
Dua Bulan Kemudian
"Engh.." Arvina melenguh pelan dan perlahan tersadar dari tidurnya.
"Suamiku semakin hari semakin tampan." Gumam Arvina mengelus rahang kokoh Dave.
"Em.." Dave berdehem pelan seakan sesuatu mengganggu tidurnya.
"Hu ... "
Dave tiba-tiba saja menutup mulutnya dan dengan cepat ia turun dari ranjang lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Huekkk...Huekk...
Dave memuntahkan seluruh isi perutnya.
Arvina seketika merasa panik dan langsung menyusul suaminya.
"Sayang, ada apa?" Tanya Arvina khawatir sambil memijit tengkuk Dave pelan.
"Aku tidak tahu." Jawab Dave kemudian bersandar pada dinding kamar mandi.
"Apa kau masuk angin? Tapi kita tidak melakukan apapun tadi malam, dan kita berpakaian lengkap." Ujar Arvina menerka-nerka.
"Sudahlah, mungkin hanya masuk angin biasa." Sahut Dave tidak ingin membuat istrinya cemas berlebihan.
"Aku ingin mandi saja!" Ucap Dave sambil berdiri.
"Kita mandi bersama!" Sahut Arvina dan langsung menutup pintu kamar mandi tanpa menunggu persetujuan Dave.
Mereka pun mandi bersama tanpa melakukan apapun.
Setengah jam kemudian mereka selesai dengan ritual pagi mereka dan keluar dari kamar mandi.
Arvina segera berlari kecil menuju lemari dan memilih pakaian dengan warna senada untuknya dan Dave.
"Sayang, no! Kenapa harus warna merah muda?" Protes Dave.
"Ayolah! Kau belum pernah mengenakan pakaian berwarna merah muda." Rengek Arvina memelas bahkan matanya langsung berkaca-kaca.
"Baiklah baik." Ucap Dave pasrah dan Arvina langsung saja tersenyum ceria.
Mau tidak mau Dave akhirnya memakai kaos berwarna merah muda yang Arvina pilihkan untuknya, sedangkan Arvina mengenakan dress lengan buntung berwarna senada.
"Sudah? Ayo kita turun! Aku lapar sekali." Ajak Arvina menggandeng mesra lengan kekar suaminya.
Mereka pun segera keluar dari kamar menuju ruang makan.
"Hahaha..." Terdengar gelak tawa dari beberapa orang yang sudah berkumpul di ruang makan.
Orang-orang itu tak lain adalah Hansen dan Drick.
Mereka memang akan menginap di mansion Dave setiap akhir pekan bersama istri mereka.
Dave melayangkan tatapan kesal pada kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Jangan menertawai suamiku! Kalian cari mati ya?" Titah Arvina kesal.
Hansen dan Drick seketika menciut.
"Ada apa dengan mereka pagi ini?" Gumam Drick menatap Hansen bingung.
Hansen hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
Dave dan Arvina duduk di tempat mereka.
"Dimana Daddy ku?" Tanya Dave bingung.
"Uncle sedang keluar. Katanya ingin mengunjungi Ken dan mengajaknya pulang ke sini untuk istirahat sejenak. Uncle rindu pada kakakmu itu." Jawab Hansen sambil mengunyah makanannya.
Dave mengangguk pelan.
"Sayang, aku ingin itu." Pinta Dave menunjuk roti dengan selai strawberry milik Arvina.
"Bukannya kau tidak suka pada strawberry?" Tanya Arvina heran tapi tetap memberikan roti miliknya pada Dave.
"Entahlah. Melihatmu memakannya, aku jadi ingin juga." Jawab Dave langsung menyantap roti itu dengan lahap.
"Sepertinya ada yang akan sepertimu sebentar lagi, sayang." Bisik Raina pada Drick.
Drick tersenyum jahil dan meletakkan telunjuknya di depan bibirnya memberi kode agar Raina diam.
Dave menyantap semua makanan sejenis dengan yang Arvina santap.
"Oh ya, Zena apa jenis kelamin bayimu?" Tanya Arvina semangat.
"Syukurlah. Apa kau memberitahu Ken akan hal ini?" Tanya Arvina dengan berhati-hati.
"Aku sudah memberitahunya. Dan dia senang juga, tapi dia tidak bisa banyak bicara kemarin karena Elviana selalu mengekorinya." Jawab Hansen.
Arvina mengangguk paham.
"Syukurlah, jika pada akhirnya semua bisa berdamai." Gumam Arvina lega.
Huekkk....huekkk....
Dave tiba-tiba saja sudah berdiri menghadap wastafel dan muntah lagi.
"Dave? Astaga, kau kenapa?" Tanya Arvina panik dan menghampiri suaminya.
Dave melambaikan tangannya sebagai jawaban ia tidak apa-apa.
"Aku sudah tidak mual dan muntah meski masih selalu berbagi makanan dengan istriku. Rasakan apa yang aku rasakan selama beberapa bulan ini, Dave." Gumam Drick tersenyum jahil.
"Apa Vina hamil?" Tanya Hansen berbisik pada Arzena.
"Aku juga tidak tahu. Tapi kenapa yang muntah hanya Dave saja?" Tanya Arzena bingung.
Keempat orang itu saling menatap.
"Vina, apa tidak sebaiknya panggil dokter saja? Atau biar aku periksa suamimu!" Usul Hansen.
__ADS_1
"Tidak perlu! Suamiku bilang tidak apa-apa ya berarti memamg tidak apa-apa!" Jawab Arvina ketus.
Arvina membantu Dave untuk duduk kembali di tempatnya.
"Sayang, mau makan lagi?" Tanya Arvina perhatian.
Dave menggeleng dan menghabiskan sisa air dalam gelasnya.
"Kenapa kalian melihat suamiku seperti itu?" Tanya Arvina kesal pada Hansen dan Drick.
"Cih..kenapa jadi posesif begitu?" Batin Drick terkekeh.
"Sudah waktunya aku dan Raina pulang. Kalian lanjutkan saja kegiatan kalian." Ucap Drick dan tanpa menunggu langsung menuntun Raina berdiri dan keluar meninggalkan mansion Dave.
"Twins, aku dan Hans juga harus pulang sekarang. Kau tidak apa-apa kan kami tinggal?" Tanya Arzena dengan berhati-hati.
"Tidak. Kalian hati-hati di jalan." Jawab Arvina sambil memijit pelan pelipis Dave sedangkan Dave sedang memejamkan matanya karena lemas setelah muntah tadi.
"Ayo, aku bantu kau ke kamar dan istirahat." Ajak Arvina kemudian membantu Dave berdiri dan berjalan menuju ke kamar mereka.
Arvina membantu Dave berbaring dengan hati-hati.
"Kau istirahat saja! Aku akan menjagamu!" Ucap Arvina duduk di samping Dave.
"Tidak perlu. Kau bisa bosan nanti." Tolak Dave secara halus.
"Jangan menolak sayang, atau aku akan benar-benar tidak peduli padamu nanti!" Ancam Arvina sambil mengelus rambut Dave.
"Kenapa pagi ini kau terasa aneh? Tidak seperti biasanya?" Tanya Dave dengan berhati-hati.
"Entahlah. Aku hanya ingin dekat terus denganmu." Jawab Arvina santai.
"Aneh. Tidak seperti biasanya. Aku juga tiba-tiba muntah dan sudah dua kali. Istriku tiba-tiba menjadi posesif seperti ini. Apa dunia sedang mengalami pubertas hingga sifat manusia juga berubah?" Batin Dave bertanya-tanya.
"Dave, aku ingin memeriksa kondisi rahimku besok. Aku penasaran, apa kita sudah berhasil atau masih harus berusaha lagi " Pinta Arvina malu-malu.
"Kita akan pergi besok. Tapi aku tidak akan bosan jika harus berusaha terus." Sahut Dave tersenyum nakal.
"Kau ini nakal sekali!" Ucap Arvina memukul pelan dada bidang Dave.
Dave tertawa kecil melihat wajah malu-malu istrinya yang begitu menggemaskan.
"Sudah, kau istirahat saja!" Titah Arvina lembut.
Dave menurut.
"I love you, Dave." Bisik Arvina mengecup kening suaminya.
"I love you more, my wife." Balas Dave lembut.
...~ TO BE CONTINUE ~...
######
Sepertinya sebentar lagi bakal end nih cerita Dave dan Arvina..😊
__ADS_1
Maaf kalo part ini sedikit mengecewakan..❤