
"Kau?" Tanya Dave mengeratkan rahangnya.
"Apa kabarmu Dave? Mommy merindukanmu." Tanya Rexa hendak mendekati Dave dan ingin memeluknya.
"Tetap di sana! Jangan coba-coba untuk mendekatiku!" Titah Dave dingin.
"Dave, Mommy merindukanmu." Ucap Rexa kembali ingin mendekati Dave namun Dave memilih mundur.
Arvina yang sedari tadi sedikit jauh di belakang Dave pun hanya bingung mendengar obrolan Dave dan wanita di depan mereka.
"Merindukanku? Apa kau pernah menganggapku ada? APA KALIAN MENGANGGAPKU ADA?" Tanya Dave dengan meninggikan suaranya.
Rexa tersentak dan memejamkan matanya.
"Dua puluh dua tahun aku hidup sendiri dan hanya dibesarkan oleh uncle. Dan sekarang kau tiba-tiba datang dan mengaku sebagai Ibuku? Kau juga bilang merindukanku? Apa aku harus percaya?" Rentetan pertanyaan Dave lontarkan kepada Rexa yang memang adalah Ibu kandungnya.
"Dave, Mommy punya alasannya ... "
"CUKUP! JANGAN PERNAH MENYEBUT KATA MOMMY DI DEPANKU UNTUK DIRIMU! KAU TIDAK LAYAK UNTUK AKU PANGGIL SEBAGAI MOMMY. KATAKAN APA MAUMU SEBENARNYA!" Bentak Dave lagi.
Arvina hanya diam, ia merasa bukan saat yang tepat jika ingin memotong atau membela siapapun.
"Daddy mu sedang sakit dan dia ingin bertemu denganmu." Pinta Rexa terisak.
"PERSETAN DENGAN SIAPA YANG SAKIT!" Dave kembali membentak dan langsung berlalu naik ke ruang kerjanya.
BOOMM
Dave menutup pintu ruangan kerjanya dengan sangat kuat hingga Rexa dan Arvina sama-sama tersentak.
Rexa semakin terisak.
Arvina mendekati Rexa dan mencoba menenangkan Rexa.
"Aunty, sebaiknya aunty pulanglah dulu. Biar aku coba bicara pada Dave." Bujuk Arvina memberikan pelukan hangat kepada Rexa.
"Kau pasti istrinya Dave. Matamu sangat indah seperti seorang wanita di masa laluku. Apakah putraku selalu merepotkan mu?" Tanya Rexa mencoba tersenyum setelah Arvina melepaskan pelukannya.
"Tidak. Dave sangat baik dan mencintaiku. Sebaiknya aunty pulanglah dulu dan tenangkan dirimu. Aku akan coba bicara pada Dave." Ucap Arvina lembut dan sopan.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Semoga saja Dave bisa mendengarmu." Ucap Rexa.
"Semoga uncle cepat sembuh." Ucap Arvina lalu Rexa pun meninggalkan kediaman Dave.
Setelah Rexa pergi, Arvina langsung menuju ke ruangan kerja Dave.
BRANGG BRANGG
Terdengar suara keras seperti barang-barang yang jatuh dan pecah.
"Dave?" Panggil Arvina sambil membuka pintu.
__ADS_1
Ruang kerja Dave menjadi sangat berantakan, vas mau gucci antiknya pecah dan berserakan di lantai.
"Astaga, Dave.." Arvina panik dan langsung menghampiri Dave yang terduduk di lantai dengan tangan berdarah.
"Kau kenapa?" Tanya Arvina khawatir dan mengambil tissue untuk menahan darah dari tangan Dave.
"Tunggu sebentar! Aku ambilkan kotak obat." Titah Arvina hendak berdiri namun Dave langsung menariknya dan memeluknya erat.
"Jangan! Jangan minta aku untuk memaafkan mereka! Aku tidak bisa!" Pinta Dave dengan suara terluka.
"Tenanglah Dave.." Arvina mengusap lembut punggung suaminya.
Dave menangis terluka.
"Hei. biarkan aku obati lukamu dulu!" Pinta Arvina mencoba melepaskan pelukannya namun Dave enggan.
"Luka di tanganku tidak seberapa dibandingkan luka yang mereka torehkan seumur hidupku." Ucap Dave semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang, tenanglah! Aku ada untukmu." Bujuk Arvina lagi.
Keduanya kemudian hening sejenak, hingga Dave melepaskan pelukannya karena sudah merasa sedikit lebih baik.
"Jangan bersedih lagi. Semua akan baik-baik saja." Ucap Arvina menghapus air mata suaminya dan memberikan kecupan manis di kening Dave.
"Ayo.." Arvina menuntun Dave berdiri dan membawanya duduk di sofa.
Arvina segera mencari kotak obat dan setelah dapat, ia segera mengobati luka di tangan Dave.
"Sudah beres." Arvina menyusun kembali semua obat dan peralatan yang tadi ia gunakan ke dalam kotak obat dan menyimpannya kembali pada tempatnya.
Arvina kembali duduk di samping Dave.
"Apa mau cerita sesuatu?" Tanya Arvina lembut dan memeluk Dave dari samping.
Dave hanya diam.
"Aku tidak akan memintamu untuk memaafkan mereka jika kau merasa mereka tidak pantas. Tapi ingat satu hal sayang, setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Entah itu kesalahan jangka panjang atau pendek. Setiap orang jug bisa berubah dan mereka punya alasan sendiri." Ucap Arvina mencoba memberi pengertian kepada Dave tanpa harus memaksa Dave untuk memaafkan Rexa.
Dave masih diam dan merasakan hangatnya pelukan istrinya.
"Bayi besar, katakan sesuatu! Jangan membuatku merasa seolah aku ini berbicara kepada batu!" Ketus Arvina memukul pelan perut Dave.
Dave tersenyum kecil.
"Kenapa kau memiliki hati yang begitu besar untuk semua orang?" Tanya Dave menatap wajah Arvina yang kini juga menatapnya.
"Mommy mengajarkanku agar tidak menyimpan dendam." Jawab Arvina santai.
"Ya sudah terserah mu saja." Ucap Dave mengecup puncak kepala istrinya.
"Mau menceritakan sesuatu?" Tawar Arvina lagi.
__ADS_1
"Ceritaku singkat sayang. Sejak dilahirkan sampai bisa seperti hari ini, hanya pamanku yang ada untukku. Pamanku segalanya bagiku. Dia Ibu dan juga Ayah untukku. Dan selama dua puluh dua tahun aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua kandungku. Itu saja." Ucap Dave dengan tatapan tajamnya.
"Ya sudah, jangan bersedih lagi. Apapun keputusan yang kau ambil, aku ada untukmu." Ucap Arvina mengelus lembut rahang kokoh suaminya yang kini sedikit berbulu.
"Kau diam di sini! Biar aku bersihkan ruanganmu ini. Berantakan sekali." Arvina berpura-pura mengoceh.
Arvina kemudian keluar dari ruangan itu dan hendak mengambil peralatan untuk membersihkan ruangan kerja Dave.
Langkah Arvina terhenti saat melihat keberadaan Keanu tak jauh dari pintu utama rumahnya dan sedang berbicara melalui telepon.
Arvina mencoba mendekat dan ingin mendengar apa yang Keanu bicarakan.
"Jadi benar dugaanku kalau Ken dan Dave adalah saudara tiri?" Tanya Keanu memastikan.
" ... "
"Baiklah! Terima kasih atas bantuanmu. Lain kali aku traktir kau makan." Ucap Keanu langsung mematikan panggilannya.
"Kenapa jadi rumit seperti ini? Bagaimana mereka bisa saling menerima?" Gumam Keanu memijat kepalanya yang terasa pusing secara tiba-tiba.
"Apa yang uncle katakan? Ken dan Dave adalah saudara tiri?" Tanya Arvina mendekati Keanu.
"Vina? Kau mendengar semuanya?" Tanya Keanu sedikit terkejut.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi uncle? Bagaimana bisa Ken dan Dave adalah saudara?" Tanya Arvina balik.
"Uncle tidak tahu persis yang terjadi. Tapi dari hasil penyelidikan yang uncle dapat memang seperti itu. Mereka saudara tiri dengan beda Ayah." Jelas Keanu sesuai yang ia tahu.
"Beda Ayah? Apa maksudmu beda Ayah?" Tanya Ken tiba-tiba.
Ken turun dengan tergesa-gesa dan menghampiri Keanu dan Arvina.
"Apa maksudmu aku dan bajingan itu adalah saudara?" Bentak Ken kepada Keanu dan mencengkram kerah baju Keanu.
"Ken, dengarkan aku dulu! Jangan menggila seperti ini!" Bentak Keanu melepaskan kasar tangan Ken.
"Sial! Sampai matipun aku tidak akan terima kenyataan ini. Lebih baik aku mati tanpa memiliki siapapun daripada aku harus mempunyai saudara seorang iblis seperti itu." Bentak Ken dan langsung berlari keluar dari mansion Dave.
"Ken..tunggu..kau mau kemana? Kau masih sakit.." Teriak Arvina mencoba menghentikan Ken namun sia-sia.
Ken tidak ingin mendengar apapun dan siapapun.
"Astaga..kenapa jadi rumit seperti ini?" Gumam Arvina mengacak rambutnya.
"Biarkan dia tenang dulu! Tenang saja, dia akan aman. Uncle sudah memasang alat pelacak di dalam tasnya." Jelas Keanu membujuk Arvina.
Arvina hanya mengangguk.
"Ya sudah, uncle pamit dulu. Tadinya uncle hanya ingin melihat keadaanmu." Ucap Keanu lalu beranjak pergi setelah mendapat anggukan dari Arvina.
"Ken dan Dave adalah saudara tiri? Bagaimana bisa?" Gumam Arvina masih merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...