
"Tuan, ada yang bisa aku bantu?" Tanya Amy saat melihat Dave sedang sibuk didapur.
"Tidak!" Jawab Dave datar dan Amy pun pergi dari hadapan Dave.
Dave tadi memutuskan untuk membuat sedikit makanan untuk Arvina saat Arvina sudah tertidur pulas.
"Kenapa wanita itu belum juga menampakkan diri?" Batin Dave penasaran pada Arzena.
Saat ini mungkin hanya kata-kata Arzena yang bisa ia andalkan.
"Tapi jika memang terbukti aku yang sudah salah pada Arvina, bagaimana aku bisa menebus kesalahan ku padanya?" Gumam Dave.
Perasaannya benar-benar berkecamuk saat ini.
"Sudahlah, yang terpenting sekarang aku harus membujuk Arvina makan dulu." Gumam Dave lalu membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman hangat yang sudah ia buat tadi.
Saat baru selesai membuka pintu dengan bersusah-payah dan masuk kedalam kamarnya, ia melihat Arvina sedang duduk meringkuk dengan memeluk tubuhnya sendiri.
Sesekali ia menggosok telapak tangannya pada tubuhnya, ia juga tampak gelisah.
Dave jelas tahu apa yang terjadi padanya. Arvina sedang membutuhkan Devil akibat ulah Dave tadi malam.
Dave berinisiatif mengambil sebatang jarum suntik dan hendak menyuntikkan pada Arvina, namun sekuat tenaga Arvina menepis nya.
"Jauhkan barang sialan itu dari ku!" Titah Arvina geram.
Arvina memutuskan untuk turun dari atas ranjang dan berlari masuk kedalam kamat mandi serta mengunci pintu kamar mandi dari dalam.
"Arvina, buka pintunya! Kau butuh suntikan ini." Titah Dave sambil menggedor pintu kamar mandi.
"Lebih baik aku mati! Lebih baik aku mati daripada harus kecanduan obat sialan itu." Teriak Arvina dari dalam kamar mandi.
Arvina memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower.
"Kau boleh menyiksaku Dave, tapi jangan membuatku semakin buruk dengan memberi obat haram itu padaku." Ucap Arvina lemah namun pendengaran tajam Dave dapat mendengar semuanya.
Arvina menangis menahan semuanya dibawah guyuran air shower yang dingin hingga ia semakin lemah.
Dave mencoba mencari kunci kamar mandi namun entah dimana ia menyimpannya, hingga akhirnya ia memilih mendobrak pintu kamar mandi nya.
BRUUAKK
Dengan dua kali tendangan, Dave berhasil merusak pintu kamar mandi nya.
__ADS_1
Dave mematikan air shower nya, lalu mengangkat tubuh Arvina keluar dari kamar mandi.
Ia menarik selimut untuk membungkus tubuh Arvina lalu segera membawa Arvina untuk pergi kerumah sakit.
"Kenapa kau bodoh sekali? Apa susahnya menerima suntikan itu?" Gumam Dave kesal sambil memukuli setir mobilnya.
Tak lama ia pun sampai dirumah sakit.
Dave segera menggendong Arvina keluar dari mobilnya dan membawanya ke ruang UGD.
Dokter yang memang mengenalnya pun segera menangani Arvina.
"Bodoh! Kau bodoh Dave!" Maki Dave pada dirinya sendiri namun ia tidak tahu untuk apa ia memaki dirinya.
Tak lama dokter yang menangani Arvina pun keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana?" Tanya Dave panik.
"Kekasihmu terkontaminasi zat adiktif berbahaya, namun kadarnya masih rendah. Aku akan memindahkan nya ke ruang inap dan menggunakan penghangat ruangan agar racun tersebut keluar dari tubuhnya melalui keringatnya." Jelas dokter tersebut.
Dave mengangguk paham.
"Dan satu lagi, kekasihmu sedang dalam kondisi mental yang sangat lemah. Sepertinya dia sedang stress berat dan selalu menyebut kedua orang tuanya. Usahakan jangan sampai membuatnya tertekan, atau kejiwaannya bisa terganggu." Jelas dokter itu lagi, kemudian ia pun pamit dari hadapan Dave untuk mengurus Arvina lagi.
Hati Dave terasa sakit saat melihat perempuan yang ia cintai terkulai lemah akibat perbuatannya.
Dave memilih mengikuti dokter tersebut kemana mereka akan membawa Arvina.
"Semua prosesnya sudah selesai. Namun Tuan diharapkan untuk tidak masuk dulu agar semuanya bekerja dengan baik." Ucap dokter tersebut.
"Berapa lama aku harus menunggu?" Tanya Dave gelisah.
"Satu jam." Jawab dokter tersebut tegas dan kemudian pergi meninggalkan Dave, kedua perawat itu juga ikut bersamanya.
Dave akhirnya mau tak mau harus menunggu diluar ruangan.
Ia menunggu dengan hati yang gelisah dan juga mondar-mandir tak karuan.
"Jangan sampai kau kenapa-kenapa Arvina atau aku akan menyesal seumur hidupku." Gumam Dave.
Satu jam telah berlalu, dokter tadi kembali lagi dan langsung masuk kedalam ruangan Arvina.
Dave kembali harus menunggu diluar ruangan dengan suasana hati tak menentu.
__ADS_1
"Tuan Dave." Tegur dokter tersebut keluar dari ruangan Arvina.
"Bagaimana?" Tanya Dave cemas.
"Proses pembuangan racun sudah selesai, semoga saja racun yang ada ditubuh kekasihmu sudah benar-benar keluar sepenuhnya. Dan kekasihmu juga sudah siuman." Ucap dokter tersebut lalu pamit pergi.
Setelah dokter tersebut pergi, Dave masuk kedalam ruangan Arvina.
Arvina memang sudah sadar dan duduk bersandar di kepala ranjangnya, namun ia enggan menatap Dave, ia membuang muka kearah berlawanan dengan Dave.
"Sayang." Lirih Dave menyentuh puncak kepala Arvina.
"Pergilah! Tinggalkan aku sendiri!" Titah Arvina pelan.
"Tidak! Aku tidak akan pergi." Ucap Dave.
Arvina hendak meraih telepon yang memang terpasang di dalam ruangan nya, namun Dave segera mencegahnya.
"Apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin mengadu atau melapor pada keluarga mu? Atau pada Derex Austin, paman mu?" Tanya Dave mulai emosi.
Arvina hanya diam namun ia tidak takut sedikitpun untuk menatap mata Dave.
"Jangan pernah berpikir untuk melapor, atau aku bisa menghabisi kembaranmu dan pria lemah itu!" Ancam Dave.
Arvina tersenyum sinis.
"Apa sekarang kau selemah itu sampai harus mengancam ku? Habisi saja Dave, habisi semuanya. Habisi aku juga agat kau puas, agar kau senang. Memang niatmu adalah menghancurkan hidupku kan? Kau sudah berhasil Dave, kau berhasil menghancurkan hidupku. Mana kata cinta yang kau gembar-gembor kan pada ku? Semua hanya kebohongan agar bisa memanfaatkan ku. Aku benci padamu!" Teriak Arvina histeris.
Dave sigap memeluk Arvina.
"Aku benci padamu! Aku benci!" Ucap Arvina memukul perut Dave berulang kali.
Dave semakin merasa bersalah dan semakin merasa ia sudah salah menuduh Arvina.
"Seharusnya dari awal aku tidak pernah percaya padamu. Seharusnya dari awal aku tidak pernah mencoba belajar mencintaimu, jadi rasa sakit ini tidak akan sedalam ini." Ucap Arvina terisak.
"Tidak Arvina, kau harus mencintaiku bagaimanapun caranya! Tidak ada kata penyesalan lagi untukmu!" Tegas Dave masih memeluk Arvina.
"Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi?" Gumam Dave.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#####
__ADS_1
Isi bab ini hanya pemikiran ku sendiri..tidak ada kaitannya dengan proses atau terapi pengobatan manapun..jadi bagi yang mengerti medis harap tidak mencemooh diriku..🙏