Gumam Arvina mencoba mengingat semuanya.
"Dia yang membawaku kesini." Gumam Arvina lagi.
Segera ia turun dari ranjang dan berjalan dengan pelan menghampiri pintu kamar. Ia mencoba membuka pintu kamar tersebut dan rupanya tidak terkunci.
Ia melangkah dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, takut jika ada yang mendengar.
Namun ternyata rumah Aston sangatlah sepi, bukan hanya pelayan, bahkan pengawal satupun tidak kelihatan.
Dengan langkah seribu Arvina segera berlari menuju pintu keluar dan ia berhasil keluar dari rumah itu.
Ia berlari dengan pasti untuk bisa mencapai jalan raya dan berharap ada yang bisa ia mintai pertolongan.
Terus dan terus ia berlari sambil sesekali melihat kearah belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejarnya.
__ADS_1
"Sial!" Arvina menggerutu saat melihat sebuah mobil hitam semakin mendekat padanya.
Arvina tidak ingin menyerah begitu saja. Ia terus saja berlari walau kakinya sudah berdarah karena ia tidak menggunakan alas kaki.
Teett teett
Mobil tersebut membunyikan klaksonnya namun Arvina tetap berlari.
Setidaknya ia sudah berusaha walau pada akhirnya terus akan tertangkap, pikirnya.
Cittt Kyatttt
Mobil tersebut tiba-tiba saja sudah membanting setir kekiri dan mengerem mendadak membuat Arvina sontak terjatuh karena tidak ada persiapan.
"Menjauh dari ku!" Titah Arvina sambil menggerakkan tangannya seolah sedang memukul.
"Maaf Nona, tapi aku harus membawamu kembali." Suara seorang pria terdengar.
"Apa salahku? Aku bahkan tidak mengenalmu." Ketus Arvina masih dengan posisi yang sama.
"Salahmu adalah kau sudah meninggalkan rumah dan membuat semua orang khawatir. Dan apa aku tidak salah dengar? Kau tidak mengenalku? Kakakmu sendiri?" Gerutu pria itu lagi yang ternyata adalah Arzevin.
Arvina memberanikan diri untuk menatap siapa yang sedang berbicara sebenarnya.
"Kak Ar?" Arvina langsung bangkit dan berlari memeluk erat kakaknya.
Arzevin pun menuntun Arvina masuk ke dalam mobil.
"Kau tidak apa-apa? Kau membuat kami semua khawatir." Celoteh Arzena.
"Maaf, aku bukan sengaja. Tadi aku duduk di taman bermain dekat rumah kita dan tidak sengaja bertemu dengan seorang pria. Saat aku hendak pergi, dia menyerang ku dari belakang." Jelas Arvina dengan suara bergetar.
"Sudah sudah. Yang penting kau sudah aman." Arzevin menimpali.
Ia pun segera menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan Arvina sesekali menengok kebelakang, takut ada yang membuntuti mereka hingga ke rumah.
Tak berselang lama mereka pun sampai di rumah.
"Mom.." Arvina langsung berlari memeluk Zevina.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Zevina khawatir.
Arvina hanya terisak.
"Dia tadi diculik. Untung saja dia sendiri berhasil kabur hingga keluar jalanan." Jelas Arzevin.
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti ini? Astaga. Tapi yang terpenting kau sudah aman." Gerutu Darvin menahan amarahnya.
"Kenapa selalu saja ada yang ingin mengganggu ketenangan hidup keluargaku?" Gumam Darvin mengepalkan tangannya.
"Ya sudah, kau bersihkan dulu badanmu. Zena, bantu kakakmu mengobati kakinya." Titah Zevina pada kedua putrinya.
Arzena pun menuntun kakaknya untuk naik ke kamar mereka.
••••••••••••••
"Sayang, aku pulang!" Teriak Aston yang baru saja sampai ke rumahnya.
Ia sedang dalam keadaan mabuk dan tangannya juga membawa sebotol minuman keras.
Sambil ia berjalan sempoyongan dan menenggak minumannya, ia menuju ke kamarnya.
"Hei, sayang. Apa kau masih tidur? Heh.." Tanya Aston terkekeh.
Seketika matanya membulat saat tak mendapati Arvina berada di dalam kamarnya.
"Bangsat!" Teriak Aston melempar botol minuman yang ia pegang tadi hingga pecah berantakan.
Ia berlari ke setiap ruangan di dalam rumahnya untuk mencari Arvina, namun nihil.
"Awas saja kau Arvina! Kali ini kau bisa kabur, tapi lain kali aku tidak akan membiarkan lari dari ku!" Gumam Aston mengepalkan tangannya kuat.
•••••••••••••••
Sydney, Australia
Hansen dan Drick sedang mondar-mandir gelisah, pasalnya satu jam yang lalu kondisi Dave kembali drop bahkan detak jantungnya sempat terhenti.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" Gumam Hansen.
"Drick, besok aku akan pergi ke London untuk menjemput Arvina. Dia di sana juga pasti sedang menunggu kabar dari kita. Dia harus tahu kondisi Dave yang sebenarnya." Ujar Hansen mengambil keputusan.
Drick mengangguk.
"Kau pergilah! Aku akan menjaga Tuan Dave disini!" Ujar Drick menyanggupi.
"Tidak! Aku akan berangkat sore ini juga. Tidak bisa menunggu hingga besok." Gumam Hansen.
"Aku pamit. Semoga saja Dave bisa bertahan dan akan segera pulih setelah Arvina kemari." Ucap Hansen kemudian melangkah meninggalkan rumah sakit.
"Semoga saja semua tidak terlambat dan baik-baik saja." Gumam Drick menatap kepergian Hansen.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1